Senin, 26 Agustus 2019
Indonesia | English

Keyakinan Tak Tergoyahkan

01 November 2018 Jurnalis : Henny (Tzu Chi Medan)
Fotografer : Amir Tan, Liani Oei (Tzu Chi Medan)


Minggu 28 Oktober 2018 Tzu Chi Medan mengadakan Pelatihan Relawan Abu Putih ke 3 yang diikuti oleh 55 peserta.

Mengisi pekan terakhir di bulan Oktober, Tzu Chi Medan mengadakan Pelatihan Relawan Abu Putih ke 3. Training yang diadakan pada 28 Oktober 2018 di Kantor Tzu Chi Medan itu mengangkat tema Shǒu Zhī Bù Dòng atau yang dalam Bahasa Indonesia berarti Keyakinan Tidak Tergoyahkan.

Desnita, salah satu pemateri dalam training mengungkapkan bahwa dirinya ingin sekali memberikan pemahaman tentang apa itu Jing Si kepada 55 peserta yang hadir. “Jing Si adalah ruang untuk kesadaran sedangkan Jalan Bodhisatwa merupakan praktik,” kata Desnita. “Lalu pelan-pelan kita menjalani, menyadari, membuka hati, melatih diri, dan menyucikan hati. Karena jika kita hanya mendengar, kita lupa. Jika kita hanya melihat, kita hanya sebatas mengetahui. Namun jika kita melakukannya, barulah kita mampu memahaminya,” lanjut relawan yang bergabung dengan Tzu Chi sejak 2002 tersebut.  Dengan memahami dan melakukannya sendiri, Desnita berharap setiap orang bisa yakin bahwa apa yang mereka lakukan bisa bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.

Cinta Kasih Universal Tanpa Batas adalah materi selanjutnya yang dibawakan oleh Endang Kamal. Dalam materi tersebut ia menyoroti tentang populasi manusia yang terus bertambah oleh kelahiran, namun sejalan dengan hal tersebut ego dan keakuan pun semakin meningkat. Bagaimana cara mengendalikannya? “Setiap orang harus mengembangkan cinta kasih dalam diri,” katanya. “Master sering mengatakan lihatlah dengan telinga, dengarlah dengan mata. Artinya pada saat mendengar sesuatu cari tahu lah dengan mata sendiri. Sehingga setiap orang tidak terjerumus dan tersesat,” lanjut Endang Kamal.


Relawan Komite Desnita membawakan materi tentang menjadi Murid Jing Si.


Sebelum pelatihan dimulai, peserta terlebih dahulu melakukan pendaftaran ulang di meja pendaftaran yang telah disediakan panitia pelatihan.

Bukan hanya itu, di Tzu Chi setiap orang juga harus bisa hidup dengan harmonis antara satu sama lain. Hubungan antar manusia yang baik menjadi salah satu kunci dalam mengembangkan cinta kasih antar sesama. Untuk itu, training ini juga memberikan pembahasan tentang struktur 4 in 1 dalam Tzu Chi yang dibawakan oleh Su Pun Wui.

Su Pun Wui menjelaskan ada 2 alasan mengapa Master menggalakkan struktur 4 in 1. Pertama adalah demi mewariskan ajaran Jing Si, membangun landasan bagi Tzu Chi di masa mendatang. Kedua, Master berharap setiap orang adalah inti dari Tzu Chi.

Struktur 4 in 1 yang dirinci menjadi He Xin, He Qi, Hu Ai, Xie Li berarti bersatu hati, beramah tamah, saling menyayangi, dan gotong royong. “Ketika berbagi tugas adalah empat namun saat bekerja adalah satu. Tidak ada perbedaan status, hanya saja fungsi dan peranan masing-masing relawan saja yang berbeda,” kata Su Pun Wui. “Apabila setiap relawan memiliki tanggung jawab dan setiap tanggung jawab dijalankan oleh masing-masing relawan, maka baru akan tercipta perasaan sukacita dalam bersumbangsih,” imbuhnya.

Hidup yang Berarti

Zerry mengawali langkahnya di Tzu Chi dengan menjadi donator di tahun 2005. Ia bergabung menjadi relawan di tahun 2007 karena terinspirasi oleh DAAI TV dan pementasan Sutra Bakti Seorang Anak. Kedua hal tersebut pun membuat hubungannya dengan sang ayah mulai membaik.

Selama belajar di Tzu Chi, Dharma membuat Zerry menyadari perlunya bersumbangsih dan memupuk kebijaksanaan agar hidup lebih bermakna dan berbahagia. Berbagai kegiatan mulai ia ikuti. Mulai dari kegiatan pembagian beras, pementasan sutra, maupun menjadi koordinator barisan pada acara Waisak, dan kegiatan pelestarian lingkungan, semua pernah ia rasakan.


Zerry memberikan sharing tentang perjalanan dan jalinan hodohnya di Tzu Chi.


Peragaan Isyarat Tangan yang lagu berjudul Shou Zhi Nin dibawakan oleh Relawan Tim Isyarat Tangan.

Zerry termasuk relawan yang sangat aktif hingga pada akhirnya berkomitmen menjadi relawan Komite sebagai wujud syukur bisa menjadi murid Master Cheng Yen. Dirinya berikrar untuk terus bersumbangsih melangkah di Jalan Bodhisatwa.

Sharing dan materi-materi yang dibawakan oleh relawan tentunya merupakan hal yang berarti bagi para peserta. Seperti David Gho yang baru pertama sekali mengikuti pelatihan Relawan Abu Putih. Ia mengaku sangat terinspirasi dengan semua materi pelatihan hari itu terutama sharing dari Zerry yang mampu dan bersedia ikut dalam bersumbangsih bagi sesama.

Editor: Metta Wulandari

Artikel dibaca sebanyak : 369 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Semua manusia berkeinginan untuk "memiliki", padahal "memiliki" adalah sumber dari kerisauan.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat