Halaman Utama  -  Tentang Kami  -  Misi & Visi
 
Misi Budaya Kemanusiaan
Menyucikan Hati Manusia

Menebar bibit cinta kasih ke seluruh penjuru dunia,
Menjaga agar manusia terjaga kemurniannya, Membentuk dunia yang penuh cinta kasih.

Semangat Menyucikan Hati Manusia
Misi ke-4 Tzu Chi, yaitu budaya kemanusiaan, bertujuan untuk membangun sebuah dunia yang lebih baik. Misi ini diwujudkan dengan menebarkan benih-benih cinta kasih ke seluruh dunia karena hanya cinta kasihlah yang dapat menyucikan hati manusia. Master Cheng Yen pernah menyatakan, “Lahan batin manusia bagaikan sepetak sawah, bila tidak ditanami dengan bibit yang baik, tentu tidak bisa menuai hasil yang baik.”

Keterangan Gambar: Tak semua orang berkesempatan berbuat baik sehingga ketika memiliki kesempatan itu, kita harus berterima kasih kepada penerima bantuan.

Budaya kemanusiaan (ren wen) yang dikembangkan Tzu Chi mengutamakan hubungan antarmanusia. Ren berarti orang yang menjadi teladan bagi manusia lain. Sedang wen berarti mencatat sejarah yang suci, baik, dan indah. Perjalanan kehidupan harus direkam sebagai jejak sejarah agar menjadi saksi zaman. Keindahan yang hendak diwariskan untuk diteladani adalah kehidupan yang penuh dengan cinta kasih.

Dewasa ini, tak ada cara lain yang lebih efektif untuk merekam jejak Tzu Chi dan menebarkan cinta kasih selain menggunakan media massa. Kemampuannya untuk menjangkau berbagai lapisan masyarakat adalah alasan utamanya. Karena itu, apabila dikelola dengan benar sesuai fungsinya, media massa akan menjadi alat yang paling efektif dalam menyebarkan kebenaran, kebajikan, dan cinta kasih dari setiap manusia.

Ada tiga prinsip dasar budaya kemanusiaan yang dikembangkan Tzu Chi, yaitu: bersyukur (gan en), menghormati (zhun zhong), dan kasih sayang (ai).

1. Bersyukur (Gan En)
Ada satu kebiasaan yang tidak lazim di Tzu Chi, yaitu: setelah kita memberi, justru kitalah yang harus mengucapkan terima kasih. Yang lazim tentu saja penerima bantuan yang mengucapkan terima kasih, tapi tidak di Tzu Chi. Karenanya banyak penerima bantuan yang justru menjadi salah tingkah karenanya.

Kenapa kita yang harus berterima kasih? Dengan kita bisa memberi, berarti kita mendapat kesempatan untuk berbuat kebajikan. Bukan hanya itu, ucapan terima kasih juga merupakan pengingat bagi kita bahwa kita harus bersyukur atas semua berkah dan keadaan baik yang kita nikmati. Kita juga harus bersyukur karena tidak semua orang memiliki kesempatan untuk berbuat baik sehingga ketika memiliki kesempatan itu, kita harus berterima kasih kepada penerima bantuan.

2. Menghormati (Zhun Zhong)
Apapun yang kita miliki di dunia, tidak ada yang abadi. Karenanya, manusia harus saling menghargai antarsesama tanpa membedakan agama, ras, status sosial, pendidikan, dan jabatan. Asalkan itu sebuah kehidupan, semuanya harus dihargai dan diperhatikan. Insan Tzu Chi bertutur kata dengan kata yang baik, berpikir dengan niat yang baik, dan melakukan hal-hal yang baik.

Dalam memberikan bantuan, Tzu Chi memberikan apa yang paling dibutuhkan dan selalu memberikan yang terbaik. Bahkan Master Cheng Yen selalu mengingatkan bahwa barang yang diberikan kepada penerima bantuan, haruslah jenis bantuan yang kita sendiri juga menginginkannya. Misalnya, bantuan rumah haruslah rumah yang kita juga mau untuk menempatinya.

Keterangan Gambar: Penerima bantuan adalah juga manusia yang harus dihormati sehingga harus diperlakukan dengan penuh cinta kasih.

3. Kasih Sayang (Ai)
Kasih sayang tidak bisa dilihat ataupun diukur, hanya bisa dirasakan. Kasih sayang tidak didapat dengan memohon pada orang lain, melainkan diperoleh dari sumbangsih yang diberikan. Kasih sayang tidak akan pernah habis meski terus diberikan kepada orang lain, justru sebaliknya akan semakin besar, dan kasih sayang yang kita terima dari orang lain pun juga semakin besar.

Media Cinta Kasih
Jejak sejarah tentang indahnya cinta kasih Tzu Chi direkam melalui media massa untuk disampaikan kepada dunia dan diwariskan kepada generasi penerus untuk bersama-sama membentuk sebuah dunia yang lebih indah.

Majalah bulanan Tzu Chi pertama kali terbit di Taiwan pada bulan Juli 1967 dan bertujuan untuk memberitakan kebaikan pada umat manusia. Di luar Taiwan, majalah Tzu Chi diterbitkan di Amerika Serikat, Kanada, Australia, Brazil, Hongkong, Afrika Selatan, Singapura, Filipina, Jepang, Malaysia, Argentina, dan Indonesia.

Di Indonesia, tabloid dua bulanan Dunia Tzu Chi terbit sejak Mei 2000. Mulai tahun 2005, tabloid berubah bentuk menjadi majalah tiga bulanan Dunia Tzu Chi, dan ditambah penerbitan buletin bulanan Tzu Chi. Untuk mendukung berbagai kegiatan, kadang juga diterbitkan poster dan brosur sebagai materi pendukung. Di samping itu juga diterbitkan buku-buku terjemahan. Melalui media ini, para pembaca dapat mengetahui kegiatan Tzu Chi serta menangkap pesan-pesan cinta kasih yang disebarkannya.

Tahun 2005, dua orang jurnalis Tzu Chi Indonesia masuk nominasi kategori ‘Berita Internasional’ dari The Foundation of Excellent Journalism Award 2005 (FEJA) Taiwan berkat artikel tentang bencana tsunami yang melanda Aceh dan dimuat di majalah Tzu Chi Monthly Taiwan.

Keterangan Gambar: Beragam produk media cetak, seperti majalah dan buletin, diterbitkan untuk merekam jejak sejarah dan menebar nilai-nilai cinta kasih ke masyarakat.

Jing-Si Books & Cafe
Jika ingin mengenal filosofi Tzu Chi lebih jauh dengan lebih nyaman dan menyenangkan, jangan lupakan Jing-Si Books & Cafe. Di sana tersedia koleksi buku dan majalah terbitan Tzu Chi. Sesuai arti katanya, Jing-si yang berarti Griya Perenungan, dimaksudkan agar toko buku ini dapat berfungsi sebagai tempat pengisian dan perkembangan rohani bagi seluruh insan Tzu Chi.

Suasana toko buku dibuat senyaman mungkin agar pengunjung dapat saling berinteraksi dan berkomunikasi. Selain itu, para pengunjung juga dapat menikmati secangkir kopi atau teh sambil membaca koleksi buku yang tersedia dengan bebas.

Semua toko buku Jing-Si di seluruh dunia memiliki keseragaman dalam konsep, filosofi, sasaran, ataupun barang yang dijual. Di Indonesia, toko buku ini terletak di Jalan Pluit Permai Raya No.20, Jakarta Utara. Indonesia adalah negara ketiga di luar Taiwan yang membangun Jing-Si Books & Cafe, setelah Malaysia dan Singapura.

Keterangan Gambar: Salah satu media yang dipergunakan untuk menebar cinta kasih dan memeperkenalkan Tzu Chi lebih jauh adalah melalui buku yang dapat dijangkau semua orang.

Tzu Chi di Dunia Maya
Manusia zaman ini adalah manusia yang dituntut serba cepat, terlebih dalam hal informasi. Manusia membutuhkan informasi yang serba cepat dan dapat diakses kapan saja dan di mana saja. Itu semua terjawab dengan keberadaan internet. Tzu Chi pun berkepentingan untuk menyampaikan semua informasi terbaru kepada semua orang secepat mungkin dan semudah mungkin diakses, karenanya Tzu Chi juga memiliki jaringan di dunia maya dengan meluncurkan website www.tzuchi.com yang berbahasa Inggris yang memiliki link ke website-website Tzu Chi lainnya dalam berbagai bahasa.

Tzu Chi Indonesia juga memiliki website tersendiri yang diluncurkan sejak April 2005. Semua informasi tersebut dapat diakses melalui www.tzuchi.or.id. Tidak hanya berita-berita mengenai kegiatan Tzu Chi yang dapat dilihat, namun juga ada inspirasi kata perenungan Master Cheng Yen, resep vegetarian, lagu-lagu Tzu Chi, bahkan informasi dari kantor-kantor penghubung, cara menjadi sukarelawan, dan cara berdonasi. Dengan motto ’Setiap Detik Berjuang demi Kebaikan’, website ini menjadi media Tzu Chi untuk menebarkan cinta kasihnya melewati batas jarak dan waktu.

Keterangan Gambar: Untuk akses informasi yang lebih cepat dan menjangkau seluruh dunia, Tzu Chi juga meluncurkan website dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia.

Membawa Kebaikan dalam Masyarakat Melalui Da Ai TV
Jika ingin mengetahui gambaran tentang suatu masyarakat di suatu zaman, maka lihatlah media massa di zaman itu.

Selain untuk menebarkan benih cinta kasih, Tzu Chi juga ingin mengabadikan sejarah yang dimilikinya dan menjadi saksi kejadian di suatu zaman. Karenanya, pada awal tahun 1998, stasiun televisi Da Ai milik Tzu Chi mulai mengudara di Taiwan. Bahkan, sejak Oktober 1999, stasiun televisi ini telah menggunakan sistem penyiaran satelit sehingga siarannya dapat diterima di seluruh dunia. Selain program berita, Da Ai TV juga memproduksi drama berdasarkan kisah nyata, film kartun, acara dialog, program anak-anak, program kesehatan, dan program-program lain yang mengandung nilai kebajikan. Semua tayangan Da Ai TV terbebas dari unsur kekerasan, pornografi, atau tayangan yang bersifat membodohi penonton. Hanya tayangan yang mengajarkan tentang kebajikan dan cinta kasih yang ditayangkan di Da Ai TV.

Berkat konsistensinya pada visi dan misinya, pada Desember 2001, Da Ai TV memperoleh penghargaan dari Direktorat Penerangan Taiwan sebagai ‘Saluran Televisi Satelit Terbaik’. Hingga kini, Da Ai TV tidak hanya berperan sebagai media yang menyebarkan semangat kebajikan, namun juga diharapkan dapat menjadi pemicu untuk media lainnya dalam menyebarkan kebajikan.

Keterangan Gambar: Dari Guan Du, Taiwan, DAAI TV menebarkan cinta kasih ke seluruh dunia melalui sajian yang tidak hanya menghibur, tapi edukatif.

Isyarat Tangan
Suatu ketika, saat Master Cheng Yen mengunjungi sebuah keluarga yang anaknya menderita tuna rungu. Beliau merasa sangat tersentuh dengan kondisi anak tersebut yang tidak dapat mendengar dan berbicara. Padahal, beliau sangat ingin berkomunikasi dengannya. Satu-satunya cara adalah dengan menggunakan bahasa isyarat. Namun beliau tidak bisa bahasa isyarat.

Sejak itu, Master Cheng Yen selalu menghimbau kepada para muridnya untuk belajar bahasa isyarat tangan. Tidak hanya untuk berkomunikasi, tapi sekaligus menyelami dunia para penderita tuna rungu. Bahasa isyarat tangan merupakan suatu bahasa yang bersifat universal.

Dalam perkembangannya kemudian, lahir suatu kesenian baru berupa penampilan isyarat tangan yang diiringi lagu-lagu Tzu Chi. Kesenian ini digemari oleh relawan, dan jika dibawakan sepenuh hati dapat menciptakan suasana yang indah dan syahdu. Bahasa isyarat juga merupakan sarana untuk meningkatkan kepercayaan diri, menghilangkan keangkuhan, serta membentuk sifat rendah hati.

Hingga kini, sudah menjadi kebiasaan di setiap acara Tzu Chi selalu terdapat pertunjukan bahasa isyarat tangan. Para relawan pun selalu berlatih untuk membawakannya dengan indah. Untuk membawakan bahasa isyarat dengan baik, sebelumnya insan Tzu Chi harus dapat merasakan makna yang dikandung syair-syair lagu agar tercipta kesatuan antara lagu dan gerakan.

Keterangan Gambar: Bahasa cinta kasih adalah bahasa universal sehingga bisa disampaikan kepada siapa saja, termasuk melalui isyarat tangan.

Pelatihan Relawan
Untuk menyucikan hati manusia, tidak dapat dilakukan hanya oleh segelintir orang. Peran setiap orang dalam menyebarkan cinta kasih, baik besar maupun kecil, sangat penting. Karenanya, Tzu Chi merangkul insan-insan yang ingin turut serta menyebarkan kebajikan.

Pewarisan nilai-nilai cinta kasih dari satu generasi ke generasi merupakan hal yang sangat penting, agar semakin kuat, berakar, dan tetap berada pada jalurnya semula. Pelatihan bagi para relawan pun dilakukan secara terus-menerus. Bagi relawan baru, pelatihan dilakukan untuk memperkenalkan prinsip-prinsip dasar budaya kemanusiaan, yaitu Bersyukur (Gan En), Menghormati (Zhun Zhong), dan Kasih Sayang (Ai). Sedangkan bagi relawan lama, pelatihan ditujukan agar mereka lebih mendalami nilai-nilai cinta kasih yang dimiliki Tzu Chi dan menerapkannya selama menjalankan kegiatan Tzu Chi.

Keterangan Gambar: Pelatihan diadakan untuk memberi bekal bagi para relawan dalam menjalankan misi amal Tzu Chi.

 
 
Tentang Kami
 Tentang Tzu Chi 
 Pendiri 
 Sejarah 
 Kantor Penghubung 
 Misi & Visi 
 Amal 
 Kesehatan 
 Pendidikan 
 Budaya Kemanusiaan 
 Pelestarian Lingkungan
 Donor Sumsum 
 Relawan Komunitas 
 Bantuan Internasional