Relawan Tzu Chi Jakarta: Roberto H. Chandra
Menyelami Dharma di Pelestarian Lingkungan

doc tzu chi

Saya mulai ikut Tzu Chi tahun 2011, baru ikut-ikut saja karena sebatas mengantar Shijie saya yang memang sudah lebih dulu bergabung ke Tzu Chi. Waktu itu istri saya sangat antusias ingin ikut berkegiatan Tzu Chi. Lalu saya bilang ke istri, “ya sudah kamu ikut dulu, saya nanti nyusul.” Saya fokus di pekerjaan saya saat itu.

Pada pertengahan tahun 2012, saat itu ada kegiatan Pelestarian Lingkungan Tzu Chi. Lalu saya ikut berkegiatan. Kebetulan pada bulan Desember 2012 diresmikan pula Depo Pelestarian Lingkungan Tzu Chi di Duri Kosambi, Jakarta Barat. Sejak saat itu saya mulai aktif di Pelestarian Lingkungan hingga sekarang.

Menjadi relawan Pelestarian Lingkungan banyak hal unik yang saya rasakan. Kita bisa menjaga bumi, selain itu kita bisa berkolaborasi dengan sesama relawan dalam kegiatan Pelestarian Lingkungan. Saya merasa bisa membantu warga atau instansi lain untuk bersama-sama ikut melakukan kegiatan Pelestarian Lingkungan dengan melakukan pemilahan sampah daur ulang. Saya juga merasa ini sangat berguna untuk diri saya. Melihat apa yang saya lakukan berguna bagi orang lain, saya pun mengurangi porsi pekerjaan pribadi dan menambah fokus pada kegiatan Pelestarian Lingkungan.

Saya memiliki usaha rumahan berupa jasa pembuatan ATK (Alat Tulis Kantor-red). Dalam hal ini saya harus pintar-pintar mengatur waktu antara pekerjaan dan aktivitas sosial. Bagi saya, dengan ikut Pelestarian Lingkungan kita bisa bergaul dengan teman-teman. Kita bisa melihat dan belajar dari karakter teman itu juga merupakan suatu Dharma. Jadi kita selama di Pelestarian Lingkungan juga bisa belajar apa yang diajarkan Master Cheng Yen.

Semua (Dharma) itu timbul satu persatu, sehingga kita bisa meresapi dengan baik dan mengambil apa yang baik untuk diri kita sendiri. Seperti di Tzu Chi ada sila, semangat, kekuatan. Hal itu di kegiatan Pelestarian Lingkungan juga ada semua. Jadi bagaimana kita menyikapinya bukan sebatas kita memilah-milah barang daur ulang saja, yang utama kita bisa melihat Dharmanya. Jadi kita bisa belajar dari sana baru kita bisa menerapkan pada orang lain.

Apa pun yang kita lakukan bisa kita bagikan ke teman mengenai apa yang kita dapatkan dari semangat warga. Misalnya seperti yang saya ketahui ada warga yang antusias mengumpulkan barang daur ulang, sehingga kita bisa memberikan semangat kepada sesama relawan ketika semangatnya mulai menurun. Dengan begitu kita bisa menginspirasi sesama .relawan dari semangat orang lain.

Dalam kegiatan Pelestarian Lingkungan kita juga bisa memberi lebih banyak lagi ke sekolah. Seperti memberikan sosialisasi Pelestarian Lingkungan ke sekolah, mengajak mereka melakukan pemilahan sampah untuk menjaga lingkungan. Hasilnya, sekolah-sekolah pun sangat antusias. Ada pula sekolah yang datang ke titik pemilahan Pelestarian Lingkungan Tzu Chi untuk belajar memilah barang-barang daur ulang.

Sejak 2015 saya diberi tanggung jawab menjadi fungsionaris Pelestarian Lingkungan Hu Ai Cengkareng Barat. Kita pun enggak bisa merencanakan tanggung jawab tersebut (fungsionaris) hanya 5 tahun atau 10 tahun saja. Kita tahu bumi ini terus berproses jadi kita harus fokus, kita tetap bersumbangsih di Misi Pelestarian Lingkungan ini. Yang penting kita mau kerja dan memegang tanggung jawab.

Jalinan jodoh saya dengan Tzu Chi cukup unik karena apa yang saya praktikkan di Tzu Chi khususnya Pelestarian Lingkungan sudah saya lakukan sejak merintis kerja. Contoh, pada awal saya bekerja, saya menjadi seorang teknisi. Sebagai teknisi saya dikenalkan prinsip “R” yaitu Repair (memperbaiki). Kemudian saya bekerja di bidang kayu, di mana saya mengumpulkan kayu-kayu yang tidak dipakai kemudian dikreasikan menjadi barang yang berguna dan mempunyai nilai. Jadi itu merupakan salah cara untuk mengurangi barang-barang sampah yang tidak terpakai.

Hal tersebut juga salah satu cara untuk mengurangi sampah dengan cara “Reduce” dan “Reuse.” Kemudian saya juga memiliki usaha di bidang besi. Disini saya mengumpulkan plat-plat besi yang tidak terpakai dan saya jual. Jadi semuanya berkaitan dengan pengalaman hidup saya dan sejalan dengan Tzu Chi. Jadi saya merasa terpanggil untuk masuk ke dalam barisan Tzu Chi.

Bisa berkegiatan di Tzu Chi memberikan kebahagiaan bagi saya. Kita bisa bergaul dengan seluruh teman-teman yang beraneka macam karakter, sifat, dan tingkat sosialnya. Semua bisa bergaul. Sepanjang saya punya waktu, akan saya usahakan terus membantu dan berkomitmen di Tzu Chi.

Seperti dituturkan kepada Teddy Lianto

Hadiah paling berharga di dunia yang fana ini adalah memaafkan.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -