Minggu, 21 April 2019
Indonesia | English

16 Unit Rumah di Cilangari Segera Rampung

08 April 2019 Jurnalis : Anand Yahya
Fotografer : Anand Yahya


Pembangunan rumah Ecep mulai rampung. Di sisi kiri, rumahnya dibangun dengan luas bangunan 5x7 meter persegi. Rumah ini terdiri dari 2 kamar tidur, satu ruang tamu, satu dapur, dan satu kamar mandi. Di sisi kanan rumah Ecep yang lama akan dibongkar dan dijadikan kebun.

Potret kemiskinan dan hidup sengsara tak harus terucap dalam keluhan. Semisal, Ecep ini, pahit getirnya hidup tak membuatnya menengadahkan tangan meminta belas kasihan. Ia tetap hidup apa adanya hingga program bedah rumah Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia menyeleraskan angan-angan Ecep untuk meneduhkan rumahnya.

***

Hidup serba kekurangan memang bukan pilihan. Namun, jalan hidup berkata lain kepada kakek renta ini. Dia adalah Ecep, warga RT. 001, RW.009, Dusun Tegallega, Desa Cilangari, Kecamatan Gunung Halu, Kabupaten Bandung Barat. Hidup keluarga Ecep (75) bersama istri, satu anak dan satu cucu ini tanpa kenyamanan. Beratnya hidup sudah menjadi catatan takdir kala Ecep di usia senja.

Ecep tinggal di rumah reot di atas tanah seluas 800 meter persegi. Rumah gubug itu dibangunnya sejak tahun 1978, saat Ecep masih kuat fisiknya. Ecep bahagia melihat rumahnya yang sudah puluhan tahun tak layak huni, kini dibangun kembali oleh Tzu Chi. Kegiatan membangun rumah ini dilaksanakan oleh para relawan Tzu Chi Bandung dan karyawan Gistex Indonesia di Dusun Tegallega Desa Cilangari, Kecamatan Gunung Halu Kabupaten Bandung Barat. Ada 16 unit rumah yang sedang dibangun di Desa Cilangari kecamatan Gunung Halu Kabupaten Bandung Barat.


Ecep yang bekerja serabutan dan menggarap kebun orang masih giat menghidupi keluarganya dengan mencari kayu bakar di hutan, di sekitar rumahnya.

Senja di ufuk sudah semakin gelap. Umur Ecep semakin tua. Untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, Ecep bekerja menjadi buruh tani di tanah orang. Ecep menderita tumor di leher kanannya, guratan wajah semakin memperjelas usia senjanya. Entah sejak kapan, Ecep tidak ingat pastinya tumor leher kanannya kian membesar. Dijelaskannya, awalnya hanya benjolan kecil saja. Kini benjolan itu kian membesar. Sementara anaknya mengalami gangguan penglihatan, begitupun cucu Ecep juga sama. 

Keadaan ini, membuat kakek beruban itu kian sulit untuk menapaki roda kehidupan. Hanya sekedar jalan saja harus perlahan. Beruntung tetangganya berempati, saban hari membantu keluarga Ecep, seperti memberi makanan dan mengambil air.


Pada bulan Desember 2018 lalu relawan Tzu Chi mensurvei rumah Ecep di Cilangari, Bandung Barat. Dalam kesempatan itu relawan Tzu Chi berbicara langsung dengan Ecep.

Ecep tinggal di rumah yang terbilang cukup besar. Rumah panggung berlantai papan mendominasi seluruh rumahnya dari depan hingga belakang. Becek, tentu terjadi ketika hujan. Air hujan juga dipastikan masuk ke dalam rumah dan membuat lantai papan menjadi lembab. Diperparah dengan atap rumah Ecep yang bocor di sana sini.

“Rumah saya ya begini ini dari dulu. Saya sudah tidak punya apa-apa,” kata Ecep sembari duduk di depan rumahnya.

Rumah berdindingkan anyaman bambu dan papan kayu itu semakin mengenaskan ketika hujan bercampur angin tiba. Kayu di bagian teras rumah sudah tidak lagi mampu menopang atap genteng batu bata miliknya. Bahkan, rumah itu nyaris roboh. Dinding yang di sisi timur rumah akan miring karena kayu tiang penyangganya sudah keropos.

Ecep sejak kecil sudah tinggal di sini. Ia menjadi buruh di kebun orang, “Yang penting kerja,” jelasnya dengan bahasa Sunda kasar sambil memandang langit-langit rumahnya yang dipenuhi sarang laba-laba.


Rumah Ecep yang lama sangat besar namun hanya di huni oleh 4 orang. Untuk itu relawan membangunkan kembali rumah Ecep lebih kecil berukuran 5x7 meter persegi dan lahannya akan dijadikan perkebunan sayur.

Tim dokumentasi Tzu Chi berkesempatan mendatangi rumah Ecep pada Jumat (5/4/2019). Jaraknya sekitar 400 meter dari Kantor Desa Cilangari. Marlius, kordinator relawan Tzu Chi dari Gistek Indonesia mengatakan bahwa pembangunan rumah di Desa Cilangari ini sudah berjalan sejak awal Maret 2019. Pembangunan sedikit terhambat dikarenakan terbatasnya bahan material dan pengangkutan material ke lokasi rumah yang terletak di lereng bukit.

“Saya sangat senang sekali, terima kasih kepada Yayasan Buddha Tzu Chi, yang sudah membangunkan rumah saya, sehingga nantinya bisa menjadi tempat tinggal saya, istri, anak, dan cucu saya,” kata Ecep.

Tak lama lagi, sekitar 2 minggu ke depan rumah Ecep yang dibangun kembali berukuran 5 x 7 meter persegi sudah siap untuk dihuni. Di dalamnya ada dua kamar tidur, satu ruang tamu, satu dapur, dan satu kamar mandi. Sementara rumah lamanya yang ada di sisi kanannya akan dibongkar dan dijadikan kebun sayur untuk kebutuhan keluarga Ecep.


Relawan Tzu Chi Bandung ketika mensurvei rumah Ahmad pada bulan Desember 2018 lalu. Kini rumah Ahmad sudah hampir selesai dibangun.

Tidak terbayang oleh Ecep jika rumahnya akan diperbaiki oleh Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. “Gak ada firasat apa-apa, ngimpi juga enggak, tiba-tiba rumah saya ada yang mau bangun ulang,” tutur Ecep.

Lain halnya yang dirasakan oleh Ahmad (60) bapak satu anak ini tidak menyangka jika rumahnya akan dibangun ulang oleh Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. Ahmad bekerja sebagai buruh serabutan berpenghasilan 25 ribu per hari. Uang itu ia gunakan untuk membiayai istri dan seorang anak gadisnya. Lokasi rumah Pak Ahmad berada di Kampung Neglasari Rt.04/13 Kelurahan Cilangari. Cukup sulit untuk sampai di sana pada musim hujan seperti ini. Ketika tim relawan mengunjunginya, mereka harus menggunakan sepeda motor dan melintasi lereng bukit, jalan setapak yang dikelilingi perkebunan sereh dan sawah.

Ahmad sedang menggergaji potongan balok di sisi belakang rumah ketika relawan datang berkunjung. Sementara tukang yang lainnya sedang memasang tembok GRC Board sebagai dinding rumah, lantai papannya sebagian belum terpasang. Di sudut belakang rumah sedang mengerjakan kamar mandi berukuran 1.5 x 1.5 meter persegi. Dulu rumah ini memang tidak memiliki sarana MCK.


Relawan Tzu Chi sedang mengunjungi rumah Ahmad yang sedang dibangun. Rumah panggung berlantai papan menjadi ciri khas budaya rumah warga Desa Cilangari. Untuk itu Tzu Chi membangun rumah warga dengan tidak mengubah atau menghilangkan unsur budaya warga Desa Cilangari.

Atap rumah juga sudah terpasang semua, dinding rumah sebagian sudah tertutup. Minggu ini tinggal pemasangan pintu dan jendela karena materialnya belum tersedia. Rumah Ahmad berdiri di atas lahan 4x10 meter persegi dan dihuni oleh 3 jiwa.

Ahmad sangat terkesan sekaligus tidak menyangka bahwa ia menerima bantuan pembangunan rumah kembali dari Tzu Chi. “Yang membantu rumah bapak ini adalah Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia cabangnya ada di Bandung, yayasan ini bergerak di misi kemanusiaan tidak ada unsur agamanya, walaupun nama yayasannya ada kata Buddha,” ujar Ricky Budiman, relawan Tzu Chi Jakarta. “Kami membantu berlandaskan cinta kasih universal. Untuk itu kami berharap ke depannya Pak Ahmad bisa menjadi relawan Tzu Chi membantu yang membutuhkan pertolongan,” lanjut Ricky.

Beratnya beban yang dialami Ecep dan Ahmad kini sudah semakin sedikit lega. Meski secara periodik, masih terdaftar dalam kategori warga sangat miskin. Namun, raut kegembiraan terpancar ketika menyaksikan rumahnya telah hampir selesai dibangun. Ucapan syukur terus berkumandang pada bibir Ecep dan Ahmad atas apa yang diberikan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia untuk menyongsong masa tua mereka.


Editor: Metta Wulandari

Artikel dibaca sebanyak : 280 kali


Berita Terkait


Rumah yang Kini Lebih Nyaman

28 September 2018

Melihat Langsung Bedah Rumah Tzu Chi di Pademangan

05 Agustus 2018

Sukacita di Usia Senja

22 Februari 2017

Mengukur Bentala Warga Bedah Rumah

18 April 2016

Kehangatan Keluarga di Parung Panjang

21 Maret 2016


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Tiga faktor utama untuk menyehatkan batin adalah: bersikap optimis, penuh pengertian, dan memiliki cinta kasih.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat