Rabu, 19 September 2018
Indonesia | English

HUT Tzu Chi ke-25: Mengenalkan Sejarah Perjalanan Tzu Chi Indonesia

10 September 2018 Jurnalis : Erli Tan, Fammy Kosasih (He Qi Timur)
Fotografer : Metta Wulandari, Henry Tando, Markus (He Qi Barat 2), Yusniaty (He Qi Utara 1),


Dalam rangka hari jadi yang ke-25, relawan Tzu Chi Indonesia mengadakan pameran budaya humanis 25 tahun Tzu Chi Indonesia yang memperlihatkan sejarah perjalanan Tzu Chi Indonesia di lobi lantai 2, Aula Jing Si.

Dalam rangka memperingati ulang tahun Tzu Chi Indonesia yang ke-25, banyak kegiatan yang dilakukan oleh para relawan. Tak ketinggalan pameran budaya humanis 25 tahun Tzu Chi Indonesia yang memperlihatkan sejarah perjalanan Tzu Chi Indonesia. Pameran ini digelar selama dua hari pada tanggal 8 dan 9 September 2018 di lobi lantai 2 Aula Jing Si, Tzu Chi Center, PIK, Jakarta Utara.

Dylan Yang yang merupakan sutradara film dokumenter 25 tahun Tzu Chi Indonesia juga terlibat dalam pameran budaya humanis ini. “Melalui pameran foto yang walaupun tidak besar, saya ingin orang melihat dan mengetahui sejarah Tzu Chi Indonesia juga kisah sepuluh relawan,” ujarnya.

Bagi Dylan untuk mengenalkan Tzu Chi tidak hanya menggunakan satu media yakni film dokumenter saja, namun ia membuka berbagai jalan agar setiap orang dapat mengenal Tzu Chi lebih luas melalui berbagai media.


Bagi Dylan untuk mengenalkan Tzu Chi tidak hanya menggunakan satu media yakni film dokumenter saja, namun ia membuka berbagai jalan salah satunya pameran foto.


Relawan Tzu Chi Indonesia mempersipakan dekorasi pameran dengan sangat indah.

“Selain film dokumenter, kita juga membuat buku, website, sosial media, dan pameran foto. Karena melalui berbagai media inilah, kita berharap bisa berkomunikasi dan menjangkau lebih banyak orang. Jika hanya satu jenis media saja tidak cukup, sehingga kami mencoba menggunakan berbagai jenis media,” ungkap Dylan.

Persiapan pembuatan pameran foto budaya humanis pun telah dilakukan beberapa minggu menjelang kegiatan. Ivana Chang, Dept Head Zhen Shan Mei mengatakan “Persiapan pameran ini dari sejak pertengahan Agustus, jadi dalam tiga minggu itu, satu minggu untuk koordinasi konsep dan layout, satu minggu koordinasi ukuran foto serta persiapan perlengkapan, kemudian minggu terakhir persiapan lapangan dan cetak foto.”

Meskipun terkesan lancar, namun dalam pameran foto ini juga menemukan kendala selama persiapan. “Karena kita kerjasama dengan tim Dylan Shixiong, sementara mereka ada di Taiwan, sehingga komunikasi menjadi agak sulit seperti waktu menentukan layout, model panel, ukuran foto harus pakai jarak jauh dan agak susah, belum lagi waktunya cukup mepet,” ujar Ivana. “Tapi semua diselesaikan pakai teknologi dari email, whatsapp supaya satu persepsi dan komunikasi lancar,” lanjutnya tersenyum.


Para relawan dan staf memasang panel lampu, foto, dan lain-lain dengan sepenuh hati.


Banyak tamu undangan yang hadir menyempatkan diri untuk melihat pameran foto.

Kerjasama tidak hanya antara Ivana dengan Dylan, namun juga ada andil Henry Tando, Dept. Head Pengembangan Relawan Zhen Shan Mei (PRZSM). Teknis persiapan pameran seperti pemasangan panel, lampu, cetak foto, memasang frame, dan menggerakkan relawan Zhen Shan Mei semua dikoordinasi oleh Henry Tando.

Melalui karya-karyanya, Dylan sendiri kagum dengan keragaman dan keindahan, serta keramahan orang Indonesia, termasuk relawan Tzu Chi. “Saya melihat banyak keindahan dari dalam hati relawan, saya ingin menampilkan ekpresi welas asih dan cinta kasih mereka,” ungkapnya.

Salah satu tamu yang mengunjungi pameran budaya humanis 25 tahun Tzu Chi Indonesia adalah Hasna Ghalmi. Sebelum menuju lokasi acara di lantai 4 Aula Jing Si, Hasna yang datang bersama Zailun Dharma berkeliling melihat pameran foto budaya humanis 25 tahun Tzu Chi Indonesia. “Benar-benar luar biasa misi-misi yang dijalankan Tzu Chi,” katanya.


Hasna Ghalmi yang datang bersama Zailun Dharma terkesan dengan misi-misi yang dijalankan Tzu Chi.

Hasna yang berasal dari negara Maroko ini mengaku terkesan dengan Tzu Chi yang merupakan organisasi kemanusiaan mampu menembus sekat perbedaan suku, agama, ras hingga ke belahan dunia. ia berharap Tzu Chi Indonesia semakin maju, masyarakat yang membutuhkan pun mendapatkan uluran tangan dari para insan Tzu Chi.

Editor: Arimami Suryo A

Artikel dibaca sebanyak : 234 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Meski sebutir tetesan air nampak tidak berarti, lambat laun akan memenuhi tempat penampungan besar.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat