Jumat, 13 Desember 2019
Indonesia | English

Kamp 4 in 1 2019: Sentuhan Kasih di Tzu Chi Hospital

30 Juli 2019 Jurnalis : Suyanti Samad (He Qi Timur)
Fotografer : Anand Yahya, James Yip (He Qi Barat 2), Yusniaty (He Qi Utara 1)


“Kehidupan manusia berapa lama? Kehidupan manusia berapa panjang? Itu hanya sebatas napas kita.” jelas Huang Ming Yue, mengajak peserta training lebih bersumbangsih di Tzu Chi. Seperti yang pernah Master Cheng Yen katakan, tubuh (kehidupan) manusia hanya hak pakai, bukan hak milik.

“Bila rumah sakit penuh cinta kasih, apakah kita akan merasa nyaman di sana? Kenapa? Karena ini adalah Tzu Chi,” kata Huang Ming Yue, relawan komite Tzu Chi asal Taiwan yang menjadi pembicara dalam Kamp 4in1 2019, di Tzu Chi Center, Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara, 27 Juli 2019.

Huang Ming Yue yang sudah 28 tahun menjadi relawan pemerhati di Rumah Sakit Tzu Chi Taiwan membagikan pengalamannya. Pada tahun 1991, ia bergabung menjadi relawan pemerhati rumah sakit karena tertarik pada ajaran Master Cheng Yen yang mengatakan bahwa cinta kasih bukanlah suatu slogan, tetapi merupakan wujud nyata. Karena itu Huang Ming Yue ingin memiliki kehidupan yang berarti dengan bersumbangsih di rumah sakit, dengan telaten mengunjungi, mendengar, dan membantu para pasien.

“Di kehidupan ini, kita harus memanfaatkan tubuh kita untuk membantu, menjaga dan merawat orang lain, serta mengumpulkan niat baik semua orang untuk bersumbangsih kepada orang lain,” harap Huang Ming Yue. Relawan yang sudah 28 tahun menjadi pemerhati di Rumah Sakit Tzu Chi ini berharap agar para peserta training mau menjadi relawan pemerhati rumah sakit, yang mendengarkan curahan hati para pasien, karena dokter dan perawat tidak memiliki banyak waktu mendengarkan curahan hati para pasien secara lengkap.

Awal Mula Tzu Chi Hospital di Taiwan
Dalam kesempatan ini, Huang Ming Yue memaparkan sejarah bagaimana Master Cheng Yen memutuskan untuk membangun rumah sakit.

Bermula dari suatu hari Master Cheng Yen mengunjungi murid yang sedang dirawat di rumah sakit di suatu kampung kecil. Saat itu, ada seorang pasien yang keluar dari rumah sakit, dan Master melihat bercak darah. Master Cheng Yen bertanya, “Kenapa ada bercak darah? Darah siapa? Dia sakit apa yang membuat darah ada di lantai? Di mana pasien ini? Apakah dia sudah sembuh?” Master Cheng Yen terus berpikir dan memperhatikan bercak darah ini.

Oleh salah satu pasien dijelaskan darah ini milik salah satu wanita hamil yang tinggal di suatu kampung pegunungan. Ketika menuju ke sini, ia sudah mengeluarkan darah. Waktu  itu, Taiwan belum memiliki fasilitas rumah sakit yang bagus. Ternyata wanita ini tidak memiliki uang dan tidak bisa membayar biaya rumah sakit, sehingga wanita ini harus pulang ke rumah. Bayi dalam kandungannya pun sudah meninggal.

Master Cheng Yen berpikir bahwa orang yang tidak memiliki uang, tidak memiliki jaminan atas kehidupannya. Master juga berkata apakah tidak ada yang bisa menjamin kehidupan kita untuk membantu kehidupan ini? Kejadian inilah yang menumbuhkan tekad Master sehingga pada tahun 1966, dibentuk Tzu Chi, suatu badan amal untuk membantu orang yang menderita.

Suatu ketika, Master Cheng Yen melakukan survei Misi Amal, melihat banyak orang miskin dan mengunjungi banyak orang sakit.

“Master berpendapat dan menyakinkan bahwa mereka miskin karena sakit. Inilah satu alasan mengapa Master mendirikan rumah sakit. Penyakit adalah penyebab orang menjadi miskin,” terang Ming Yue.

 

Dengan menggusung tema ‘Sepaham, Sepakat, Sejalan’, Huang Ming Yue juga mengajak semua insan Tzu Chi peserta training menebarkan kebahagiaan bagi setiap insan Tzu Chi lainnya.

Pada 15 Mei 1979, Master Cheng Yen menjelaskan bahwa Ia mau membangun rumah sakit besar di Hualien dengan kapasitas 600 ranjang. Saat itu hanya ada 200 relawan komite dan membutuhkan dana sekitar 800 juta NT. Pembangunan Tzu Chi Hospital di Taiwan, Master Cheng Yen mengibaratkan dirinya sebagai penggali sumur, mengarahkan semua tenaga untuk menggali sumur hingga dapat memberi air bersih kepada setiap orang.

Pada tahun 1980 terjadi pertemuan antar Gubernur Taipei dengan Master Cheng Yen, yang mengalokasikan suatu lahan bagi Master. Wakil Presiden mengajak para pengusaha dan tokoh berpengaruh untuk mendukung berdirinya rumah sakit ini. Inilah tonggak awal perencanaan pembangunan rumah sakit.

Karena membutuhkan jutaan NT untuk pembangunan rumah sakit, Master Cheng Yen pun mengajak murid-muridnya untuk mencangkul, membersihkan lahan seluas 8 hektar, menggalang dana dan menggalang hati. Tahun 1983 adalah tonggak awal peletakan batu pertama. Tapi lahan untuk perencanaan pembangunan rumah sakit ini terlalu dekat dengan lahan militer, dan Master diminta untuk mengurungkan niat dan mencari lahan lainnya.

Master Cheng Yen sangat terpukul dan sedih. Selama tiga hari beliau tidak makan, tidak minum, dan tidak tidur hingga jatuh sakit. Master mengembalikan donasi yang telah digalang waktu itu kepada para donatur. Mendengar Master Cheng Yen jatuh sakit, Ling Yang Kang, salah satu pejabat senior di pemerintahan, menghubungi Master dan menghiburnya dan mengatakan bahwa lahan itu tidak diberkati para Bodhisatwa. Pejabat itu berjanji untuk membantu Master Cheng Yen mencari lahan lain.

Berselang satu tahun kemudian, tahun 1984, adalah momen peletakan batu kedua pembangunan rumah sakit. Seketika, Master Cheng Yen sangat tersentuh, terharu hingga meneteskan air mata. Banyak orang turut bersumbangsih dalam pembangunan rumah sakit Tzu Chi.

Walau pembangunan Rumah Sakit Tzu Chi Hualien sudah terbangun pada tahun 1986, rumah sakit Hualien mengalami kerugian besar. Namun adanya tekad besar, rumah sakit Tzu Chi tetap beroperasi. Inilah rumah sakit pertama yang tidak mengharuskan pasien melakukan deposit untuk berobat. Master Cheng Yen mengatakan semua batu, tanah, pasir ini, terbangun dari darah dan keringat relawan.

Hingga tahun 1999, ada tujuh rumah sakit Tzu Chi dibangun di Hualien, Dalin, Taipei, Tai Chung, Douliou, Yuli, dan Kuanshan. Master Cheng Yen mengharapkan Rumah Sakit Tzu Chi tidak hanya memiliki dokter profesional, tetapi Master ingin mendorong, merangkul cinta kasih dan nilai humanis untuk diberikan kepada pasien. Saat insan Tzu Chi melihat penderitaan pasien, maka cinta kasih segera dapat diberikan.

Suatu hari, ada salah satu insan Tzu Chi berkata kepada Master Cheng Yen. Walaupun dia bukan perawat atau dokter TIMA, tetapi dia bisa mengajak teman-temannya untuk membantu di rumah sakit. Ia meminta Master Cheng Yen tenang, biar mereka yang menjalankan operasional rumah sakit Tzu Chi. Dan Ini adalah awal adanya relawan pemerhati rumah sakit.

Menjadikan Kehidupan Lebih Bernilai

 

Prof. Dr. Satyanegara menjelaskan tentang apa saja kelebihan yang ada di Tzu Chi Hospital Indonesia.

Berlandaskan Misi Kesehatan Tzu Chi yang menjaga kesehatan, menyelamatkan kehidupan dan mewariskan cinta kasih, Master Cheng Yen memberikan dukungan bagi Tzu Chi Indonesia untuk mendirikan Tzu Chi Hospital di Jakarta pada Februari 2013. Minggu, 31 Mei 2015, adalah momen peletakan batu pertama sebagai tanda dimulainya pembangunan Tzu Chi Hospital Indonesia, yang terletak di Pantai Indah Kapuk Jakarta. Hingga sekarang ini sudah terbangun 22 lantai. Rencananya pada September 2020 waktu perencanaan percobaan (trial) operasional Tzu Chi Hospital Indonesia.

“Pembangunan Tzu Chi Hospital Indonesia ini memberikan fasilitas kesehatan, memberikan kenyamanan, bersih dan megah, dan dilengkapi dengan peralatan medis yang canggih, serta peran cinta kasih untuk melayani pasien,” papar Prof. Dr. Satyanegara.  

Dr. Gunawan Susanto, selaku Presiden Direktur Tzu Chi Hospital Indonesia memaparkan, Tzu Chi Hospital Indonesia dibangun berlatar belakang karena banyaknya pasien Indonesia berobat keluar negeri, seperti Singapura, Malaysia, dan Taiwan.


Tzu Chi Hospital Indonesia akan lebih mengedepankan pelayanan kesehatan yang humanis, kata dokter Gunawan Susanto.

“Setelah dipelajari, diperoleh fakta bahwa fasilitas rumah sakit di Indonesia tidak lengkap, disebabkan kurang menguntungkan bagi rumah sakit bila mengadakan fasilitas tersebut. Juga harganya tnggi tetapi pemakainya tidak banyak. Oleh karena itu, insan Tzu Chi berpikir, Tzu Chi tidak memikirkan profit (untung atau rugi),  biarlah Tzu Chi Indonesia memberikan pelayanan kesehatan yang lebih baik di Indonesia,” jelas dokter Gunawan Susanto.

Walaupun Tzu Chi Indonesia mempunyai rumah sakit bagi pasien kurang mampu, namun karena fasilitas tidak lengkap sehingga pelayanan kesehatan kurang optimal. Faktor utama inilah yang mendasari akhirnya Tzu Chi Hospital Indonesia dibangun. Tzu Chi Hospital Indonesia memiliki visi menjadi rumah sakit yang bisa menjadi perwujudan ideal yang dapat menjadi contoh baik dalam dunia kedokteran.


Para peserta training 4in1 tak hanya mendapatkan wawasan baru dari para narasumber, tapi juga banyak inspirasi.

Sedangkan misinya adalah menyelamatkan kehidupan, menjaga kesehatan dengan menjunjung tinggi semangat cinta kasih. Visi misi Tzu Chi Hospital Indonesia akan dapat terwujud jika ada kontribusi dari insan Tzu Chi Indonesia dalam pelayanan kesehatan pasien seperti Tzu Chi Hospital di Taiwan.

Tzu Chi Hospital Indonesia akan memberikan pelayanan unggulan berupa transplantasi sumsum tulang, perawatan paliatif bagi pasien rawat inap, selain bedah saraf, dan kanker. Perawatan paliatif sebenarnya sudah ada di Indonesia pada tahun 1990, tetapi kurang berjalan dengan baik di Surabaya. Sedangkan di Jakarta, perawatan paliatif hanya diberikan kepada pasien rawat jalan.

“Pelayanan paliatif memberikan pelayanan bagi pasien yang hampir meninggal, kita tidak hanya mengobati penyakit pasien, tetapi menenangkan jiwa (batin) pasien. Pasien penyakit kronis, penderita stres diberikan pelayanan batin,” pungkas dokter Gunawan Susanto.

Mendapat Banyak Pelajaran
Lo Hok Lay (62) mendapatkan banyak pelajaran baru dari sharing Huang Ming Yue. Ia juga mengagumi bagaimana Huang Ming Yue telah banyak membantu orang-orang, juga membuat dirinya menjadi orang yang lebih kuat dan lebih bijaksana. Hok Lay sendiri telah menjadi relawan rumah sakit sejak 2010 silam selama 3 tahun lamanya, dan aktif kembali sejak 2017. Hok Lay juga bertekad untuk menjadi relawan pemerhati di Tzu Chi Hospital Indonesa.

“Berlandaskan pada pengalaman, pernah melakukan sambil melatih diri, kesempatan bagi saya menjadi relawan pemerhati dan belajar kembali dari awal,” tekad Hok Lay. 


Lo Hok Lay mendapatkan banyak pelajaran baru dari sharing Huang Ming Yue, yang selama ini hanya mengetahui kulit-kulitnya saja. Di antaranya ternyata di dalam Tzu Chi Hospital Taiwan, adalah suatu pelatihan yang sangat komplit, terutama pengembangan cinta kasih, welas asih, dan keseimbangan batin.


Hendra Tanu (72) menjelaskan walau telah menjadi pemerhati di Rumah Sakit Cinta Kasih, setelah mendengar sharing Huang Ming Yue membuatnya lebih jelas tentang arti menjadi relawan pemerhati.

Hal yang sama juga dirasakan Hendra Tanu (72). Walau telah menjadi pemerhati di Rumah Sakit Cinta Kasih Tzu Chi di Cengkareng, Jakarta Barat, setelah mendengar sharing Huang Ming Yue membuatnya lebih jelas tentang arti menjadi relawan pemerhati.

“Pemerhati itu bermula dari Tzu Chi membangun rumah sakit, ada kekhawatiran sumber daya manusia (SDM), sehingga ada relawan yang siap mau membantu di rumah sakit, walau relawan tersebut menyebut dianya bukan tenaga medis, tetapi ia mau bantu,” jelas Hendra Tanu, relawan Komite Tzu Chi, dari komunitas He Qi Barat 1.

Editor : Hadi Pranoto

Artikel dibaca sebanyak : 741 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Gunakanlah waktu dengan baik, karena ia terus berlalu tanpa kita sadari.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat