Rabu, 22 November 2017
Indonesia | English

Relawan Tzu Chi Medan: Alice Wijaya

Giat di Misi Kesehatan, Tetap Mengingat Tekad Awal

13 November 2017

doc tzu chi

Ketika Kata Perenungan Master Cheng Yen melintas dalam pikiran, maka saya akan merenung dan mengoreksi diri. Kadang memang sangat sulit, namun ketika kita sanggup mengatasi kesulitan tersebut, maka itulah kesabaran sejati.

Sebagai sulung dari tujuh bersaudara, saya hampir tidak pernah merasakan kata penderitaan. Namun diakhir tahun 2002, saat itu saya mendapat informasi jika ada organisasi sosial yang akan dibentuk di Medan. Karena diliputi rasa penasaran, beberapa minggu kemudian, saya bersama Lina Gozali (sekarang relawan komite Tzu Chi -Red) mendatangi toko yang ditunjuk menjadi tempat berkumpulnya organisasi yang akan dibentuk tersebut. Dari situlah baru mengerti bahwa ada organisasi Taiwan bernama Tzu Chi yang bergerak di bidang kemanusiaan. Saya pun tertarik untuk bergabung.

Awal menjadi relawan Tzu Chi lantas saya diajak untuk menyurvei ke rumah-rumah orang yang meminta bantuan ke Tzu Chi. Pengalaman inilah yang membuat saya mengenal arti penderitaan.  Hal ini memacu saya untuk lebih semangat bersumbangsih. Setiap hari Minggu, kami mengumpulkan pakaian layak pakai sumbangan dari para donatur. Lalu kami pilah dan cuci kembali. Jika ada yang koyak atau kancing kurang maka kami akan benahi. Lalu untuk apa baju-baju ini? Jika ada bencana kebakaran atau banjir, baju-baju yang sudah kami rapihkan akan dibagi-bagikan kepada mereka.  

Kemudian saya menjadi relawan misi amal serta mendampingi pasien Tzu Chi ke rumah sakit. Di sanalah saya belajar banyak hal, apalagi ketika pasien yang kita antar berobat bisa sembuh. Hal itu membuat saya begitu bahagia. Kebahagiaan yang saya rasakan itulah yang mendorong saya makin giat di Tzu Chi. Hingga pada awal tahun 2003, saya dilantik menjadi relawan Biru Putih Tzu Chi. 

Di tahun yang sama, untuk pertama kalinya Tzu Chi Medan mengadakan baksos kesehatan umum di kompleks Cemara Asri yang melayani kurang lebih seribu pasien. Pengalaman baksos itu juga membuat saya tertarik untuk mengikuti kegiatan baksos kesehatan yang diadakan Tzu Chi Medan. Hingga di penghujung tahun 2004 bencana besar melanda Aceh. Bencana tsunami yang sangat dahsyat meluluhlantahkan daerah Aceh. Saya juga diajak untuk bersumbangsih dengan membantu merawat korban bencana. Saat itu memang sangat sedih melihat begitu banyaknya korban. Demi membantu sesama, kami tidak merasa takut walaupun kondisi masih belum aman.

Sejak saat itu saya selalu ikut baksos kesehatan. Saya merasa selain membantu masyarakat lepas dari penyakit yang dideritanya, baksos ini juga menolong diri saya sendiri. Kenapa demikian? Karena saya lebih mengerti arti kehidupan.

Saya sangat mencintai misi kesehatan, apalagi ketika mengadakan bakti sosial operasi mata katarak. Melihat orang bebas dari kegelapan merupakan kebahagiaan yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Dengan banyaknya pasien yang mengikuti baksos yang diselenggarakan Tzu Chi, saya juga berpikir relawan harus bisa membantu tim medis. Makanya pada 1 Juni 2017 saya mengundang dokter, perawat untuk mengajarkan relawan cara menggunakan Biometri dan Tonometer, sehingga nantinya saat bakti sosial, semua orang bisa saling membantu dan bekerja sama.

Dengan menjadi relawan bukan berarti saya terhindar dari benturan atau pun masalah hidup. Ketika menemukan masalah, saya selalu ingat perkataan Master Cheng Yen, “Membangun tekad itu mudah, namun sulit untuk mempertahankannya. Jika hanya membicarakan tekad tanpa melakukan pembinaan diri, tidak akan mampu memahami kebenaran sejati dan tidak mampu menerapkan ajaran Dharma dalam kehidupan sehari-hari." Ketika Kata Perenungan Master Cheng Yen tersebut melintas dalam pikiran saya, maka saya akan merenung dan mengoreksi diri. Kadang memang sangat sulit, namun ketika kita sanggup mengatasi kesulitan tersebut, maka itulah kesabaran sejati.

Sejak mengenal Tzu Chi pula banyak sekali perubahan baik dalam diri saya. Dulu saya seorang ibu rumah tangga yang suka membeli barang-barang branded, sekarang gaya hidup demikian sudah saya tinggalkan. Saya berpikir, kita menghamburkan uang sementara masih banyak saudara kita yang menderita. Dan dari Tzu Chi, sekarang saya jadi mengenal dunia kesehatan, dunia kedokteran, dan dunia kemanusiaan. Semoga saya bisa tetap bersumbangsih dan tetap bisa mempertahankan tekad awal.

Seperti dituturkan kepada Nuraina Ponidjan (Tzu Chi Medan)

Artikel dibaca sebanyak : 281 kali


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Security Code