Senin, 16 Desember 2019
Indonesia | English

50th Tzu Chi:Setengah Abad Membentangkan Jalan Cinta Kasih


Jalan terus dibentangkan dengan cinta kasih,

dan jalinan kasih sayang terus dijaga hingga bertahan selamanya. 

Suatu kali, Wang Jin Yun yang berusia sekitar 7 tahun, berjalan pulang dari sekolah. Saat itu banyak pesawat beterbangan di udara. Hal ini membuat anak-anak berteriak gembira. Namun tak lama kemudian, terdengar letusan bom yang dijatuhkan diikuti suara sirene tanda bahaya. Dalam sekejap kepanikan menyebar. Semua orang termasuk Jin Yun berlari masuk ke lubang perlindungan, menanti saatnya serangan udara berlalu dan kondisi aman.

Kenangan ini tertanam kuat dalam benak Jin Yun, yang di kemudian hari hingga sekarang kita kenal sebagai Master Cheng Yen. Di lubang perlindungan ini pula, pertama kalinya Jin Yun mengenal Bodhisatwa Avalokitesvara (Dewi Kwan Im) sebagai sosok yang welas asih dan dipercaya selalu menolong umat manusia yang menderita.

Benih Pertama Tzu Chi

“Dunia Tzu Chi” yang dibangun oleh Master Cheng Yen berasal dari sebutir benih. Benih dapat bertunas dan tumbuh menjadi pohon besar karena bertemu berbagai kondisi pendukung seperti air, mineral tanah, dan sinar matahari. Demikian pula, berbagai kondisi bagai menyirami dan menyinari benih cinta kasih dalam diri Jin Yun hingga kelak ia mendirikan dan mengembangkan Yayasan Buddha Tzu Chi.

Pada usia 12 tahun, ibunda Jin Yun mengalami sakit lambung hingga harus dioperasi. Saat itu Jin Yun yang sangat berbakti, tekun berdoa untuk kesembuhan ibunya dan bertekad untuk bervegetaris. Kemudian selama 3 malam berturut-turut, ia bermimpi tentang Bodhisatwa Avalokitesvara yang memberikan obat untuk sang ibu. Tak lama, sang ibu sembuh, dan Jin Yun pun mulai bervegetaris.

Di usia 21 tahun, ayah Jin Yun yang sehat dan gagah, mendadak meninggal dunia karena mengalami pendarahan otak. Pukulan ini membuatnya merasakan hidup manusia sangat rapuh dan singkat. “Apakah makna dari hidup yang tidak kekal ini?” Pertanyaan ini mendorong Jin Yun mencari jawaban ke Vihara Ci Yun dan kemudian berkenalan dengan Bhiksuni Hsiu Dao.

Jin Yun akhirnya meninggalkan rumah demi menjalani pelatihan diri. Bersama Bhiksuni Hsiu Dao, ia menjalani pengembaraan ke arah Timur Taiwan. Dengan kondisi serba kekurangan, mereka berdua berpindah ke beberapa vihara, sambil mengajarkan Sutra dan membabarkan Dharma pada penduduk setempat. Pengembaraan mereka akhirnya berlabuh di Hualien. Jin Yun membulatkan tekadnya menjadi bhiksuni dan diterima sebagai murid Master Yin Shun. Maha Guru Yin Shun memberinya nama Dharma “Cheng Yen” dan berpesan untuk selalu berbuat “demi ajaran Buddha, demi semua makhluk hidup”.

Dari 30 Ibu Rumah Tangga Menjadi 50 Negara

Dengan harapan dapat membantu orang yang menderita dan mempraktikkan ajaran welas asih Buddha dalam tindakan nyata, Master Cheng Yen awalnya melatih diri dengan menyepi di pondok kayu, memutuskan untuk terjun ke tengah masyarakat. Beliau mengajak ibu-ibu rumah tangga untukmendedikasikan diri membantu masyarakat yang membutuhkan. Inilah tonggak pertama berdirinya Tzu Chi. Yayasan sosial ini berawal dari kumpulan cinta kasih 30 ibu rumah tangga pada tahun 1966. Mereka menyisihkan 50 sen dolar NT (setara 200 rupiah) dari uang belanjanya setiap hari, sehingga terkumpul 15 dolar NT setiap bulannya. Disaat yang bersamaan, para ibu rumah tangga juga menyebarkan semangat Tzu Chi untuk berbuat amal dan menolong rakyat miskin di pasar tempat mereka biasa berbelanja. Kabar bahwa hanya dengan 50 sen dapat menolong orang pun tersebar dari mulut ke mulut di antara pedagang kecil di pasar. Dari himpunan setetes demi tetes ini Tzu Chi mulai membantu masyarakat. Semangat “dana kecil amal besar” ini terus hidup hingga saat ini.

Para insan Tzu Chi setahap demi setahap mewujudkan ikrar menebarkan cinta kasih universal. Dimulai dari dasawarsa (10 tahun) pertama Tzu Chi berfokus pada misi Amal yang menjadi akar dari jejak langkah Tzu Chi di dunia. Dalam misi Amal ini, pada tahun 1967 untuk pertama kalinya Tzu Chi membantu membangun rumah bagi seorang tua yang buta. Kakek tua yang setiap harinya tinggal di sebuah gubuk, akhirnya tinggal di tempat yang layak di rumah berdinding batu bata. Amal serupa juga dilakukan dengan pembagian bantuan musim dingin di Wihara Pu Ming dan Griya Jing Si. Misi Amal Tzu Chi pun terus berlanjut hingga sekarang.

Pada dasawarsa kedua, misi Kesehatan pun mulai dijalankan.Tzu Chi mulai mengadakan pengobatan gratis dua kali setiap minggunya untuk masyarakat kurang mampu. Disusul pada dasawarsa ketiga di misi pendidikan yakni dengan dibukanya Universitas Keperawatan Tzu Chi dan diterbitkannya buku pertama Jing Si Aphorisms (Kata Perenungan Master Cheng Yen). Selanjutnya pada dasawarsa keempat di misi budaya humanis dengan beroperasinya DaAi TV.

Hingga sekarang, Tzu Chi memasuki tahun ke-50, para relawan mengisinya dengan menyelami Dharma, menanam berkah serta mengembangkan kebijaksanaan secara bersama-sama. Setengah abad perjalanan Tzu Chi ini, Master Cheng Yen berharap para relawan yang telah tersebar di 53 negara, tidak hanya berbuat kebajikan ke luar membantu masyarakat yang membutuhkan, tetapi juga membina dan melatih diri ke dalam.

Tzu Chi Menyebar di Nusantara

Kapal Tzu Chi yang berlabuh di Indonesia mulai menaburkan cinta kasih ke penjuru nusantara. Sama seperti di Taiwan, perjalanan Tzu Chi Indonesia juga diawali dengan misi Amal yang dimulai sejak 1993 yang dimotori oleh ibu-ibu rumah tanggalewat kunjungan ke panti-panti, juga memberi bantuan kemanusiaan. Dua tahun kemudian diikuti misi Kesehatan dengan memberikan perhatian dan penanganan jangka panjang bagi penderita TBC di Tangerang. Kegiatan-kegiatan ini pun disusul dengan misi Pendidikan dan misi budaya humanis juga misi pelestarian lingkungan di berbagai wilayah Indonesia.

Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, Liu Su Mei merupakan salah satu pelaku sejarah sejak awal berdirinya Tzu Chi di nusantara. “Selama 23 tahun, saya sangat berterima kasih atas bantuan dan sumbangsih banyak orang, sehingga dapat mewujudkan Tzu Chi Indonesia seperti sekarang ini. Tzu Chi Indonesia telah mewujudkan empat misi dan delapan jejak langkah Tzu Chi dengan mantap,” ungkap Liu Su Mei. Selain Taiwan, Indonesia adalah negara pertama di seluruh dunia yang mewujudkan empat misi Tzu Chi. “Kita harus mensyukuri dan menghargai ini, karena ini semua diperoleh dengan tidak mudah,” ujarnya.

Menurut Liu Su Mei,tersebarnya Tzu Chi ke 53 negara merupakan buah dari cinta kasih relawan Tzu Chi di Taiwan yang membawa cinta kasih universal ke seluruh dunia. Di sisi lain juga karena adanya jalinan jodoh lainnya seperti bencana alam hingga insan Tzu Chi memberi bantuan ke sana. Komitmen Tzu Chi Indonesia selama dua dekade, membuat Tzu Chi menerima pengakuan dan mendapat dukungan dari pemerintah. Hingga Tzu Chi Indonesia mendapat kepercayaan untuk menjalin Memorandum of Understanding (MoU) dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI). “Jadi setiap ada negara yang mengalami bencana, kita akan bekerjasama dengan TNI untuk saling membantu,” kata Liu Su Mei, Ketua Tzu Chi Indonesia ini. Bisa berpartisipasi dalam membantu korban bencana (nasional maupun internasional) bagi Liu Su Mei merupakan lahan yang mesti dimanfaatkan relawan Indonesia untuk belajar melakukan bantuan internasional. “Ini termasuk salah satu perkembangan positif bagi Tzu Chi Indonesia,” ucapnya.

Tzu Chi Indonesia yang telah mewujudkan empat misi Tzu Chi diiringi dengan satu langkah menggalang Bodhisatwa dunia. Lebih lanjut Liu Su Mei menuturkan bahwa untuk menciptakan sumber daya mesti memiliki struktur yang baik. Beliau berharap agar semua relawan Tzu Chi dapat berkembang dengan baik, memiliki jejak langkah yang mantap, visi misi yang benar, dan arah tujuan yang jelas. “Kita berharap dapat menjadi murid Master (Cheng Yen) yang penuh pengertian, agar Master dapat merasa tenang. Ini adalah arah besar Tzu Chi Indonesia,” tukasnya.

Arah yang Tidak Pernah Berubah

Memperingati setengah abad berdirinya Tzu Chi, Master Cheng Yen di Taiwan memberikan pesan secara langsung kepada insan Tzu Chi di seluruh dunia pada Sabtu, 30 April 2016. “Saya sangat berharap agar niat awal kalian tetap terjaga dengan baik dalam sanubari kalian untuk selamanya. Selain itu juga harus tetap giat berbuat kebajikan,” kata Master Cheng Yen. Beliau juga menyampaikan rasa syukur kepada seluruh insan Tzu Chi di dunia yang telah bersumbangsih tanpa pamrih dan mendukung Tzu Chi hingga menyebar dari Taiwan ke seluruh penjuru dunia.

Sejak didirikan 50 tahun lalu hingga sekarang, arah tujuan Tzu Chi tidak pernah berubah dan Master Cheng Yen berharap insan Tzu Chi terus mempertahankannya di masa mendatang dan memahami bahwa berjalan di jalan Bodhisatwa adalah bersumbangsih. Segala pencapaian Tzu Chi pada saat ini, semuanya berkat fondasi cinta kasih dalam hati banyak orang. “Di manapun ada orang yang menderita atau kapan pun terjadi bencana, relawan Tzu Chi segera merespon dengan cepat dan sepenuh hati. Inilah kekuatan cinta kasih. Cinta kasih sejati ini, dapat menginspirasi banyak orang lain dan menggerakkan mereka ikut menjadi Bodhisatwa dunia (Selalu membantu makhluk yang menderita –red).Demikianlah cinta kasih berestafet dari satu orang ke orang yang lain, hingga membentangkan jalan cinta kasih di seluruh dunia,” ungkap Master Cheng Yen.

Sementara itu, untuk mempertahankan jalinan kasih sayang untuk selamanya, Master Cheng Yen berharap para insan Tzu Chi mendalami Dharma dan mempraktikkan nilai Ketulusan, Kebenaran, Keyakinan, Kesungguhan, Disiplin Moral, Konsentrasi, dan Kebijaksanaan.Master Cheng Yen menegaskan, “Dengan memiliki keyakinan terhadap Dharma dan bersikap tulus, kita akan dapat menapaki jalan Tzu Chi dengan jelas dan mantap hingga ribuan tahun mendatang.”

Artikel dibaca sebanyak : 1134 kali
Seulas senyuman mampu menenteramkan hati yang cemas.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat