Selasa, 23 Juli 2019
Indonesia | English

Lie Hai Yong yang Saya Kenal

07 Mei 2009 Jurnalis : Djunarto (He Qi Timur)
Fotografer : Djunarto (He Qi Timur)

 
foto

* Koin pemberian Master Cheng Yen saat Pemberkahan Akhir Tahun untuk para relawan, saya berikan kepada Hai Yong. Dia sangat senang menerimanya dan akan terus dipakai setiap hari.

Nilai kehidupan manusia terletak pada fungsinya, bukan pada citranya; citra sama sekali tidak bernilai. (Master Cheng Yen )

Hidup yang Terus Berubah
"Shijie, tolong jagain meja kasir sebentar, saya mau ke toilet sebentar,” kata saya. Hai Yong (53) mengangguk dan segera mengambil posisi tempat duduk saya. "Shijie, Bapak itu mau minta termos air yang warna abu, masih ada stock gak yah?” Hai Yong pun menjawab," tunggu, coba saya lihat dulu, di dalam kardus masih ada gak yang warna abu."

Itulah sepenggal kisah kenangan saya dengan Lie Hai Yong pada saat mendapat tugas menjaga pameran alat-alat pelestarian lingkungan pada saat even "Jakarta Fashion and Food Festival" di Mal Kelapa Gading, Jakarta Utara, tepatnya di depan supermarket Mal Kelapa Gading setahun yang lalu. Waktu itu Hai Yong masih segar bugar, dan sering melempar senyuman ke setiap pengunjung yang melihat pameran.

Masih di bulan yang sama setahun lalu (Mei 2008 –red), kini—6 Mei 2009—Hai Yong harus dirawat lagi di Rumah Sakit Satyanegara, Sunter, Jakarta Utara. Dia menderita penyakit kanker saluran indung telur. Sebuah selang terpasang di pergelangan tangannya. saluran infus berisi albumen (sejenis cairan obat zat putih telur -red) setetes demi setetes mengalir ke dalam tubuh Hai Yong melalui selang tersebut. Menurut dokter ahli kandungan yang merawatnya, obat ini disalurkan ke dalam tubuh Hai Yong, dikarenakan setiap hari cairan dari perutnya yang membuncit harus disedot keluar sebanyak 2 liter, dan dia akan kehilangan protein banyak sekali. Untuk itu harus dibantu dengan infus albumen.

Membayar Karma Buruk
" Biarlah karma buruk ini saya tanggung dan saya bayar lunas di kehidupan saya saat ini, agar kemudian kelak saya bisa kembali lagi untuk bisa membantu Yayasan Tzu Chi lagi,” ungkap Hai Yong tegar. Masih teringat pada bulan Oktober 2008 yang lalu , Hai Yong dan saya dilantik sebagai relawan biru putih. "Tidak apa-apa, tekad saya sudah bulat, apapun akan saya hadapi. Adik-adik dan kakak-kakak saya masih mendukung saya, biarlah Yayasan tetap bisa membantu yang lemah dan benar-benar membutuhkan." Kata-kata ini yang selalu diucapkan oleh Hai Yong manakala relawan Tzu Chi datang menjenguk.

Selalu Bentrok Mulut
Sejauh yang saya kenal, Hai Yong selama menjalankan tugas Tzu Chi, terutama even-even besar, saya sering bentrok atau adu mulut dengan Hai Yong. Namun, bukannya pertengkaran yang didapat, namun hanya menghangatkan suasana belaka, agar tampak riuh. Begitulah saya dan dia bilamana berjumpa di pertemuan Tzu Chi maupun pada saat melakukan aktivitas Tzu Chi di lapangan.

foto  

Ket : - Senyum mengembang masih terus terpancar dari hatinya, meski penyakit terus mendera tubuh
           Lie Hai Yong.

Kini, wajah Hai Yong tampak pucat dan terbaring lemah, dengan berat badan yang terus merosot. " Saya turun hampir 20 kg belakangan ini, Shixiong,” ujarnya terbata-bata dengan suara tertahan dan sangat memilukan. Hai Yong merupakan sahabat saya yang tidak pernah mengeluh dalam menjalankan tugas. Pada saat pameran alat-alat pelestarian lingkungan berlangsung, hampir tidak ada kesempatan untuk Hai Yong duduk dan istirahat , karena pengunjung yang selalu datang menghampiri pameran tersebut. Hai Yong yang belakangan ini menderita sesak napas yang berkepanjangan, akhirnya dibawa ke rumah sakit untuk rawat inap. Perutnya makin membesar, dan dokter menyarankannya untuk melakukan kemoterapi, namun selalu ditolaknya.

Tzu Chi Selalu Ada Dalam Hidupku
Sebuah koin hadiah Master saya berikan kepada Hai Yong, dan dia menatap koin tersebut beberapa saat dan saya pun berkata, "Koin ini dari Master Cheng Yen, dan hari ini saya berikan kepadamu sebagai kenang-kenangan. Pandanglah koin ini sebagai pengobat rindu akan aktivitas Tzu Chi yang sekarang belum dapat diwujudkan lagi.” " Napas Tzu Chi masih tetap ada di hati saya Shixiong, tidak akan pernah pudar," jawabnya. “Iya, istirahat dengan baik, bila nanti sudah sehat, saya akan menemani Shijie untuk bersama-sama melakukan aktivitas Tzu Chi lagi. Tetap optimis, Shijie,” hibur saya memberi semangat. Meskipun di dalam hati saya merasa sangat sedih, namun saya tidak menampakan wajah yang sedih kepadanya, khawatir nanti dia merasa lebih sedih lagi. "Koin ini saya akan gantungkan di leher saya nantinya, Gan En (terima kasih -red) Shixiong,” janji Hai Yong. Tampak Sainah dan Aping, sesama relawan Tzu Chi yang lain ikut larut dalam kesedihan.

Pelajaran Mahal untuk Kita

Bersainglah demi kebaikan di dalam kehidupan manfaatkanlah setiap detik dengan sebaik-baiknya. (Master Cheng Yen)

Hai Yong yang menderita kanker indung telur ini masih begitu bersemangat untuk bisa mengikuti kegiatan Tzu Chi lagi, dan ini sebagai peringatan juga untuk kita yang masih sehat untuk lebih giat lagi bersumbangsih bagi masyarakat.

Tubuh fisik kita masih sehat, dan mengingat kehidupan yang selalu berubah atau tidak kekal ini, harus bagaimanakah cara kita menyikapinya? Hanya tekad kerja untuk bergiat di jalan Jing Si sebagai ladang berkah bagi kita untuk menggarapnya, sebagaimana Master Cheng Yen selalu mengingatkan,” Jangan pernah mengeluh...”

 

Artikel dibaca sebanyak : 1003 kali


Berita Terkait


Melihat Dunia dari Kaca Mata My Dream

22 Juli 2019

My Dream Kembali Memukau Ribuan Penonton di Jakarta

22 Juli 2019

Sumbangsih untuk Korban Kebakaran Manggarai

22 Juli 2019

My Dream, Tontonan Wajib Akhir Pekan Ini

18 Juli 2019

Mendukung Terciptanya Manokwari yang Bersih dan Sehat

18 Juli 2019


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Dengan keyakinan, keuletan, dan keberanian, tidak ada yang tidak berhasil dilakukan di dunia ini.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat