Kamis, 15 November 2018
Indonesia | English

Berbagi Kebaikan Lewat Pelayanan Kesehatan

05 November 2018 Jurnalis : Arimami Suryo A
Fotografer : Arimami Suryo A


Relawan Tzu Chi Indonesia membantu mengatur alur pendaftaran para warga yang ingin mendapatkan pelayanan kesehatan dalam baksos Tzu Chi ke-124 yang bekerja sama dengan TNI di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Akhirnya Junaedi bisa tersenyum bahagia setelah benjolan di dahinya bisa diangkat oleh tim medis dari Tzu Chi International Medical Association (TIMA) Indonesia. Sebelumnya, Junaedi selalu menutupi benjolan tersebut dengan topi dan rambutnya karena malu. Namun berkat baksos kesehatan Tzu Chi ke-124 di Lombok, NTB yang bekerja sama dengan TNI pada 1-2 November 2018, kepercayaan dirinya pun pulih dan dapat menjalankan aktivitas keseharian tanpa gangguan apapun.

Setelah melalui proses screening pada 31 Oktober 2018, Junaedi bersama 6 pasien lainnya kemudian ditangani melalui proses operasi di RSUD Provinsi Nusa Tenggara Barat. “Pas mau operasi saya takut dan baca-baca doa,” cerita Junaedi. Setelah dipanggil dan membersihkan kaki dengan cairan anti septik, Junaedi segera mengenakan baju operasi dan memasuki ruangan operasi. “Deg-degan, apalagi pas disuruh tiduran sama dokter,” kenangnya.

Setelah masuk ruang operasi, Junaedi memberanikan diri untuk menjalani operasi benjolan yang ada di dahinya tersebut. Setelah 30 menit berlangsung, benjolan yang ada di dahi Junaedi berhasil diangkat oleh dokter TIMA Indonesia yang menanganinya. “Saya menunggu kesempatan ini dari tahun 2011 dan akhirnya terwujud,” ungkap Junaedi saat ditemui di ruang pemulihan pascaoperasi.


Dokter bedah dan perawat OK dari TIMA Indonesia menangani pasien bedah di RSUD Provinsi Nusa Tenggara Barat.


Kebahagiaan Junaedi (tengah) yang ditemani oleh adik dan relawan Tzu Chi di ruang pemulihan pascaoperasi yang mengangkat benjolan di dahinya.

Keluarga yang menemani Junaedi saat pelaksanaan operasi juga merasa bahagia setelah operasinya berjalan dengan baik. “Lega dan tidak khawatir sekarang, dulu saya suka mikir apalagi kalau dia sholat kan benjolan itu menggangu saat sujud,” kata Ida (28), adik ipar Junaedi di ruang pemulihan. Ida merasa kasihan jika Junaedi harus sendirian saat operasi, ia bersama suaminya pun menunggu di RSUD Provinsi Nusa Tenggara Barat karena istri Junaedi tidak bisa mendampingi karena mengasuh kedua anaknya di rumah.

Pascaoperasi, Junaedi ditemani relawan di ruang pemulihan. Ia pun merasa senang setelah operasi karena nantinya bisa beraktivitas kembali tanpa ada rasa malu. “Saya ucapkan banyak terima kasih untuk baksos ini, terutama sama dokter dan relawan Tzu Chi. Mereka ramah-ramah dan baik. Kalau tidak ada ini (baksos) mungkin saya terus menutupi dahi saya dengan topi,” ungkap laki-laki yang kesehariannya menjadi buruh tani tersebut.

Menyehatkan Keluarga Pascabencana


Relawan Tzu Chi membantu Yanti memapah Kerti yang kesulitan berjalan di Lapangan Tanjung, Lombok Utara ditemani oleh Yudha, cucu Kerti, saat akan mendapatkan pelayanan kesehatan.

Bukan hanya Junaedi yang terbantu dengan adanya baksos kesehatan Tzu Chi ke-124 yang diadakan juga di Lapangan Tanjung, Lombok Utara ini, Kerti (85) warga Dusun Kumba, Desa Tegal Maja, Lombok Utara juga merasa terbantu dengan adanya baksos tersebut. Ditemani anaknya, Yanti (23) dan cucunya Yudha (7), Kerti memeriksakan kondisi kakinya karena belum bisa berjalan normal kembali pascagempa. Ia salah satu korban gempa, kakinya tertimpa material rumah yang runtuh saat terjadi gempa di Lombok Utara.

“Setelah ditolong, ibu saya (Kerti) tidak langsung mendapatkan perawatan medis karena lokasi rumah kami terpencil. Selang beberapa hari, baru ada perawat yang berkunjung ke dusun,” jelas Yanti mewakili ibunya yang sulit berbahasa Indonesia. Walaupun sudah mendapatkan perawatan medis, kaki Karti belum kunjung sembuh juga, upaya untuk bisa berjalan normal juga dilakukan melalui pengobatan alternatif dengan diurut.

Hal itu pun juga tidak kunjung membuat kaki Kerti bisa berjalan dengan normal. Sampai akhirnya keluarga ini mengetahui akan diadakan baksos kesehatan. “Awalnya ya dikasih tahu oleh kakak saya ada baksos di Tanjung. Sekalian aja kami memeriksakan kesehatan sekeluarga karena anak saya juga sakit,” kata Yanti di sela-sela menunggu antrean pelayanan kesehatan.


Dokter gigi dari TIMA Indonesia melayani pasien anak dalam baksos kesehatan Tzu Chi ke-124.


Dengan sigap, para relawan Tzu Chi membantu mempersiapkan obat bagi para pasien di Lapangan Tanjung, Lombok Utara.

Selain Kerti, Yanti juga memeriksakan kesehatannya dalam kegiatan baksos Tzu Chi di Lapangan Tanjung tersebut. “Kata dokter saya kurang tidur dan istirahat,” ucap Yanti sesaat setelah selesai diperiksa oleh dokter TIMA Indonesia. Rupanya, keluhan kesehatan juga dialami oleh Yudha, anak dari Yanti yang juga cucu Kerti ini.

“Yudha itu sering mimisan dan batuk-batuk, hampir setiap hari pasti hidungnya berdarah,” jelas Yanti. Kejadian yang dialami Yudha ini sudah berlangsung selama 1,5 tahun, dalam kurun waktu tersebut anak dari Yanti ini belum pernah memeriksakan kondisinya ke rumah sakit atau puskesmas terdekat. “Baru kali ini mau diperiksakan, tadi diarahkan untuk menuju poli anak,” kata Yanti.

Baksos kesehatan ini sangat berarti bagi warga Tanjung dan wilayah Lombok Utara lainnya. Khususnya Kerti, Yanti, dan Yudha yang tinggal di wilayah yang terpencil bisa mendapatkan pelayanan kesehatan secara gratis. “Sangat membantu warga, apalagi warga yang kurang mampu. Setelah gempa kan masih banyak yang tidur di pengungsian, pasti banyak yang sakit,” ungkap Yanti. Ia berharap semoga sering diadakan pemeriksaan kesehatan supaya kondisi kesehatan warga bisa terpantau dalam kurun waktu tertentu.

Pengalaman Berharga

Relawan yang mengikuti kegiatan baksos Tzu Chi ke-124 yang dilaksanakan di RSUD Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Lapangan Tanjung, Lombok Utara ini pun juga mendapatkan pengalaman yang berharga. Salah satunya adalah Muhammad Lubabul Muhibbin (22), ia adalah salah satu santri dari Pondok Pesantren Nurul Iman, Parung, kab Bogor yang juga merupakan anak asuh beasiswa karir dari Tzu Chi.

Baksos ini menjadi pengalaman pertamanya setelah lulus kuliah dan mulai bekerja di Rumah Sakit Cinta Kasih (RSCK) Tzu Chi. “Ada kebahagiaan tersendiri, karena membantu orang-orang yang terdampak gempa di sini,” ujar Lubab. Awal jalinan jodohnya dengan Tzu Chi dimulai sejak ia menjadi santri dan bersekolah SMA di Nurul Iman pada tahun 2011.


Muhammad Lubabul Muhibbin (22), anak asuh beasiswa karir Tzu Chi yang mengikuti baksos kesehatan Tzu Chi.


Dr. Ruth O Anggraini (kanan) mendengarkan keluhan pasien di RSUD Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Kerap kali ia mengikuti kegiatan baksos kesehatan yang diadakan Tzu Chi bersama Nurul Iman hingga pada tahun 2014 ia menjadi anak asuh Tzu Chi. “Sebelum lulus SMA di Nurul Iman, saat itu ada sosialisasi beasiswa karir dari Tzu Chi, kemudian saya mengajukan. Ada seleksi dari Nurul Iman awalnya, kemudian ada seleksi lagi dari Tzu Chi dan saya lulus,” cerita pemuda asal Jember, Jawa Timur tersebut.

Lulusan Teknik Elektromedik di salah satu perguruan tinggi di Jakarta ini juga memiliki kesan tersendiri saat mengikuti proses baksos kesehatan dari awal sampai akhir di Lombok. “Senang, yang jelas banyak hal yang tidak kita ketahui di kampus jadi tahu di sini. Di kampus belum tentu ada menyiapkan alat medis secara detail, sedangkan baksos kesehatan ini harus detail menyiapkan segala alatnya,” kata Lubab. Karena baru pertama kali mengikuti baksos kesehatan Tzu Chi, Lubab juga mendapat pengarahan dari tim logistik medis untuk mempersiapkan alat-alat medis.

“Satu hal yang membedakan, jika di pesantren saya kenal dengan para santri. Sedangkan di sini, saya tidak kenal. Tapi saya jadi mendapat pengalaman berharga bisa berinteraksi dengan orang banyak dengan budaya yang berbeda-beda,” kata Lubab. Ia juga menambahkan bahwa situasinya baksosnya beda sekali dengan baksos di pesantren. Jika di pesantren tertib, dalam baksos di Lombok ini ia dan para relawan Tzu Chi yang ikut membantu kegiatan baksos ini harus ekstra mengakomodir para pasien yang antusiasnya begitu besar. “Ada pengalaman tersendiri dari kegiatan baksos di luar ini. Jika ada kesempatan dan jadwalnya pas dengan jadwal di RSCK, saya mau ikut lagi,” ungkap Lubab.

Baksos kesehatan Tzu Chi ke-124 yang berlangsung selama 2 hari di RSUD Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Lapangan Tanjung, Lombok Utara tersebut (1 – 2 November 2018) juga menjaring ribuan pasien. Tercatat sebanyak 2.956 pasien berhasil diberikan pelayanan kesehatan. “Kali ini kita memberikan pelayanan bedah, gigi, umum, dan spesialis,” jelas drRuth O Anggraini, Koordinator Baksos Kesehatan Tzu Chi.

Dr. Ruth juga berharap masyarakat Lombok bisa cepat bangkit supaya kualitas kesehatan masyarakat juga naik. “Sangat luar biasa animo dari masyarakat, karena mereka ingin segera bangkit dan ingin kembali ke kehidupan normal. Kita pun mendukung dengan memberikan pelayanan kesehatan,” tutup dr. Ruth sebelum pelaksanaan baksos berakhir.

Editor: Metta Wulandari

Artikel dibaca sebanyak : 185 kali


Berita Terkait


Menjawab Penantian Junaedi

01 November 2018


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Berlombalah demi kebaikan di dalam kehidupan, manfaatkanlah setiap detik dengan sebaik-baiknya.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat