Halaman Utama  -  Tentang Kami
 
Master Cheng Yen, Pendiri Tzu Chi
 

Master Cheng Yen dilahirkan pada tanggal 14 Mei 1937, di Desa Qingsui, Kabupaten Taichung, Taiwan. Sewaktu masih kecil, beliau diangkat pamannya menjadi anak dan menetap di Desa Fengyuan, Taichung bersama paman dan bibinya. Ayah angkatnya memiliki usaha bioskop di beberapa kota, seperti Taichung, Feng Yuan, Qingshui, Tanzi, dan tempat lainnya. Sebagai putri sulung, dan juga otaknya yang cerdas, maka meski belum genap berusia 20 tahun, beliau sudah sanggup membantu pekerjaan ayahnya, disamping juga membantu mengurus pekerjaan rumah tangga.

Jodoh Dengan Buddha
Master memiliki kodrat luwes dan tulus serta berbakti. Di tahun 1952, saat beliau berumur 15 tahun, Ibunya menderita acute gastric perforation (luka lambung akut) yang perlu dioperasi. Pada zaman itu, pembedahan merupakan tindakan yang sangat membahayakan. Oleh karena itu, Master Cheng Yen senantiasa berdoa demi kesehatan Ibunya, dan dengan tulus mengucapkan nama Bodhisattva Avalokitesvara, bahkan berikrar, "Asalkan Ibu dapat disembuhkan, umurku rela dikurangi 12 tahun dan akan mulai menjalankan hidup bervegetarian.” Tekad ini dilakukan beliau agar umur ibunya bisa bertambah panjang. Karena sikap baktinya pada orangtua yang besar dan juga ketekunan dari Master Cheng Yen dalam merawat, penyakit ibunya bisa sembuh tanpa harus dioperasi—seperti mukjizat. Maka sejak itu, Master Cheng Yen pun mulai bervegetarian untuk memenuhi ikrarnya.

Bulan Juni 1960, ayahnya yang masih produktif dan merupakan sosok yang sangat penting baginya, mendadak meninggal dunia karena terserang penyakit. Dari mulai terjangkitnya penyakit hingga meninggal dunia tidak memakan waktu lebih dari 24 jam (1 hari). Hal ini memberi pukulan batin yang sangat hebat baginya. Beliau bertanya pada diri sendiri, apa sebenarnya hakikat kehidupan ini? Datang dari mana dan setelah meninggal akan menuju ke mana? Pertanyaan ini membuka titik perubahan kehidupan yang dicari-cari, sehingga beliau seringkali mengunjungi Vihara Ci Yun untuk mempelajari ajaran Buddha.

Justru pada kurun waktu itu, Master Cheng Yen menyadari bahwa kehidupan sebagai seorang wanita yang bisa berbelanja dan berkuasa mengatur uang belum bisa disebut bahagia. Beliau menganggap, sebagai seorang wanita, bila mampu memikul tanggung jawab di masyarakat, itu sama halnya seperti tanggung jawab seorang pria. Memperluas kasih sayang, memberi kepedulian kepada masyarakat, dan meluas kepada setiap umat manusia hingga menjadi menyayangi masyarakat dan semua makhluk, inilah kebahagiaan sejati.

Niat Master Cheng Yen dalam upaya melepaskan diri dari kehidupan duniawi sempat beberapa kali mengalami kegagalan. Pada tahun 1961, kebetulan di suatu kesempatan yang sangat berjodoh, beliau memutuskan meninggalkan keluarga dan menjauhkan diri dari kehidupan duniawi. Beliau bersama seorang guru datang ke sebuah Vihara Wangmu yang sangat bersahaja serta bobrok di Gunung Luye di Kabupaten Taidong—tanpa mencukur rambut, membina diri dalam ajaran Buddha. Di atas gunung, tanpa air, listrik, beras, minyak, dan juga tanpa bantuan dari penduduk desa.

Pada siang hari, mereka berdua pergi ke ladang memungut kacang tanah dan sayur yang tercecer dari hasil panen para petani untuk dimasak dengan air tawar sebagai lauk makanan. Malam harinya, mereka mengajar penduduk desa membaca sutra. Di kala cuaca dingin, tidak ada baju mantel untuk mereka menahan terpaan hawa yang menggigilkan, selimut tidurpun sudah usang dan banyak lubang bekas sobek, mereka melewati hari dengan susah dan penuh keprihatinan. Kendati demikian, tekad Master untuk mempelajari dan memperdalam ajaran Buddha sedikitpun tak luntur. Kemudian suatu ketika beliau meninggalkan Luye dan beberapa kali mengalami kesulitan juga, yang pada akhirnya beliau datang dan berdiam di Hua-lian, terjalinlah tali persahabatan dengan biarawan tua setempat bernama Xu Cong Min. Kala itu Master berusia 25 tahun dan berhubung tidak ada guru yang memangkas rambutnya, maka Beliau memotongnya sendiri. Saat Vihara Lingji Taipei menyelenggarakan mimbar sila-sila ajaran Buddha di bulan Februari 1963, Master memohon Guru Dharma Yin Sun agar menerimanya sebagai murid, Guru Dharma berpesan kepada Master: "Sesudah menjadi Biksuni, anda harus senantiasa bertindak demi Buddha dan semua makhluk!", Master dianugrahi nama Buddhis [Cheng Yen] dengan nama kecilnya [Hui Zhang].

Keterangan Gambar: Keadaan Griya Perenungan dalam taraf pembangunan di tahun 1968, di sekitarnya masih sepi dan gersang.

Setelah mendapat gemblengan kehidupan biksuni selama 32 hari dan kembali ke Hualian, Master menetap dalam sebuah rumah papan kecil yg berukuran kurang-lebih 4 meter persegi di belakang Vihara Puming dekat desa Jiamin, Beliau mulai menekuni dan mempelajari makna ajaran Sutra Lotus serta menghafal isi kitab tersebut setiap hari, beliau menyalin satu bagian dari isi Sutra Lotus itu setiap bulan, kemudian disebarkan kepada semua orang. Karena tidak menerima bantuan, maka penghidupan yang dihadapi cukup sulit, oleh karena itu, setiap kali bersembahyang, tiada sajian buah-buahan ataupun bunga, kendati demikian, beliau tetap saja bangun jam satu setiap pagi untuk mempelajarinya dan hasil yang didapatnya disebarkan waktu sembahyang bulanan.

Bulan Oktober 1963, Master pindah ke Vihara Cishan di Hualian memberikan ceramah Sutra Ksitigarbha selama sekitar 8 bulan, ternyata menarik banyak peminat, banyak murid seniornya yang berada di Griya Perenungan sekarang merupakan pengikut yang berjalin jodoh dengan Master di waktu itu. Kemudian, Master mengajak beberapa muridnya ini kembali mondok di Vihara Puming, sambil melatih diri di ruang belakang. Waktu itu sudah masuk musim gugur di tahun 1964, Master dan para muridnya menetapkan ketentuan pelatihan, antara lain :
1. Tidak mengadakan acara pembacaan doa untuk pihak luar;
2. Tidak mengadakan acara dharma untk pihak luar,
3. Tidak meminta sumbangan, semuanya diusahakan secara mandiri.

Sampai saat ini, biaya pengeluaran Griya Perenungan masih seperti semula yaitu dari hasil pendapatan kerajinan tangan para murid dan sama sekali tidak menyentuh atau mengunakan dana Tzu Chi satu senpun.

   

Tahun 1966, Guru Dharma Yin Sun atas undangan Universitas Kebudayaan Taipei untuk memberikan ceramah, waktu itu tempat ibadah Miao yunlan di desa Jiayi tidak ada colon pengurus yang tepat, maka Guru Dharma mengharapkan Master bisa mengajak para murid ke Jiayi untuk menetap di sana.

Namun, Master sudah bertahun-tahun menetap di Hualian sehingga membuat kedua orang lanjut usia dan 30 orang pengikutnya yang biasa mendampingi beliau melatih diri merasa berat berpisah dengannya, mereka mengajukan permohonan kepada Guru Dharma agar bisa tetap tinggal bersama Master. Beliau menghadapi dilema tetapi berkat adanya ikatan jodoh, akhirnya tetap tinggal di Hualian.

 
Tentang Kami
 Tentang Tzu Chi 
 Pendiri 
 Sejarah 
 Kantor Penghubung 
 Misi & Visi 
 Amal 
 Kesehatan 
 Pendidikan 
 Budaya Kemanusiaan 
 Pelestarian Lingkungan
 Donor Sumsum 
 Relawan Komunitas 
 Bantuan Internasional