Minggu, 21 April 2019
Indonesia | English

Yopie Budiyanto (Relawan Tzu Chi Jakarta)

Menjawab Panggilan Jiwa

10 April 2019


Berbicara tentang komunitas relawan Tzu Chi di Pademangan, Jakarta Utara ini, rasanya tidak bisa tidak menyebut nama Yopie Budiyanto. Perhatian dan kesabarannya menarik simpati warga. Saat ini, lebih dari 100 warga Pademangan menjadi relawan Tzu Chi.

***

Baru lima bulan menjadi relawan Tzu Chi, pada Desember 2008, Yopie Budiyanto diminta oleh Wakil Ketua Tzu Chi Indonesia Sugianto Kusuma membantu proses survei bedah rumah di Pademangan. Banyak rumah di Pademangan kala itu jauh dari kata layak.

“Waktu itu Shixiong Aguan (Sugianto Kusuma) kasih tahu, Shijie Liu Su Mei (Ketua Tzu Chi Indonesia) juga memberi arahan bahwa survei tidak boleh berdasarkan rasa kasihan. Tapi harus dengan logika, mana yang wajib dibantu, mana yang tidak,” kenangnya.


Yopie mendampingi warga Pademangan yang tengah mengikuti sebuah kegiatan di Tzu Chi Center, PIK.

Dengan berbagai tantangan yang dihadapi tim relawan kala itu, Tzu Chi Indonesia pun berhasil membangun ulang 337 rumah di sana. Yopie sangat bersyukur dan lega. Namun ibarat keringat yang belum kering, Sugianto Kusuma kembali memberikan tugas “berat”. Ia meminta Yopie untuk membina warga Pademangan.

“Bingung. Kan kalau bedah rumah orang susah semua. Orang susah  cari uang saja susah, bagaimana mau ikut kegiatan kita,” ungkap Yopie yang sempat ragu kala itu.  

Tak Ada Kata Menyerah

Tapi dasarnya Yopie tak mudah menyerah menghadapi kesulitan. Meski belum tahu cara tepat mengajak warga Pademangan bergabung menjadi relawan, ia berusaha menjalankan tugas itu sebaik-baiknya. Berkat keramahan dan kegemarannya bercanda, warga pun simpatik. Apalagi saat survei bedah rumah, ia kerap menjalin hubungan baik dengan ibu-ibu PKK (Pembinaan Kesejahteraan Keluarga. Ini adalah modal besar. Warga pun satu demi satu bergabung menjadi relawan Tzu Chi.

Pada 2010, Tzu Chi membagikan beras di Pademangan. Yopie dibantu oleh Like Hermansyah dan relawan lainnya. Akan tetapi pembagian beras ini dirasa Yopie kurang efektif karena warga yang terlibat masih sedikit. Dari bagi beras inilah Yopie bertekad harus ada setidaknya satu relawan di tiap kelurahan di Pademangan.


Yopie membuat tutup celengan yang digunakan sebagai wadah bersumbangsih bagi warga. Ketika itu Celengan Bambu Tzu Chi yang terbuat dari kaleng belum ada. 

Yopie pun makin semangat memperkenalkan Tzu Chi. Pelan tapi pasti, warga yang bergabung menjadi relawan terus bertambah. Sampai akhirnya lima RW yang ada di satu kelurahan kini ada relawan Tzu Chi-nya.

“Jadi kalau ada kegiatan apapun yang mau dijalankan, saya jadi lebih ringan, tinggal info, mereka jalankan. Kita mau merangkul mereka ya kita harus mengalah. Seperti makan, saya sangat perhatikan. Sampai waktu makan, mereka harus makan dulu. Kadang saya kehabisan, tak apa-apa yang penting saya minum. Sehingga saking dekatnya, mereka pikir saya lebih tua, mereka panggilnya Opa sampai sekarang,” tawa Yopie.

Wadah Menjalankan Passion

Selain suka bercanda dan perhatian dengan orang lain, cekatan dan tak kenal lelah juga menggambarkan sosok relawan He Qi Pusat ini. Dari muda Yopie sudah menyukai kegiatan sosial. Ia dan teman-temannya kerap patungan untuk mengunjungi panti-panti. Ia bersyukur bisa menjadi relawan Tzu Chi karena kesempatan untuk berkegiatan sosial dan kemanusiaan lebih luas lagi.

Pada tahun 1970-an, Yopie mampir ke Vihara Dharma Bakti atau yang juga dikenal dengan nama Petak Sembilan di kawasan Glodok Jakarta Barat. Di situ ia mendapati sebuah buku kecil berisi tentang riwayat hidup Master Cheng Yen. Ia langsung terkesima setelah membacanya.


Yopie membagikan celengan kepada warga yang bersedia menyisihkan Rupiah untuk bersumbangsih. 

“Saya baca, beliau bekerja dengan tenaga sendiri. Hanya makan sedikit nasi dengan sepotong tahu yang dikasi garam. Tapi saat panen, dia bawa (hasil panen) ke pasar, tukar sama beras, dan lain-lain untuk membantu masyarakat sekitar. Jadi semangat ini, saya rasa yang harus jadi teladan saya,” ujarnya.

Saat itu Yopie belum punya gambaran gamblang tentang Tzu Chi. Ia mengira Tzu Chi sama seperti yayasan lain yang menaungi sebuah vihara. Apalagi saat itu Tzu Chi juga belum ada di Indonesia. Puluhan tahun kemudian, tepatnya tahun 2008, Yopie menonton tayangan DAAI TV Indonesia yang menayangkan kegiatan Tzu Chi di Indonesia.

“Tzu Chi”, ia mencoba mengingat-ingat nama Tzu Chi. Untung saja dalam tayangan itu diceritakan juga kisah Master Cheng Yen yang makan sepotong tahu dengan tambahan garam. Persis, itulah Master Cheng Yen yang kisahnya ia baca 38 tahun yang lalu.

Tak berselang lama, saat itu Yopie bersama keluarganya berkunjung ke pusat perbelanjaan di Kelapa Gading Jakarta Utara. Ia melihat ada kegiatan di Toko Buku Jing Si, yakni sosialisasi tentang Tzu Chi. Langsung saja ia mengikuti sosialisasi itu dan mendaftar sebagai relawan Tzu Chi.


Yopie mengunjungi salah seorang warga penerima bantuan bedah rumah Tzu Chi. Saat ini Yopie menjadi Ketua Hu Ai Pusat Sehati yang mencakup Pademangan, Ancol, Pusat Grosir Cililitan (PGC), Bekasi, dan Cikarang. Ia juga bergabung di tim pemerhati untuk pembangunan Tzu Chi Hospital PIK.

Sepekan sesudahnya Yopie diajak untuk survei pasien kasus, lalu bedah rumah. Saat itu Yopie yang masuk di komunitas relawan He Qi Timur mulai diberikan tanggung jawab memegang pasien kasus. Juli 2008 ia bergabung menjadi relawan Tzu Chi, dan pada Desember 2008 ia diminta untuk membantu survei bedah rumah di Pademangan.  

Pengalaman yang Sangat Bernilai

Pengalaman demi pengalaman berharga didapat Yopie, apalagi ia bergabung dalam Tim Tanggap Darurat (TTD) Tzu Chi. Menurut Yopie kalau tidak di Tzu Chi, ia mungkin tak bisa mengalaminya secara langsung.

“Pengalaman yang saya dapat itu tidak bisa dinilai. Seperti kita bantu di tanggap darurat, bencana, baksos pengobatan, belum lagi bantuan untuk warga miskin, banyak sekali,” ujarnya.

Saat memberikan bantuan pada korban gempa Padang September 2009, ia dan relawan TTD harus jalan kaki selama lima jam untuk tiba di Dusun Hulu Banda, Nagari (Desa) Malalak Barat, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Relawan harus naik turun tebing. Ia bahkan tergelincir ketika tengah menuruni bukit yang cukup curam dan dalam. Saat itu Yopie memegang ranting pohon yang ternyata berduri sebagai penahan tubuhnya. Beruntung ia secara refleks bisa berpegangan pada pohon lainnya. Dan Syukurlah, perjuangan berbuah manis.


Yopie saat membagikan bantuan Tzu Chi bagi warga korban gempa Padang di Dusun Hulu Banda, Nagari (Desa) Malalak Barat, Kabupaten Agam, Sumatera Barat pada tahun 2009.

“Menggelinding kita. Celana putih jadi warna coklat. Luka sedikit saja sih. Sampai di sana kita disambut warga dengan betul-betul luar biasa. Karena mereka merasakan selama ini desa mereka belum ada dokter, sedang kita jauh-jauh dari Jakarta datang untuk bantu mereka. Mereka sangat berterima kasih kepada kita. Jalan lima jam, rasa capek hilang,” cerita Yopie dengan semangatnya.

Ada pula, saat membagikan beras di Waingapu, Nusa Tenggara Timur (NTT) akibat gagal panen pada Desember 2011, ia dan tim relawan menghadapi medan berat. Tak ada air bersih, tak ada listrik ataupun toilet. Meski mengalami rintangan yang menguras tenaga dan mental, toh Yopie tak kapok. Justru batinnya dialiri kebahagiaan setelah seluruh beras berhasil dibagikan.

“Mereka tuh kelihatannya galak, banyak tato, keluar bawa pedang. Tapi setelah kita bagi kupon beras dan ada yang tidak tercatat, kita sudah takut mereka akan menuntut, tapi ternyata tidak. Malah mereka terima kasih sudah membantu saudara yang lainnya. Itu satu pengalaman bagi saya yang luar biasa masih ada orang-orang yang begitu tulus,” mata Yopie menerawang.


Keakraban Yopie dan warga saat pembagian beras di Waingapu, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Desember 2011. Yopie yang dilantik menjadi Relawan Komite Tzu Chi pada tahun 2012 selalu membangun suasana keakraban di mana pun Tzu Chi menerjunkan bantuan bagi masyarakat yang terdampak bencana.

Belum hilang rasa harunya, Yopie mendapati pemandangan yang makin membuat matanya berkaca-kaca.

“Anak-anaknya kan saya bagikan permen dan biskuit. Mereka kami minta berbaris. Setelah itu masih ada permen lebih, kita panggil lagi, mau bagi lagi. Mereka bilang tidak karena sudah dapat. Baru pertama kali itu bertemu anak-anak yang begitu jujur. Mereka serba kekurangan, tapi mereka tidak serakah. Itu pengalaman saya yang luar biasa,” ujar Yopie.

Menolong orang lain memang selalu memberikan kebahagiaan yang mendalam. Pengalaman demi pengalaman berharga, khususnya saat menjalankan Misi Amal Tzu Chi turut mengubah banyak hal dalam diri Yopie. Ia begitu bersyukur jalinan jodoh yang bermula dari menemukan buku tentang Master Cheng Yen terus tersambung dan mengantarkannya menjadi relawan Tzu Chi hingga kini.

Seperti dituturkan kepada Khusnul Khotimah

Artikel dibaca sebanyak : 243 kali


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha