Halaman Utama  -  Tentang Kami  -  Misi & Visi
 
Misi Kesehatan
 
Menghargai Jiwa Manusia

Pada saat kita jatuh sakit,
Siapa yang bisa merawat kita dengan kelembutan?
Di waktu kita menderita cacat,
Siapa yang dapat menerima kita dengan penuh keyakinan?

Penyakit adalah Sumber Kemiskinan
Harta paling berharga bagi setiap orang adalah kesehatan, namun tidak sedikit orang yang terpaksa lebih memilih mengorbankan kesehatan dirinya karena jerat kemiskinan menyebabkan mereka tidak memiliki biaya untuk berobat.

Ketika Master Cheng Yen mendirikan Tzu Chi, beliau ingin menghapus kemiskinan, namun beliau tidak tahu harus memakan waktu berapa lama untuk melakukannya karena kemiskinan baru akan selalu muncul. Tapi satu hal yang beliau sadari, menderita penyakit adalah sumber dari kemiskinan. Orang yang menderita penyakit tidak mampu mencari nafkah, begitu juga orang yang kaya pun bisa jatuh miskin apabila digerogoti penyakit.

Keterangan Gambar: Kesehatan adalah harta manusia yang paling berharga.

Jika ingin menghapus kemiskinan, hal pertama yang harus ditempuh adalah mengobati penyakit. Berawal dari pemikiran inilah misi kesehatan dijalankan dengan membantu pengobatan orang-orang yang tidak mampu melalui baksos kesehatan secara massal maupun memberi bantuan khusus kepada pasien tertentu. Langkah besar pertama Tzu Chi dalam misi kesehatan dimulai dengan membangun Rumah Sakit Tzu Chi di Hualien pada tanggal 5 Februari 1984.

Dalam setiap pemberian bantuan kesehatan, Tzu Chi tidak hanya mengobati penyakit fisik, namun juga memperhatikan aspek psikologisnya. Sebuah penelitian menyebutkan, kesembuhan penyakit 70% ditentukan oleh kondisi psikologisnya, sedangkan bantuan medis hanya berperan sebesar 30%. Sentuhan hangat penuh cinta kasih adalah obat yang paling mujarab bagi orang yang sedang sakit.

Misi kesehatan merupakan salah satu misi yang berkembang paling pesat di berbagai negara bersama misi amal, dibandingkan misi lain. Begitu pula di Indonesia. Misi kesehatan di Indonesia dimulai dari Tangerang, Banten pada tahun 1995. Waktu itu di dua desa, Kiara Payung dan Gaga, ditemukan sejumlah penderita tuberkulosis (TBC). Tzu Chi bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Tangerang menjalankan program pemberantasan TBC di kedua desa tersebut.

Bakti Sosial Kesehatan Skala Besar
Pasien yang dibantu Tzu Chi kian bertambah sehingga diadakan baksos kesehatan dalam skala yang lebih besar. Rumah Sakit Paramita, Tangerang, Banten, menjadi tempat baksos skala besar Tzu Chi yang pertama pada tanggal 18-21 Maret 1999. Sejak itu lokasi baksos berpindah-pindah dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain sebelum akhirnya Tzu Chi memiliki poliklinik sendiri. Mulai baksos kesehatan ke-13 pada tanggal 11-12 Oktober 2003 dan selanjutnya, baksos kesehatan dilakukan di Poliklinik Cinta Kasih Tzu Chi, Cengkareng, Jakarta Barat.

Hingga baksos ke-37, tanggal 2-3 September 2006 di RS Dr Suyoto Bintaro, Jakarta Selatan, pasien yang telah diobati dalam baksos skala besar telah berjumlah lebih dari 50 ribu orang. Penyakit yang mereka idap bermacam-macam, meliputi: bibir sumbing, katarak, entropion, pterygium, tumor, benjolan, gondok, hernia, gigi, dan penyakit poli umum. Tidak hanya di Jakarta, kantor penghubung Tzu Chi di Makassar, Surabaya, Medan, Bandung, dan Batam juga beberapa kali mengadakan baksos kesehatan serupa.

Keterangan Gambar: Deraan penyakit dapat menyeret manusia pada jurang kemiskinan. Deraan penyakit menghambat orang dalam mencari nafkah.

Bakti Sosial Kesehatan Skala Kecil
Penyakit yang diderita manusia bermacam-macam karena kondisi tempat tinggal mereka juga bermacam-macam. Tidak semua orang berkesempatan untuk mengakses fasilitas kesehatan, karenanya Tzu Chi mengadakan bakti sosial kesehatan dalam skala kecil di beberapa tempat seperti di Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman Parung, Tegal Alur, Bekasi, Tanjung Anom, dan di beberapa tempat lain. Selain itu, baksos kesehatan skala kecil ini juga diadakan di kantor-kantor penghubung Tzu Chi.

Yang paling sering dilakukan adalah pengobatan kesehatan umum dan gigi. Namun, sering juga diadakan penyuluhan mengenai berbagai penyakit semisal penyakit kulit, gigi, ataupun penyalahgunaan narkoba.

Kendala jarak yang dialami calon pasien menjadi terbantu dengan diadakannya baksos kesehatan skala kecil ini.

Keterangan Gambar: Relawan Tzu Chi mendampingi warga Desa Kiara Payung dan Gaga, Tangerang selama 2 tahun untuk memberantas tuberkulosis (TBC) di kedua desa tersebut.

Rumah Sakit Cinta Kasih Tzu Chi
Sarana dan prasarana Tzu Chi untuk memberi pengobatan gratis atau dengan biaya murah diwujudkan dengan didirikannya Poliklinik Cinta Kasih Tzu Chi yang diresmikan pada tanggal 28 Agustus 2003 yang terletak di dalam kompleks Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi, Cengkareng, Jakarta Barat.

Poliklinik Cinta Kasih terdiri atas poli umum, poli gigi, poli mata, poli internis, dan poli bedah. Selain itu, tersedia pula fasilitas radiologi, laboratorium, apotek, dan USG. Sedangkan pelayanan kesehatan diberikan oleh para dokter yang ahli di bidangnya masing-masing.

Sejak beroperasinya Poliklinik Cinta Kasih, baksos kesehatan Tzu Chi diadakan di Poliklinik Cinta Kasih. Sebelumnya baksos kesehatan diadakan berpindah-pindah tempat, di antaranya di RS. Paramita Serang, RS. QADR Tangerang, RS. Sentra Medika Depok, RS. Krakatau Steel, dan RS. Kencana.

Untuk semakin dapat melayani masyarakat secara luas, pada tanggal 10 Januari 2008, Poliklinik Cinta Kasih Tzu Chi berubah menjadi Rumah Sakit Khusus Bedah (RSKB) Cinta Kasih Tzu Chi dan beroperasi selama 24 jam.

Keterangan Gambar: Kebahagiaan yang tak terlukiskan kata-kata selalu mengiring para pasien baksos kesehatan usai melewati meja operasi.

Tzu Chi International Medical Association (TIMA)
Untuk menghargai setiap jiwa manusia secara lebih sistematis, maka didirikanlah Tzu Chi International Medical Association (TIMA) sebagai wadah penyaluran bantuan kesehatan Tzu Chi yang kini telah dirasakan oleh masyarakat di seluruh penjuru dunia, tanpa membedakan ras, agama, ataupun keyakinan. TIMA yang didirikan pada tahun 1996 di Taiwan, hingga saat ini memiliki 17 cabang di seluruh dunia dan senantiasa mengutamakan cinta kasih dalam pelayanan kesehatan.

TIMA mengusahakan peningkatan kesehatan dan pengobatan bagi setiap individu dengan biaya terjangkau bahkan bila perlu gratis. Manusia bukan hanya obyek, sehingga para dokter TIMA tidak hanya memfokuskan pada penyakit yang diderita seseorang, namun juga memberi perhatian pada jiwa si sakit. Sentuhan hangat penuh cinta kasih dari dokter akan menjadikan rasa sakit pasien berkurang.

Keterangan Gambar: Meski masih muda, para relawan ini memiliki sentuhan hangat penuh cinta kasih yang bisa menjadikan pasien cepat sembuh.

Semua kantor TIMA di seluruh dunia adalah bagian dari ‘Jaringan Pelayanan Kesehatan Dunia’ yang sistematis untuk mewujudkan konsep ‘Cinta Kasih Tanpa Batas Negara’. Di Indonesia sendiri, TIMA berdiri sejak 10 November 2002 dan telah berhasil membantu lebih dari 50 ribu pasien. Kini anggota TIMA Indonesia berjumlah sekitar 120 orang. Para dokter yang tergabung menjadi anggota merupakan tenaga profesional yang terdiri dari dokter umum, dokter bedah, dokter gigi, dokter bedah plastik, dokter spesialis anak, dokter kulit dan kelamin, dokter kandungan, dokter spesialis patologi klinik, dokter spesialis patologi anatomi, dokter spesialis penyakit dalam, dokter spesialis radiologi, dan dokter spesialis anastesi.

Selain bakti sosial kesehatan yang rutin dilakukan setiap bulan di Poliklinik Tzu Chi, TIMA juga melakukan baksos kesehatan di berbagai daerah seperti Bandung, Batam, Bekasi, Makassar, Medan, ataupun Surabaya.

Hingga kini, anggota TIMA di seluruh dunia sudah lebih dari 2.000 orang. Di dalamnya termasuk para profesional di bidang medis (dokter dan perawat) dan pegawai administrasi. Dengan adanya kegiatan pengobatan TIMA, para relawan tidak hanya membantu manusia yang lain, tapi sekaligus belajar untuk menghargai jiwa manusia.

Keterangan Gambar: Beban pasien baksos kesehatan di Bina Sinar Amity (BSA), Cakung, Jakarta Timur ini menjadi ringan setelah penyakit yang selama ini dideritanya diobati di baksos kesehatan tersebut.

Jarigan Pelayanan Kesehatan Dunia
Misi kesehatan Tzu Chi di negara asalnya, Taiwan, telah melangkah maju dan perannya dalam kehidupan masyarakat Taiwan telah mendapat pengakuan luas. Saat ini, Tzu Chi telah memiliki rumah sakit di 7 kota, yaitu di Hualien, Guanshan, Yuli, Dalin, Douliu, Xindian, dan Tanzi.

Rumah Sakit Tzu Chi mengambil acuan yang digunakan pusat kedokteran Meyer di Amerika Serikat, mengembangkan prinsip ’menghargai jiwa manusia’ dan teknik pengobatan mutakhir. Pasien tidak akan merasa sedang berada di rumah sakit karena rumah sakit telah diatur sedemikian rupa sehingga pasien akan merasa nyaman seperti sedang berada di rumah. Yang lebih istimewa lagi, para relawan Tzu Chi saling berlomba untuk menghibur pasien. Pasien diperlakukan sebagai anggota keluarga sehingga merasa nyaman dan proses penyembuhan pun bisa menjadi lebih cepat.

Sedangkan di bidang teknologi, kelebihannya dibandingkan rumah sakit lain adalah rumah sakit Tzu Chi memiliki fasilitas pencangkokan hati, ginjal, kornea mata, rangka tulang, dan organ tubuh lainnya, dan melaksanakan transplantasi hati yang menghabiskan waktu lebih dari 27 jam.

Juni 2003, salah satu Rumah Sakit Tzu Chi mencatat prestasi gemilang setelah berhasil melakukan operasi pemisahan anak perempuan kembar siam dari Filipina. Seusai operasi, kedua anak tersebut masing-masing diberi nama ‘Da Ai’ (Cinta Kasih) dan ‘Gan En’ (Syukur). Pada Agustus 2003, mereka diterbangkan kembali ke Filipina.

Di bagian lain dunia, baksos kesehatan juga secara rutin diadakan di tempat di mana terdapat relawan Tzu Chi, yaitu di Amerika Serikat, Cina, Dominika, El Salvador, Filipina, Paraguay, Thailand, dan lain-lain.

Keterangan Gambar: Dokter dan pasien menautkan hati melalui operasi yang dijalankan. Penderitaan pasien juga adalah penderitaan sang dokter. Demikian pula kebahagiaannya.

Satu lagi layanan kesehatan Tzu Chi yang sangat membanggakan adalah Pusat Data Donor Sumsum Tulang Tzu Chi yang didirikan pada bulan Oktober 1993. Relawan Tzu Chi menyambut baik seruan Master Cheng Yen, "Menyumbang sumsum tulang menolong orang, tidak akan merugikan diri sendiri." Relawan Tzu Chi saling berebut menyingsingkan lengan baju memeriksakan darah untuk menjadi donor sumsum.

Tahun 1999 diresmikan bank darah Tzu Chi yang menaikkan prosentase keberhasilan dalam mencocokkan donor bagi penderita kelainan darah hingga di atas 85%. Pada tanggal 30 April 2002, Pusat Donor Sumsum Tulang Tzu Chi menjelma menjadi "Pusat Penelitian Sel Sumsum Tulang Belakang Tzu Chi" yang tidak saja mengembangkan fungsi bank data sumsum tulang, melainkan juga meningkatkan penelitian sel tulang belakang, pengobatan gen, serta teknologi lainnya. Saat ini, Pusat Data Donor Sumsum Tulang Tzu Chi merupakan yang terbesar di Asia dan termasuk kelompok lima besar dunia.

Relawan Tzu Chi Malaysia juga membuat catatan yang gemilang dalam misi kesehatan. Pada tahun 1997, di Penang, dibangun pusat pencucian darah Tzu Chi yang pertama di Malaysia, kemudian menyusul di Kedah dan Butter Worth. Pusat pencucian darah ini memprioritaskan pelayanan kepada kaum tidak mampu yang menunggu giliran cuci darah. Tempat ini merupakan pusat pencucian darah pertama yang tidak memungut biaya di Malaysia. Sebagian besar dana operasional pusat pencucian darah ini berasal dari hasil kegiatan daur ulang.

Keterangan Gambar: Orang yang sakit fisik, jiwanya pun sakit, oleh karenanya mengobati fisik harus disertai dengan mengobati jiwa.

 
 
Tentang Kami
 Tentang Tzu Chi 
 Pendiri 
 Sejarah 
 Kantor Penghubung 
 Misi & Visi 
 Amal 
 Kesehatan 
 Pendidikan 
 Budaya Kemanusiaan 
 Pelestarian Lingkungan
 Donor Sumsum 
 Relawan Komunitas 
 Bantuan Internasional