Jumat, 21 Juli 2017

Benny Suhaimi

Tekun Belajar di Tzu Chi

12 Mei 2017

doc tzu chi

Saya mengenal Tzu Chi dari adik saya dan suaminya, Elizabeth Fariana dan Johan Kohar. Waktu itu dia mengunjungi saya dan meminta saya mengganti channel TV ke DAAI TV karena mereka ingin menonton drama. Kata mereka, kisah dalam drama itu seru dan banyak sekali pelajaran yang bisa diambil. Saya ikut lihat saja.

Tidak lama, Johan mengajak saya pergi nonton di Mal Kelapa Gading, Jakarta Utara. Setelah itu kita mampir ke Toko Buku Jing Si, Jing Si Books & Café di Kelapa Gading. Begitu masuk, saya melihat banyak orang duduk dan berbincang-bincang. Ada juga yang latihan menyanyi dengan gerakan isyarat tangan, dan iramanya indah. Sejujurnya, saya sudah tertarik dengan Tzu Chi saat pertama kali menonton drama DAAI TV. Melihat suasana di Jing Si Books & Cafe, saya jadi semakin tertarik.

Saya lalu bergabung menjadi relawan Tzu Chi pada tahun 2007 dan memulai kegiatan di misi pelestarian lingkungan. Pagi-pagi sekali, saya bersama relawan lain mengetuk pintu rumah orang-orang untuk mensosialisasikan pelestarian lingkungan sekaligus bertanya apakah ada barang yang bisa didaur ulang atau tidak. Saya yang tadinya pemalu, akhirnya berusaha belajar berani.

Setahun di Tzu Chi, saya belajar lagi dengan beberapa hal baru. Tahun 2008, saya pertama kali ikut survei pasien kasus penerima bantuan di Pademangan, Jakarta Utara. Saat itu wilayah Pademangan masih menjadi daerah binaan dari komunitas relawan Tzu Chi Kelapa Gading.

Dari kunjungan ke rumah pasien itu, saya belajar melihat betapa hidup saya itu sangat berkecukupan. Saya belajar bersyukur karena begitu bangun tidur sudah tidak khawatir sarapan apa, makan apa. Begitu mau buka usaha juga sudah ada modalnya. Keinginan lain pun mudah terpenuhi. Sementara kehidupan pasien itu sangat menderita. Sang istri sakit dan suaminya lumpuh. Mereka tinggal di rumah yang kurang layak, tidak ada kamar mandi dan dapur. Melihat hal ini bagaimana saya tidak terharu. Mata dan hati saya menjadi lebih terbuka.

Selain bersyukur, saya juga belajar banyak hal lain di Tzu Chi yang tentunya semua adalah hal baik bagi saya. Dulu, saya hidup di lingkungan yang kurang mendukung untuk berbuat baik. Hampir setiap malam ada orang berkelahi, saling kejar, dan kejahatan pun banyak terjadi. Berjudi dan mabuk-mabukan seperti sudah menjadi hal biasa. Saya pun ikut terpengaruh dan melakukan hal yang sama, minum, merokok, dan berjudi.

Ketika sedang berusaha mandiri karena waktu itu papa sedang sakit, saya membangun usaha, berdagang kodok. Saya tidak tahu berapa nyawa yang sudah melayang, tapi saya tekuni usaha itu hanya setahun saja. Saya kemudian fokus ke usaha mi basah yang dibangun orang tua saya di Palembang. Saat itu tabiat buruk saya masih belum berubah. Sebagai juragan, saya gampang marah kepada para pekerja. Tapi itu cerita dulu, setelah pindah ke Jakarta tahun 1991 saya belajar lebih baik dan sabar. Meski belum berhasil sepenuhnya.

Kalau dibikin perbandingan, selama 1 tahun di Tzu Chi, 5 tahun di Tzu Chi, dan sekarang itu semua berbeda, sifat maupun pemikiran saya. Dulu, pertama menjadi relawan dan ada orang “marahin”, saya masih bisa pura-pura tahan dan tidak marah. Padahal, saat itu saya marah dan memendam amarah. Ketika sudah 5 tahun menjadi relawan, kadang masih susah menerima kritikan dari orang lain, tetapi saya senyum saja, tahan diri. Kalau sekarang, saya sudah mengerti kalau dalam diri memang ada sifat positif dan negatifnya. Jadi ketika ada orang mengkritik, saya justru berterima kasih karena sudah diingatkan.

Sejak tahun 2010 saya juga mulai bervegetaris. Memang tidak bisa dipungkiri kalau bervegetaris manfaatnya sangat besar, khususnya dalam hal kesehatan. Selama lima tahun terakhir, saya sudah sangat jarang sakit. Jadi dana untuk berobat bisa dialihkan untuk bersumbangsih ke Tzu Chi.

Melihat perubahan diri saya yang cukup signifikan, tentu keluarga sangat mendukung. Ketika ada kegiatan Tzu Chi, istri saya selalu menyiapkan seragam dan perlengkapan lainnya. Maka saya bersyukur memiliki keluarga yang saling mendukung. Apalagi ketika saya telah menjadi relawan komite, di mana saya harus bisa lebih pandai mengatur waktu untuk keluarga dan Tzu Chi.

Menjadi relawan komite membuat saya harus lebih fokus untuk menyemai benih cinta kasih. Terlebih saya adalah bagian dari fungsional Misi Kesehatan di komunitas He Qi Timur. Setiap menjalankan misi, saya selalu mengingat pesan Master Cheng Yen, “Demi ajaran Buddha, demi semua makhluk”. Dengan mengingat pesan tersebut maka semangat tidak mungkin kendur karena tongkat estafet Tzu Chi ini masih harus terus kita salurkan untuk generasi selanjutnya. Cinta kasih pun masih harus kita bagikan untuk lebih banyak orang lagi.

Seperti dituturkan kepada Felicite Angela Maria (He Qi Timur)

Artikel dibaca sebanyak : 589 kali


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Security Code