Sabtu, 23 Februari 2019
Indonesia | English

Giat Menyebarkan Nilai Zhen Shan Mei

07 Februari 2019 Jurnalis : Erlina Wang (He Qi Utara 2)
Fotografer : Elysa Wu (He Qi Utara 2), Tan Surianto (He Qi Utara 1)


Tim Pengembangan Relawan Zhen Shan Mei memulai pertemuan pertamanya untuk Program Pendampingan Relawan Zhen Shan Mei 2019 pada Minggu, 27 Januari 2019.

Tahun 2019 adalah tahun yang penuh berkah bagi semua orang khususnya insan Tzu Chi Indonesia. Begitu pula dengan Tim Pengembangan Relawan Zhen Shan Mei yang diketuai oleh Henry Tando pada tahun ini mengadakan Program Pendampingan Relawan Zhen Shan Mei. Program ini dijadwalkan sebanyak 11 kali pertemuan dan untuk pertemuan pertama diadakan pada Minggu, 27 Januari 2019 pukul 14.00 WIB di gedung DAAI lantai 1, Tzu Chi Center, Pantai Indah Kapuk.


Materi pada pertemuan pertama ini dibawakan oleh Henry Tando dengan penjelasan mengenai apa itu Zhen Shan Mei, asal mula, dan mengapa harus Zhen Shan Mei.

Sebelum kegiatan dimulai, panitia yang berjumlah 12 orang dengan sepenuh hati melakukan berbagai persiapan seperti membuat suvenir kecil untuk peserta, menyiapkan ruangan, soundsystem, materi, dan konsumsi. Para peserta nampak mulai berdatangan menuju ke meja pendaftaran untuk menyelesaikan administrasi yang diperlukan. Total peserta yang terdaftar mengikuti program selama satu tahun ini adalah 35 orang, namun yang hadir pada pertemuan pertama ini sebanyak 32 orang. Mereka berasal dari berbagai komunitas relawan Tzu Chi di Jakarta.

Tepat pukul 14.00 WIB, acara dibuka oleh Dini dengan melakukan penghormatan kepada Master Cheng Yen. Kemudian dilanjutkan oleh Erli Tan yang menjelaskan secara singkat mengenai program pendampingan ini. "Tzu Chi Indonesia makin berkembang dan kita berharap dengan diadakannya pendampingan Relawan Zhen Shan Mei, maka semakin banyak tumbuh benih-benih relawan Zhen Shan Mei di komunitas masing-masing,” kata Erli.


Teddy Lianto menjelaskan mengenai formuir-formulir yang dipergunakan dalam Zhen Shan Mei serta templet-templet yang digunakan dalam membuat karya.

Erli juga berpesan agar setiap peserta dapat membagikan apa yang telah dipelajari melalui program ini kepada relawan dokumentasi di komunitasnya masing-masing. “Dan tentunya kita juga mengapresiasi peserta yang rajin, giat, dan selalu menyelesaikan tugas rumah yang diberikan. Apresiasi akan diberikan pada pertemuan terakhir yaitu penutupan program,” ujarnya. Erli juga berharap hal tersebut dapat menjadi penambah semangat para peserta dalam mengikuti program ini.  

Menjadi Mata dan Telinga Master Cheng Yen

Peserta lalu menyimak penjelasan dari Henry Tando mengenai apa itu Zhen Shan Mei, asal mulanya, dan mengapa kita harus menjadi relawan Zhen Shan Mei. Dalam penyampaian materi yang berlangsung satu jam ini, Henry banyak memperlihatkan video-video yang merupakan penuturan langsung dari Master Cheng Yen.


Para peserta mengecek dan memastikan peralatan masing-masing apakah telah sesuai dengan kriteria yang dibutuhkan dalam menjalankan tanggung jawab Zhen Shan Mei.

"Semua relawan bisa menjadi relawan Zhen Shan Mei," ujar Henry. Master Cheng Yen mengatakan bahwa mendengarkan dan menyebarkan Dharma sangatlah penting. Tzu Chi dimulai dengan selangkah demi selangkah, menggarap ladang berkah dengan bersungguh hati, menginspirasi banyak orang untuk bergabung. Jika tidak ada Bodhisatwa senior maka Tzu Chi tidak akan ada seperti sekarang ini. Setiap detik atau menit yang sudah berlalu akan menjadi sejarah.

"Sebagai relawan harus menjalankan 4 misi tapi misi utama harus ada yang kita pilih, tujuannya agar kita fokus menjalankan misi tersebut. Sebagai relawan Zhen Shan Mei kita harus mencatat sejarah, menjadi mata dan telinganya Master. Melihat relawan melakukan apa, yang menarik apa, itulah yang kita tulis,” tutur Henry Tando.


Sebelum acara dimulai, para panitia menyelesaikan beberapa persiapan yang dibutuhkan, salah satunya adalah pembuatan suvenir yang mencantumkan nama tiap peserta.

Setelah mendengarkan sharing dari Henry Tando, peserta diajak untuk beristirahat sejenak dengan menikmati kudapan segar yang sudah disiapkan oleh Lee Biek, panitia bagian konsumsi. Setelah itu kembali masuk ke kelas untuk mendengarkan penjelasan mengenai penggunaan formulir-formulir dan templete karya-karya Zhen Shan Mei yang dibawakan oleh Teddy Lianto.

Sebelum acara berakhir, peserta terlebih dahulu diberikan penjelasan mengenai tugas rumah yang akan dikerjakan peserta dan akan diserahkan pada pertemuan berikutnya. Pukul 17.00 WIB, acara ditutup dengan menyanyikan lagu Fang Xiang yang artinya Arah. Semoga arah dari setiap peserta menjadi sama, visi misinya sama, konsisten dan teguh seperti Master Cheng Yen.


Panitia dan peserta foto bersama. Semuanya saling mendukung dan menyemangati.

Relawan Zhen Shan Mei melalui karya-karyanya merupakan corong dalam menyebarkan nilai-nilai kebenaran, kebajikan, dan keindahan Tzu Chi. Maka mereka menjadi saksi untuk jaman sekarang, menulis sejarah untuk umat manusia, menyusun kitab sejarah untuk Tzu Chi.


Editor: Yuliati

Artikel dibaca sebanyak : 225 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Beriman hendaknya disertai kebijaksanaan, jangan hanya mengikuti apa yang dilakukan orang lain hingga membutakan mata hati.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat