Rabu, 17 Oktober 2018
Indonesia | English

Ikut Bersumbangsih dengan Hati Welas Asih

11 Mei 2018 Jurnalis : Nuraina Ponidjan 傅麗蓉 (Tzu Chi Medan)
Fotografer : Amir Tan 陳俊賓(Tzu Chi Medan)


Sebanyak 18 orang Tzu Ching Medan bergotong royong membongkar rumah Nenek Siti yang sudah tidak layak huni untuk dibangun kembali sehingga bisa memberikan rasa aman bagi Nenek Siti.

Menindaklanjuti kunjungan muda-mudi Tzu Chi (Tzu Ching) ke rumah Nenek Siti pada tanggal 18 Maret 2018 lalu mengenai pembangunan kembali rumah Nenek Siti (80 tahun) yang sudah tidak layak huni, Kamis, 10 Mei 2018 Tzu Ching kembali berkunjung ke sana untuk membantu merobohkan rumah tua Nenek Siti. Pembongkaran rumah Nenek Siti dibantu oleh anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat.

Karena perjalanan ke Kabanjahe sejauh 75.8 Km dan memerlukan waktu tempuh 3 jam untuk menjangkau lokasi, maka rombongan berangkat dari kantor Tzu Chi Medan di Kompleks Cemara Asri pada pukul 06.00 WIB. Sebagian orang masih lelap dalam tidurnya karena hari itu adalah hari libur, namun sebanyak 18 orang Tzu Ching Medan lebih memilih menelusuri perjalanan ke Kota Kabanjahe. Dengan hati penuh welas asih mereka membantu pembongkaran rumah Nenek Siti yang nantinya akan dibangun kembali oleh Tzu Chi.


Dalam pembongkaran rumah Nenek Siti yang berlokasi di Kota Kabanjahe, Karo, Sumatera Utara ini relawan Tzu Chi dan Tzu Ching dibantu aparat TNI Angkatan Darat.

Sesampainya di Kota Berastagi, para Tzu Ching sarapan terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan ke Kota Kabanjahe.  Pukul 10.00 WIB, rombongan tiba di rumah Nenek Siti dan para aparat dari TNI Angkatan Darat telah siap membantu pembongkaran rumah Nenek Siti. Sebelum pembongkaran dimulai, Nuraina selaku Pembina Tzu Ching Medan terlebih dahulu mengajak para Tzu Ching dan juga TNI Angkatan Darat untuk berdoa bersama agar pembangunan rumah Nenek Siti berjalan dengan baik dan lancar.

Setelah selesai doa bersama maka para Tzu Ching dibagikan sarung tangan dan masker agar terlindung dari luka saat membongkar rumah dan terhindar dari debu.  Para Tzu Ching pun dengan sigap membongkar rumah Nenek Siti. Mereka saling membantu merobohkan rumah Nenek Siti yang walaupun sudah bangunan tua namun tidak gampang untuk meratakannya dengan tanah. Beruntung cuaca saat itu sangat mendukung niat baik para Tzu Ching ini, matahari tidak terlalu terik, dan langit juga cerah.


Para relawan Tzu Chi dan Tzu Ching merubuhkan rumah tua Nenek Siti dan membersihkan puing-puingnya sehingga proses pembangunan rumah bisa berjalan dengan cepat dan lancar.


Pembongkaran rumah Nenek Siti dilakukan dengan penuh antusias dan sukacita.

“Ini pertama kali saya ikut dalam kegiatan bedah rumah, dan ketika saya melihat rumah Nenek Siti sebelum dibongkar, timbul rasa bersyukur dalam hati saya karena saya masih diberi tempat tinggal yang nyaman selama ini,” tutur Donni, salah seorang Tzu Ching.

Setelah rumah selesai dibongkar, anak-anak mengunjungi Nenek Siti yang ternyata melihat pembongkaran rumah dari seberang jalan. Untuk sementara Nenek Siti numpang di bangunan rumah baru yang belum siap dibangun, dengan hanya menggunakan selembar papan tripleks sebagai pintu tempat nenek tidur. Dengan berlinang air mata Nenek Siti berkata, “Terima Kasih atas kunjungan kalian. Nenek sedih karena rumah nenek dibongkar dan tidak ada cucu nenek yang temanin, malah kalian 'cucu-cucu' nenek yang membantu dan temanin nenek.” Melihat nenek siti menangis, spontan relawan memeluk nenek dan diikuti relawan Tzu Ching.


Nuraina, Pembina Tzu Ching bersama para Tzu Ching menemani dan menghibur Nenek Siti yang merasa sedih dengan ketidakhadiran keluarganya pada saat pembongkaran.

“Dengan melihat semangat para Tzu Ching, dimana mereka lebih memilih mengisi hari liburnya dengan berbuat kebajikan daripada berkunjung ke mal atau ke tempat wisata lainnya, kita sebagai pembina ikut bangga dan salut dengan semangat mereka dan melihat kesungguhan hati mereka saat membongkar rumah Nenek Siti membuat saya sangat terharu melihatnya,” tutur Nuraina, Pembina Tzu Ching Medan.

Seperti yang terdapat dalam Kata Perenungan Master Cheng Yen: “Cinta kasih yang tulus dapat menghangatkan batin semua orang yang sedang menderita dan bersedih. Hal yang paling menenteramkan batin manusia di dalam kehidupan adalah bila ketika ia memiliki kemampuan berapa pun, ia dengan segera bersumbangsih, memberi manfaat bagi orang banyak, dan menciptakan berkah bagi masyarakat”. Dan semua ini terangkum dalam gerak dan langkah relawan Tzu Chi dan Tzu Ching Medan yang melakukannya dengan penuh welas asih.

Editor: Yuliati

Artikel dibaca sebanyak : 502 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Menyayangi dan melindungi benda di sekitar kita, berarti menghargai berkah dan mengenal rasa puas.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat