Kamis, 20 September 2018
Indonesia | English

Kebahagiaan Senantiasa Dinantikan

21 Juni 2018 Jurnalis : Suyanti Samad (He Qi Pusat)
Fotografer : Suyanti Samad (He Qi Pusat)


Relawan Tzu Chi komunitas He Qi Pusat menyiapkan 200 kotak lontong cap go meh di salah satu rumah relawan, di Jembatan Lima. Paket makanan ini mereka bagikan kepada para pasien yang masih tinggal di rumah singgah maupun rumah sakit di Jakarta.

Sebelum takbir kemenangan dikumandangkan menyambut Hari Raya Idul Fitri 1439 H yang jatuh pada 15 dan 16 Juni 2018, relawan Tzu Chi komunitas He Qi Pusat sudah menyiapkan hal istimewa bagi para pasien yang masih tinggal di rumah singgah maupun rumah sakit, yang alih-alih berkumpul bersama keluarga, namun demi memperoleh kesehatan mereka harus bermalam di rumah singgah dan rumah sakit. Dari sana relawan Tzu Chi ingin mengisi kekosongan tersebut dengan kunjungan kasih, sekaligus mengobati kerinduan para pasien terhadap keluarga mereka di kampung halaman.

Selain kunjungan kasih, hal istimewa lain yang disiapkan adalah jamuan makanan khas hari raya. Hari sebelumnya, 14 Juni 2018, Foeng Jie Tju, koordinator kegiatan mendatangi salah satu rumah relawan untuk membahas makanan yang akan dibagikan kepada pasien esok harinya. Pada sore hari itu juga, Foeng Jie Tju bersama relawan lain langsung berbelanja sayuran dan semua perlengkapan yang dibutuhkan.


Beberapa relawan He Qi Pusat berbelanja sayuran di pasar Jembatan Lima untuk mempersiapkan menu lontong cap go meh.

Dukungan dari ketua komunitas relawan He Qi Pusat, Like Hermansyah pun terasa sangat berarti dalam menyukseskan kegiatan. Foeng Jie Tju juga menambahkan bahwa tujuan kegiatan ini hanya ingin membahagiakan para pasien yang tidak bisa berkumpul dengan keluarga. “Kebahagiaan pasien kebahagiaan kami juga,” ungkapnya.

Tepat pada 15 Juni 2018 di salah satu rumah relawan di Jembatan Lima, terlihat kesibukan 13 insan Tzu Chi He Qi Pusat. Mereka mulai membersihkan sayur, mengupas, memotong, meracik bumbu, hingga merebus sayuran setengah matang agar esok harinya sayuran tinggal dimatangkan bersama kuah. Beberapa relawan juga harus kembali ke pasar Jembatan Lima untuk berbelanja beberapa sayuran lagi untuk menambah variasi.


Selain makanan, relawan menyiapkan 120 bingkisan lebaran, terdiri dari 5 bungkus mi instan DAAI, 1 kotak 200 ml susu cair, dan 1 bungkus biskuit.

Setelah selesai menyiapkan 200 kotak lontong cap go meh, 19 relawan sibuk membungkus bingkisan lebaran yang terdiri dari 5 bungkus mi instan DAAI, 1 kotak susu cair 200 ml, dan 1 bungkus biskuit. Menu ini akan dibagikan kepada para pasien dan keluarga yang menemani mereka pada 16 Juni 2018.

“Walau hanya lontong sayur cap go meh, namun banyak cinta kasih terkandung di dalamnya. Saya sunguh terharu dengan ketulusan shixiong shijie. Berkat kesungguhan yang meluangkan waktu liburan selama 2 hari untuk menyiapkan 200 kotak makanan siang dan bingkisan cinta kasih, kegiatan ini bisa terlaksana dengan lancar,” kata Foeng Jie Tju.

Mengantarkan Kehangatan Keluarga


Relawan bersemangat berjalan menyusuri lorong Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat untuk memberikan bingkisan lebaran bagi keluarga pasien dari luar kota.

Di rumah singgah Pasar Kenari masih ada 3 pasien bayi bersama orang tuanya yang tidak bisa pulang ke kampung halaman. Maulana Auria Rafri Rubini, bayi berusia 10 bulan menderita kerusakan hati kronis. Sebagai orang tua, Rudi (36) dan Herlina (34) sangat terpukul dan tidak percaya. Selama masa kehamilan, Herlina rutin melakukan pemeriksaan terhadap bayi dalam kandungan.

“Di usia 25 hari, Maulana sudah menolak asupan ASI, hingga membuatnya badannya terus melemah,” jelas Rudi, warga asal Lampung yang sudah 5 bulan tinggal di rumah singgah Pasar Kenari, Jakarta Pusat. “Untuk perawatan intensif di RSCM, baru satu bulan jalan,” lanjut Rudi yang sangat bersyukur bisa bertemu dengan salah satu sukarelawan yang memberikan informasi tentang rumah singgah di Pasar Kenari.

“Sedih tidak bisa pulang ke Lampung untuk merayakan lebaran. Demi kesembuhan anak, kesedihan ini bisa tergantikan saat menjalankan Sholat Idul Fitri di mesjid terdekat,” ungkap Rudi tegar.


Walau sedih karena meninggalkan 2 buah hatinya bersama sang nenek di Singkawang, Julina (42) harus kuat untuk menjalani 2 operasi pengangkatan tumor jinak di belakang otak yang akan dijalaninya.

Rumah singgah selanjutnya yang dikunjungi adalah rumah singgah Dompet Dhuafa, Jalan Kimia Gang Ampiun. Di rumah singgah ini banyak pasien tidak pulang ke kampung halaman. Salah satunya Devi (22), penderita tumor jinak di lutut sebelah kiri yang membuatnya tidak bisa banyak bergerak. “Lebaran tahun kemarin, karena kurang hati-hati lutut kaki sebelah kiri terbentur pintu lemari. Awalnya hanya di urut biasa. Benturan itu terus membengkak selama 8 bulan lamanya,” ujar Devi ditemani ayahnya selama tinggal di rumah singgah Dompet Dhuafa. Lebaran kali ini, Devi pun tidak bisa pulang ke Pontianak untuk berlebaran bersama ibunya.

Pasien lainnya, Juliana (42) yang dulu sempat sembuh dari tumor jinak di belakang otak kini kembali menderita penyakit yang serupa. Sama seperti pasien lainnya, ia pun tidak bisa merayakan Idul Fitri bersama keluarga. Tahun ini mereka bahkan harus meninggalkan 2 anak untuk tinggal bersama neneknya di Singkawang. “Sedih harus meninggalkan anak-anak dan keluarga di lebaran ini. Anak-anak selalu memberikan semangat melalui aplikasi tukar pesan Whatsapp dan minta saya tidak perlu mengkhawatirkan mereka, ‘yang penting mama cepat sembuh’,” cerita Julina yang sudah 5 bulan lebih menunggu jadwal operasi pengangkatan tumor jinak di otak dan harus menjalani dua kali operasi tumor otak.

Bagi para pasien itu kehadiran relawan Tzu Chi bagai menerima kunjungan silaturahmi dari sanak keluarga. Walaupun sebelumnya tidak saling mengenal, namun melalui momen hari nan fitri tersebut relawan terus merajut jalinan keluarga baru dan senantiasa menebar kehangatan cinta kasih.

Editor: Metta Wulandari

Artikel dibaca sebanyak : 319 kali


Berita Terkait


Mengalirkan Kebaikan di Kramat Jati

12 Juni 2017


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Kita harus bisa bersikap rendah hati, namun jangan sampai meremehkan diri sendiri.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat