Senin, 16 Desember 2019
Indonesia | English

Dharmasanti Waisak Nasional: Menjaga Kobar Api Pancasila dan Gotong Royong

05 Juni 2018 Jurnalis : Tim Redaksi Tzu Chi Indonesia
Fotografer : Anand Yahya, Arimami Suryo A, Halim Ong (He Qi Barat 1)

Dharmasanti Waisak Nasional:  Menjaga Kobar Api Pancasila dan Gotong Royong


Laporan dan sambutan Ketua Panitia Dharmasanti Waisak 2562/2018 oleh Arief Harsono (tengah) yang juga merupakan Ketua Permabudhi. Ia didampingi oleh pengurus dan Ketua Majelis dari Permabudhi.

Masih dalam suasana Waisak 2018. Senin kemarin, 4 Juni 2018, peringatan Dharmasanti Waisak Nasional 2562 BE/2018 dengan tema Bersatu, Berbagi, Dengan Cinta Kasih Membangun Bangsa baru saja diadakan oleh Permabudhi (Perhimpunan Majelis Agama Buddha Indonesia) bekerja sama dengan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia.

Dharmasanti Waisak Nasional tersebut dihadiri oleh Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri, Wakil Presiden ke-6 RI Try Sutrisno, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI Puan Maharani, Komjen. Pol. Drs. Lutfi Lubihanto (Kepala Badan Intelijen dan Keamanan Polri), Marsekal Muda TNI Tatang (Pati Sahli Bidang Personil Panglima TNI), serta Ketua Umum PBNU Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj. Tercatat ada 1.458 tamu undangan yang hadir dari Majelis-majelis Buddha yang tergabung dalam Permabudhi di seluruh Nusantara.

“Tujuannya kami adalah untuk mempersatukan seluruh umat Buddha yang ada di  Indonesia, yang terdiri dari majelis-majelis dengan berbagai kegiatan dan kekuatan untuk bersama membangun Indonesia. Apabila semua bersatu, hasilnya akan lebih baik,” tutur Ketua Permabudhi Arief Harsono.

Gotong Royong Mempersatukan Keberagaman


Wakil Ketua Tzu Chi Indonesia Sugianto Kusuma menyambut kehadiran Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri. Dharmasanti Waisak ini juga dihadiri oleh Wakil Presiden ke-6 RI Try Sutrisno, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI Puan Maharani, dan 1.458 tamu undangan.

Bertempat di Jiang Jing Tang, Aula Jing Si lantai 4, Tzu Chi Center, Pantai Indah Kapuk, Dharmasanti Waisak Nasional terasa amat khusyuk apalagi ditambah dengan pesan Waisak yang disampaikan oleh Kepala (Saṅghapamokkha) Saṅgha Theravāda Indonesia (STI) Yang Mulia Bhikkhu Sri Paññāvaro Mahāthera. Beliau mengutarakan tentang gotong royong yang menjadi napas peri kehidupan di seluruh pelosok tanah air yang menurutnya kini terasa semakin memudar.

“Bapak Penggali Pancasila, Bung Karno, memeras Pancasila menjadi satu ungkapan yang menjati diri bangsa ini sejak berabad-abad silam. Jati diri bangsa itu adalah: gotong royong,” ungkap Bhikkhu Sri Paññāvaro di hadapan para tamu undangan.


Kepala (Saṅghapamokkha) Saṅgha Theravāda Indonesia (STI) Yang Mulia Bhikkhu Sri Paññāvaro Mahāthera memberikan pesan Waisak.

Gotong royong dijabarkan oleh Bhikkhu Paññāvaro merupakan pengejawantahan yang utuh dari kehidupan religius bangsa Indonesia, ketulusan rasa kemanusiaan, hidup rukun sebagai bangsa, mengedepankan musyawarah, dan peduli akan kesejahteraan bersama.

“Moral cinta kasih, peduli, dan tanpa ke-aku-an, adalah satu tarikan napas dengan moral gotong royong,” imbuh Bhikkhu Paññāvaro. Menurutnya sikap tersebut pun sudah tercermin dalam diri setiap insan Tzu Chi, “Itu (relawan –red) pengabdian yang tanpa pamrih, rame ing gawe sepi ing pamrih dalam bahasa Jawa, yang artinya rajin bekerja tanpa pamrih. Tujuan sih ada, tujuan untuk kesejahteraan, untuk kemajuan tapi tanpa pamrih.”


Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI Puan Maharani mewakili Presiden Jokowi memberikan amanat dan pesan Waisak.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI Puan Maharani pun mengingatkan hal yang tak jauh berbeda dengan penuturan Bhikkhu Paññāvaro. Puan mengingatkan sesama masyarakat untuk peduli satu sama lain sehingga menjaga kobaran Pancasila, gotong royong.

“Bhinneka Tunggal Ika, keberagaman, toleransi beragama, kita ini terdiri dari 714 suku yang hidup di 17 ribu pulau, mempunyai 1.100 bahasa, namun tetap saja kita tinggal di Indonesia, kita rakyat Indonsia, adalah satu saudara, kita satu bangsa dan bahu membahu dan bergotong royong,” tegas Puan.

“Satu hal yang paling penting untuk saat ini adalah gotong royong dalam toleransi beragama. Ini yang harus kita lakukan dan tingkatkan bersama tanpa memandang suku bangsa,” lanjutnya.

Antusias untuk Bersatu Membantu Sesama


Seluruh pengurus Permabudhi dan perwakilah dari Tzu Chi berfoto bersama Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri, Wakil Presiden ke-6 RI Try Sutrisno, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI Puan Maharani di akhir acara.

Ribuan umat dari berbagai majelis agama Buddha di Indonesia yang hadir mengikuti kegiatan Dharmasanti Waisak umat Buddha 2562 BE/2018. Tak terkecuali dari Majelis Pandita Buddha Maitreya Indonesia (Mapanbumi). Suryani bersama rombongan dari Mapanbumi pun sangat antusias mengikuti acara yang digelar oleh Permabudhi.

“Acara Dharmasanti hari ini bagus sekali. Temanya bagaimana kita membangun bangsa dengan persatuan jadi begitu banyaknya majelis kumpul kita satukan dengan satu misi, satu hati sama-sama berjuang untuk kemajuan Indonesia,” ujarnya.

Ia berharap melalui kegiatan Dharmasanti Waisak tahun ini bisa menyatukan hati umat Buddha dalam menebarkan cinta kasih. “Semoga umat Buddha bisa lebih menebarkan cinta kasih bukan hanya diri sendiri tapi kepada keluarga, dunia jadi benar-benar menebarkan cinta kasih kepada semua makhluk,” ungkap anggota Mapanbumi ini.

Selain Suryani, Hong Tjhin yang mewakili Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia pun mengaku antusias dengan diadakannya Dharmasanti Waisak Nasional. Baginya ini merupakan langkah yang sangat baik untuk perkembangan umat Buddha.

“Saya rasa ini permulaan yang sangat baik, di mana kita melakukan suatu perayaan Hari Waisak secara bersama. Dari 9 majelis dan juga diwakili oleh non Buddhist juga ada perwakilannya. Saya rasa ini satu hal yang sangat baik menunjukkan seutuhnya kerukunan dan saling menjaga persatuan bangsa ini,” tutur Hong Tjhin.

Namun di samping itu, Hong Tjhin juga mengingatkan semua Majelis untuk benar-benar melakukan hal yang bermanfaat baik itu dalam sosial, kemanusiaan, maupun penanggulangan bencana, dengan praktik nyata dan konkrit sehingga bisa dirasakan oleh masyarakat yang membutuhkan lebih luas lagi.

Editor: Khusnul Khotimah

Artikel dibaca sebanyak : 1383 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Tak perlu khawatir bila kita belum memperoleh kemajuan, yang perlu dikhawatirkan adalah bila kita tidak pernah melangkah untuk meraihnya.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat