Senin, 18 November 2019
Indonesia | English

Guru Bukan Sekedar Sebuah Pekerjaan

11 Juli 2019 Jurnalis : Khusnul Khotimah
Fotografer : Khusnul Khotimah, Kevin Renardy (Sekolah Tzu Chi Indonesia)


Dr. Ingrid Liu, Ph.D menyemangati para guru bagaimana Tzu Chi telah memberikan impact bagi kehidupan masyarakat.

Seorang pendidik dituntut untuk terus meningkatkan kualitas mereka agar mampu mentransfer nilai-nilai yang baik kepada anak didik. Karena itulah sering sekali Sekolah Tzu Chi Indonesia mengadakan training bagi guru-gurunya.

Menjelang dimulainya tahun ajaran baru 2019/2020, awal pekan ini, tepatnya 8-9 Juli 2019, Sekolah Tzu Chi Indonesia menghadirkan dua narasumber utama dari Tzu Chi Taiwan University dalam training yang digelar di Auditorium Internasional Hall Aula Jing Si. Keduanya berbicara tentang pendekatan humanis dalam proses belajar mengajar.

Dr. Ingrid Liu, Ph.D, Wakil Presiden Tzu Chi University menekankan kembali kepada para guru Sekolah Tzu Chi Indonesia bahwa menjadi guru bukan sekadar sebuah pekerjaan. Seorang guru harus menjiwai perannya, menjadi bagian dari jiwa dan raga. Dengan demikian barulah seorang guru dapat mencintai proses belajar mengajar, dengan segala tantangannya. Feedback-nya tentu saja anak-anak, murid-murid akan dapat merasakan bahwa gurunya baik dan dan menyenangkan.


Dr. Cheah Lee Hwa Ph.D mengatakan, guru harus disiplin, memiliki jiwa yang baik, dan menyayangi anak-anak.


Sebanyak 320 peserta juga termasuk Da Ai Mama fokus mendengarkan paparan para pembicara.

Pembicara kedua, Dr. Cheah Lee Hwa, Ph.D mengingatkan bahwa seorang guru harus punya pikiran yang bahagia. Karena hanya guru yang bahagia yang dapat mengedukasi anak-anak yang bahagia. Untuk menjadi guru yang bahagia, seorang guru harus memiliki kesadaran setiap saat.

“Jika seorang guru tidak bahagia, ia akan mudah marah oleh murid, dan akan mudah hilang kontrol diri. Jika demikian kamu tidak akan dapat mengajarkan tentang disiplin,” ujarnya.

Selain itu, era sekarang adalah eranya akselerasi teknologi. Murid-murid saat ini sangat cerdas, dan tahu banyak hal hanya dengan menggunakan jari mereka. Jadi ini memberikan tantangan, di mana seorang guru harus memiliki wawasan yang luas.

Iing Felicia Joe, Kepala TK Tzu Chi Indonesia mengaku sangat terinspirasi dengan ilmu yang dibagikan oleh kedua narasumber. Dua narasumber ini bagi Iing memberikan pengalaman, pengetahuan dan wawasan yang sangat inspiratif.


Dr. Ingrid Liu, Ph.D menerima cindera mata yang diberikan langsung oleh Sudino Lim, Direktur Sekolah Tzu Indonesia.


Para guru dan Da Ai Mama berfoto bersama di depan Tangga Seribu, Aula Jing Si Indonesia.

“Kami semua benar-benar bisa terbuka mata bahwa seorang guru itu harus mempunyai hati yang luar biasa. Seorang guru bukan cuma guru tapi sebenarnya dia adalah seorang pendidik, seorang edukator yang bisa membuat seorang anak yang tadinya tidak paham sesuatu menjadi seseorang yang bisa memberikan impact yang luar biasa untuk dia sendiri, keluarga, dan lingkungan sekitar,” kata Iing.

Lalu apa yang Iing ingin lakukan setelah mendengar paparan ini?  Iing ingin para guru dapat memfasilitasi anak didik mereka mewujudkan impian mereka.

“Karena saya ada di bagian Early Childhood, saya ingin guru-guru saya juga bisa menjadi seorang fasilitator, juga seorang motivator bagi anak-anak didik kami yang memang masih berusia sangat dini. Mereka ini adalah benih-benih yang nantinya akan terjun di masyarakat,” tambahnya.

Sudino Lim, Direktur Sekolah Tzu Indonesia menyampaikan harapannya dengan diadakannya training ini.

“Kami mengundang speaker begitu hebat dari Tzu Chi University yang sudah berpengalaman, latar belakangnya juga panjang sekali, seorang profesor. Kami ingin menunjukkan kepada guru kami bahwa pendekatan humanis itu tidak hanya untuk anak kecil. Kita ajarkan dari bawah sampai atas. Dan kita bisa mengubah hidup seorang anak lewat program humanistik kita,” kata Sudino Lim.


Para guru terlibat langsung dalam pembongkaran 10 rumah penerima bantuan bedah rumah Tzu Chi di Kamal Muara, Jakarta Utara.

Sudino Lim juga menambahkan bahwa nilai-nilai humanis baru bisa terjadi kalau guru dapat disentuh hatinya. Kalau guru itu tersentuh maka dia akan belajar lebih dan berpikir secara kreatif saat menyampaikan materi atau sharing di dalam kelas.

Sementara itu, di hari kedua, para guru juga relawan pendamping pendidikan atau yang biasa disebut dengan Da Ai Mama diajak turun ke lapangan membantu pembongkaran 10 rumah penerima bantuan bedah rumah Tzu Chi di Kamal Muara, Jakarta Utara.

“Kita sentuh hatinya. Dengan melihat penderitaan baru kita bisa merasakan syukur terhadap kehidupan kita sekarang ini sehingga kita merasa happy, termotivasi akan pekerjaan kita,” tambah Sudino.

Editor: Hadi Pranoto

Artikel dibaca sebanyak : 331 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Berbicaralah secukupnya sesuai dengan apa yang perlu disampaikan. Bila ditambah atau dikurangi, semuanya tidak bermanfaat.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat