Halaman Utama  -  Tentang Kami  -  Misi & Visi
 
Misi Pendidikan
 
Memupuk Bibit Cinta Kasih

Mendidik generasi penerus dengan cinta kasih,
Mengubah keterpurukan dunia menjadi lahan kebahagiaan bagi semua makhluk.

Pendidikan Seutuhnya
Merencanakan masa depan sebuah bangsa berarti membangun pendidikan bagi anak-anak. "Untuk itu, pendidikan yang terbaik harus selalu diupayakan bagi anak-anak kita," begitu Master Cheng Yen berulang kali berpesan. Pendidikan yang diberikan Tzu Chi adalah pendidikan untuk menjadi manusia seutuhnya, tidak hanya mengajarkan pengetahuan dan keterampilan, namun juga mengajarkan tentang nilai-nilai kemanusiaan.

Keterangan Gambar: Rasa cinta kepada murid-muridnya menjadikan guru di Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi mengajar dengan sepenuh hati seolah anaknya sendiri.

Dalam setiap institusi pendidikan Tzu Chi, tidak hanya murid yang belajar, guru pun juga belajar. Para siswa belajar ilmu pengetahuan dan kehidupan di dalam lingkungan yang penuh dengan cinta kasih, sedangkan para guru belajar untuk menumbuhkan cinta kasih dan kebajikan di dalam hati para siswa. Guru, sebagai pembimbing, tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, namun juga mengajarkan tentang cinta kasih dan kebajikan. Hal ini secara tidak langsung akan mempengaruhi sikap dan tingkah laku orangtua siswa sehingga sebuah keluarga yang penuh dengan cinta kasih bukan lagi sekadar angan-angan.

Pendidikan Budi Pekerti di Sekolah Cinta Kasih
Tepatnya sejak 28 Juli 2003, Tzu Chi Indonesia memiliki tempat penyemaian cinta kasih dengan diresmikannya Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi yang berlokasi di Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi, Cengkareng, Jakarta Barat. Gedungnya yang terdiri dari 3 lantai, berdiri megah dan dilengkapi fasilitas pendukung yang memadai. Jenjang pendidikan terdiri dari Kelompok Bermain (KB), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Anak-anak yang bersekolah di sini berasal dari keluarga yang tinggal di Perumahan Cinta Kasih. Di tempat asal mereka sebelum pindah ke Perumahan Cinta Kasih, yaitu di bantaran Kali Angke, mereka hidup dalam lingkungan sosial yang kumuh, sehingga sikap dan perilaku mereka terkadang kurang santun. Setelah beberapa lama bersekolah di sini, perlahan-lahan tingkah laku dan tutur kata mereka berubah menjadi lebih baik.

Keterangan Gambar: Mempelajari cinta kasih, berarti juga harus mempelajari emosi-emosi manusia agar anak-anak tahu cara mengatasinya.

Yang khas dari sekolah ini adalah penekanannya pada budi pekerti. Keberhasilan siswa tidak hanya diukur dari kecerdasan, melainkan juga harus memiliki kualitas moral dan kecakapan yang tinggi. Upaya ini didukung dengan pengadaan jam pelajaran budi pekerti umum dan budi pekerti Tzu Chi. Tiap bulan, sekolah mengangkat tema budi pekerti yang berbeda-beda, antara lain: rajin, berbakti, bersyukur, tata krama, cinta kasih, puas hati, toleransi, dan jujur.

PKBM berupa kelas sore yang berlangsung selama 2 bulan dengan mengajarkan berbagai ketrampilan, seperti menjahit, salon, tata boga, komputer, dan keaksaraan fungsional. Keterampilan yang diajarkan ternyata dapat menjadi sumber tambahan penghasilan bagi para peserta. Selain itu, PKBM juga mengajarkan tentang kerohanian, kesehatan, dan etika. Ini dapat menjadi bekal yang sangat berharga bagi para peserta yang sebagian besar adalah ibu rumah tangga. Ada pepatah mengatakan, 'Mendidik satu perempuan sama dengan mendidik satu generasi'.

Keterangan Gambar: "Cuci piringmu sehabis makan," begitu kata orang bijaksana mengajari kita agar menjadi orang yang mandiri.

Tempat Belajar yang Baru
Untuk menciptakan pendidikan yang berkualitas baik harus didukung oleh fasilitas yang memadai, salah satunya adalah gedung untuk belajar. Gedung sekolah sebagai fasilitas pendukung utama, jika memiliki tembok yang rapuh atau atap yang setiap saat bisa rubuh, tentulah bukan tempat yang nyaman untuk belajar, justru mengancam keselamatan siswa dan guru.

Tidak sedikit alokasi dana Tzu Chi untuk membantu dunia pendidikan, salah satunya dengan membantu pembangunan gedung-gedung sekolah yang rusak. Hingga April 2006, Tzu Chi telah membantu pembangunan gedung sekolah di 4 tempat, yaitu: 3 gedung sekolah dasar korban gempa di Bengkulu, SD Tanjung Anom Tangerang, SD Negeri 060966-060967-060968 Medan, dan gedung sekolah Pondok Pesantren Nurul Iman Parung.

1. Sekolah Bengkulu
Gempa berkekuatan 7,3 skala richter yang mengguncang Bengkulu bulan Mei 2001 merusak berbagai infrastruktur, termasuk sejumlah gedung sekolah. Dengan mengumpulkan dana dari relawan Tzu Chi di dalam dan luar negeri, Tzu Chi membantu pembangunan kembali 3 gedung sekolah dasar, yaitu: SDN Napal, SDN Renah Panjang, dan SDN Pasar Ngalam. Ketiga gedung tersebut diresmikan pada tanggal 30 April dan 1 Mei 2001. Selain mendapatkan gedung baru, seluruh siswa juga mendapat hadiah berupa tas sekolah, handuk, sikat dan pasta gigi, buku tulis, gelas, dan mangkuk.

Keterangan Gambar: Tiga gedung sekolah baru dibangun Tzu Chi untuk menggantikan gedung sekolah yang hancur karena gempa bumi di Bengkulu pada tahun 2001.

2. Sekolah Tanjung Anom
April 2002, para relawan Tzu Chi melihat gedung SDN Tanjung Anom dalam kondisi yang memprihatinkan ketika sedang melakukan survei pemberian bantuan. Di dalam kelas, hanya terlihat tiga meja belajar untuk puluhan anak sehingga sebagian anak terpaksa duduk di lantai. Atap sekolah pun berlubang besar, lantai dan tembok terlihat kotor dan tak terawat, dan rangka kayu sudah banyak yang lapuk. Hati para relawan terenyuh sehingga Tzu Chi memutuskan untuk membantu merenovasi gedung.

Kerja keras Tzu Chi akhirnya membuahkan sebuah gedung sekolah baru yang diserahkan secara resmi kepada Kepala Sekolah SDN Tanjung Anom dan Dinas Pendidikan setempat pada tanggal 4 Januari 2003. Sekolah ini dilengkapi dengan 8 ruang kelas, 1 ruang administrasi, 8 toilet, 3 tempat tinggal guru dan staf sekolah, 100 meja, 200 kursi, dan 4 set meja-kursi guru.

Keterangan Gambar: Para Siswa SDN Tanjung Anom akhirnya memiliki gedung sekolah lebih layak setelah sekian lama rusak.

3. Sekolah Belawan
Lokasinya yang berada di tepi laut menyebabkan SD Negeri 060966, 060967, dan 060968 Belawan, Medan, tergenang air sampai setinggi lutut saat air laut sedang pasang. Meja dan kursi pun terapung dibuatnya sehingga rapuh, bahkan beberapa diantaranya sudah patah. Selain itu udara pantai yang mengandung garam menjadikan atap dan tembok cepat rapuh dan berlubang. Bahaya selalu mengintai para siswa saat sedang belajar karena gedung sewaktu-waktu bisa ambruk. Belum lagi daerah tersebut terkenal sebagai daerah yang rawan kriminalitas.

Siraman cinta kasih Tzu Chi telah mengubah gedung tersebut menjadi megah dan bebas banjir. Di atas lahan seluas 3.100 m2, gedung sekolah dibangun kembali menjadi dua lantai dengan bangunan seluas 6.000 m2. Sekolah dilengkapi dengan 20 ruang kelas, 2 kantor guru, 1 perpustakaan, 3 rumah dinas kepala sekolah, 1 rumah dinas penjaga sekolah, 12 toilet, dan 1 gudang. Selain itu, Tzu Chi Medan juga menyumbangkan 800 kursi, 400 meja, 20 lemari kelas, 20 papan tulis, 20 meja dan kursi guru, dan 20 lemari kantor guru. Tanggal 6 Mei 2004, gedung sekolah yang baru tersebut diresmikan oleh Walikota Medan saat itu, Drs. Abdillah, Ak. MBA.

4. Pondok Pesantren Nurul Iman
Cinta kasih tak mengenal batas suku, agama, ataupun negara. Cinta kasih yang hangat dari Tzu Chi mendapat sambutan yang hangat pula dari sebuah pondok pesantren, yaitu Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman, Parung, Bogor. Pondok pesantren yang secara harfiah berarti 'Cahaya Iman Modern' tersebut dipimpin oleh Habib Saggaf. Para santri menimba ilmu di Nurul Iman tanpa dipungut biaya. Mereka berasal dari berbagai wilayah di penjuru tanah air. Tali jodoh Tzu Chi dengan Nurul Iman dimulai dari butir-butir beras. Pada Agustus 2003, Tzu Chi memberi bantuan beras cinta kasih sebanyak 50 ton per bulan untuk satu tahun.

Kerja sama Tzu Chi dan Nurul Iman berlanjut dengan diadakannya baksos kesehatan bagi para santri Nurul Iman pada tanggal 23 Mei 2004. Hingga April 2006, Tzu Chi telah mengadakan baksos kesehatan di Nurul Iman sebanyak 5 kali.

Tiap kali melakukan baksos, para relawan Tzu Chi melihat sendiri suasana kegiatan belajar para siswa yang berdesak-desakan akibat tidak sebandingnya daya tampung pondok pesantren dengan jumlah santri yang setiap tahun bertambah. Akhirnya Tzu Chi memutuskan untuk membantu pembangunan gedung tempat belajar bagi mereka.

Pada tanggal 17 Juli 2005, sebuah gedung sekolah megah 2 tingkat diresmikan. Gedung tersebut digunakan bagi santri laki-laki tingkat Tsanawiyyah (setara SLTP) dan Aliyah (setara SLTA). Gedung ini dilengkapi dengan 32 kamar mandi dan 20 toilet. Di pondok pesantren yang memiliki 8.000 santri ini, Tzu Chi juga membantu pengadaan air bersih pada tahun 2005.

Keterangan Gambar: Bukan megahnya gedung yang diutamakan, melainkan cinta kasih yang terkandung di dalamnya.

Membuka Jendela Harapan
Gambaran masa depan yang indah bukan hanya milik anak-anak dari keluarga berkecukupan. Anak-anak dari keluarga tidak mampu pun memiliki impian yang sama, hanya bedanya bagi mereka impian tinggal sebatas impian.

Sejak tahun ajaran 1999/2000, lebih dari 250 anak di Jakarta, Tangerang, Bogor, dan Pati-Jawa Tengah, menjadi anak asuh Tzu Chi agar mereka dapat mewujudkan impiannya.

Untuk meraih impian tersebut, mereka tidak hanya memerlukan bantuan biaya sekolah, namun juga memerlukan perhatian dan pembinaan. Selain memberikan bantuan biaya pendidikan, seragam sekolah dan sepatu, para relawan secara berkala juga mengunjungi mereka memberikan pelajaran membaca dan berhitung, bahasa Inggris, ataupun etika. Sebab Tzu Chi berharap agar mereka dapat menggapai mimpi-mimpi mereka serta melakukannya dengan prestasi yang bagus dan memiliki akhlak yang baik dan jiwa cinta kasih.

Keterangan Gambar: Tak ada kata terlambat untuk belajar, begitu pula bagi sejumlah penghuni Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng. Mereka mengikuti program Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat.

Menyemai Tunas Cinta Kasih Di Seluruh Dunia
Tujuan Master Cheng Yen mendirikan Tzu Chi adalah untuk membantu kaum yang miskin dan mendidik orang yang kaya. Namun, dalam 20 tahun terakhir, Taiwan, tempat kelahiran Tzu Chi, mengalami pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat sehingga angka kemiskinan turun secara tajam. Sayangnya, hal ini disertai dengan timbulnya dampak negatif yang merusak kehidupan moral dan spiritual masyarakatnya.

Karena itulah masyarakat Taiwan memerlukan sentuhan cinta kasih. Menyebarkan cinta kasih bukanlah proses yang sebentar, melainkan harus secara dilakukan secara berkelanjutan, salah satunya adalah melalui pendidikan. Oleh karenanya, Master Cheng Yen memulainya dengan mendirikan Akademi Keperawatan Tzu Chi pada tanggal 17 September 1989 di Hualien.

Kiprah Tzu Chi di bidang pendidikan terus berkembang dengan berdirinya Perguruan Tinggi Kedokteran Tzu Chi pada tanggal 16 Oktober 1994 yang kemudian pada bulan Agustus 2000, diubah menjadi Universitas Tzu Chi.

Universitas Tzu Chi mempunyai 13 Lembaga, 11 Jurusan, dan 4 Fakultas, yaitu: Fakultas Kedokteran, Fakultas Biologi, Fakultas Kebudayaan dan Kemasyarakatan, serta Fakultas Pendidikan dan Penyiaran. Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah yang bernaung pada Universitas Tzu Chi, sejak tahun 2000 berturut-turut mengadakan penerimaan murid, setapak demi setapak mewujudkan sasaran yang dianut Tzu Chi, yaitu pendidikan seutuhnya.

Keterangan Gambar: Anak-anak di Ladysmith, Afrika Selatan gembira dengan seragam sekolah dan tas baru mereka.

Perhatian Tzu Chi terhadap dunia pendidikan diwujudkan juga melalui bantuan pembangunan gedung. Gempa dahsyat yang melanda Taiwan 21 September 1999 memporak-porandakan lebih dari 800 buah gedung sekolah di Taiwan bagian tengah. Master Cheng Yen mengingatkan bahwa pendidikan merupakan suatu proyek jangka panjang dan merupakan proyek harapan sehingga beliau menyanggupi untuk membangun kembali 51 sekolah di daerah yang terkena bencana. Proyek bantuan tersebut dikenal dengan sebutan 'Proyek Harapan'.

Bantuan serupa terhadap korban gempa juga diberikan kepada warga kota Bam, Iran. Setelah kota Bam diguncang gempa dahsyat 26 Desember 2003, Tzu Chi segera menyalurkan bantuan kemanusiaan berupa beras dan kebutuhan lain, serta obat-obatan. Kemudian dibangun pula 5 buah sekolah. Tanggal 28 April 2005 diadakan peletakan batu pertama secara serentak di lima tempat, masing-masing 4 sekolah tingkat menengah atas khusus wanita di Najmieh, Motahari, Fatamieh, dan Parvin, serta 1 sekolah tingkat dasar khusus pria di Adab. Proyek ini dibangun sesuai dengan standar yang memperhatikan unsur keamanan, praktis, dan modern. Bangunannya merupakan perpaduan gaya Eropa, Arab dan 'Model Persia' Asia Barat.

Keterangan Gambar: Mendirikan sekolah di berbagai negara berarti menyemai tunas-tunas muda yang ceria dan penuh welas asih di seluruh dunia.

 
 
Tentang Kami
 Tentang Tzu Chi 
 Pendiri 
 Sejarah 
 Kantor Penghubung 
 Misi & Visi 
 Amal 
 Kesehatan 
 Pendidikan 
 Budaya Kemanusiaan 
 Pelestarian Lingkungan
 Donor Sumsum 
 Relawan Komunitas 
 Bantuan Internasional