Kamis, 15 November 2018
Indonesia | English

Mendengarkan dan Memberi Semangat

02 November 2018 Jurnalis : Cindy (He Qi Utara 1)
Fotografer : Hadi Pranoto


Relawan Tzu Chi dengan sabar dan penuh perhatian mendengarkan cerita dari salah satu keluarga penumpang pesawat Lion Air JT 610.

Rabu pagi, 31 Oktober 2018, saya dan 14 relawan Tzu Chi lainnya berkumpul di Lobby Tzu Chi Center, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara. Seperti kemarin, hari ini kami juga akan memberi perhatian kepada keluarga penumpang pesawat Lion Air JT-610 di Rumah Sakit Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur.

Sebelum berangkat, kami mendapatkan arahan dari Ria Sulaeman, Nelly Kosasih Shijie, dan Hardiman atau yang akrab disapa Abun Shixiong tentang apa yang harus kami lakukan selama mendampingi para keluarga penumpang pesawat Lion Air JT-610 yang jatuh di daerah Tanjung, Karawang, Jawa Barat. “Kita harus lebih banyak mendengarkan mereka (keluarga penumpang), jangan membuat mereka justru merasa terganggu,” kata Nelly Shijie, koordinator kegiatan ini. Hal ini penting disampaikan agar kehadiran kami ini tidak justru menambah kegalauan dan kesedihan kepada mereka.

Menjadi Pendengar yang Bersahabat


Sebelumnya dilakukan briefing agar pendampingan yang dilakukan relawan bisa tepat dan dirasakan oleh mereka yang didampingi.

Satu jam perjalanan, tepat jam 9 pagi kami tiba di RS Polri Kramat Jati dan langsung menuju Posko Keluarga Penumpang Pesawat Lion Air JT 610 di Gedung Promoter Rumah Sakit Bhayangkara TK. I R. Said Sukanto (RS Polri), Kramat Jati, Jakarta Timur. Kondisi ruangan saat itu masih sepi, hanya ada beberapa orang dan keluarga yang duduk berpencar-pencar. Beberapa sibuk dengan HP-nya, dan sebagian besar menatap dengan seksama layar televisi di depan mereka. Tampak wajah-wajah yang lelah, sedih, dan galau meliputi raut muka mereka.  

Saya dan relawan lainnya segera menempati meja di ujung ruangan dan menyiapkan berbagai keperluan, seperti air panas, teh, kopi, makanan ringan, obat-obatan ringan hingga minyak angin. Kami segera bergerak sesuai dengan kelompok-kelompok kecil yang di-briefing pagi tadi. Kami menawarkan obat-obatan dan makanan ringan kepada keluarga yang menunggu di sana, dan ternyata respon mereka sangat bagus. Mereka rata-rata mengambil obat tolak angin dan minyak angin.

Ketika tengah berjalan keliling, saya (Cindy) dan Betsy Shijie menghampiri satu keluarga kecil yang tengah duduk beralaskan terpal plastik. Seorang bapak dan dua orang ibu yang sudah berusia kira-kira 60-an tahun.


Relawan Tzu Chi menawarkan makanan ringan dan minuman kepada keluarga penumpang pesawat Lion Air JT 610 di Posko Keluarga di RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur.

Kami langsung duduk setengah berlutut menyapa dan menyalami mereka satu persatu. Tak lupa kami juga tawari minyak kayu putih , minuman tolak angin, dan Kurma. Mereka pun menyambutnya dengan senang dan penuh keramahan.

Bahkan di luar dugaan, ibu yang pertama saya sapa tersebut memeluk dan mencium pipi saya. Saya pun terharu dan langsung membalas memeluknya. Kemudian saya memegangi sambil meremas lembut kedua tangannya tanpa bicara. Saya hanya menatap matanya, dengan sepenuh hati menunjukan rasa empati saya yang sedalam-dalamnya atas musibah yang menimpa keluarganya.

Sambil memejamkan mata dan menahan isak tangis ia mengucapkan, “Terima Kasih.” Saya langsung memeluknya kembali. Setelah itu, ibu tersebut bilang, “Ibu bantu doakan yah.” Saya langsung jawab bahwa saya dan semua relawan yang hadir selalu mendoakan yang terbaik untuk para penumpang pesawat ini.

Setelah tenang, ibu itu kemudian mulai bercerita jika anak perempuannya berada dalam pesawat Lion Air JT610. Putrinya yang berusia 27 tahun bekerja pada di salah satu instansi pemerintah, dan baru beberapa bulan pindah tugas ke Pulau Bangka. Seminggu lalu, putrinya bersama beberapa rekan kerjanya datang ke Jakarta untuk mengikuti seminar di kantor pusatnya di Jakarta.

Minggu siang, 28 Oktober 2018, hingga malam sang anak mengunjungi ibunya, dan mengaku kangen dengan masakan sang bunda. Si Ibusempat meminta supaya putrinya menunda dulu berangkat  ke tempat tugas. Tapi putrinya bilang tidak bisa, dan akhirnya minggu malam pamit pulang.


Bermain origami dilakukan relawan untuk menghibur anak di Posko Keluarga di Hotel Ibis Cawang, Jakarta Timur.

Dan Senin Pagi, sang ibu mendengar musibah kecelakaan yang menimpa  pesawat yang ditumpangi putrinya dari menantunya. Sambil menangis terisak, sang ibu bilang bahwa putrinya sangat baik, cantik, pintar, dan berbakti kepada orangtua. Putrinya juga baru selesai Kuliah S-2 dan akan diwisuda bulan November ini.  Saya tak dapat menahan rir mata karena rasa haru yang meliputi saya. Sebagai seorang ibu saya juga bisa merasakan yang dirasakan ibu tersebut. Saya hanya dapat memegangi dan menggenggam tangannya. Mendukungnya meski tanpa kata-kata.

Setelah tangisnya mereda, sang ibu memperkenalkan saya pada kedua besannya yang ikut menemani. Mereka juga sangat ramah dan mengucapkan terima kasih atas perhatian yang diberikan para relawan Tzu Chi.

Tanpa terasa waktu telah menunjukan jam 1 siang. Kami diinformasikan oleh koordinator kami agar segera berkemas karena kami akan Guan Huai pada keluarga korban di Hotel Ibis Cawang, Jakarta Timur. Tak lupa saya berpamitan pada sang ibu. Kembali kami berpelukan dan ibu meminta agar saya terus bantu mendoakan untuk anaknya. Saya bilang pasti saya akan terus berdoa, dan berpesan kepada sang ibu agar kuat dan tabah dalam menghadapi ujian ini.

Semoga mereka (keluarga para penumpang) ini semua diberikan kekuatan dan ketabahan.

Editor: Hadi Pranoto

Artikel dibaca sebanyak : 351 kali


Berita Terkait


Empati untuk Keluarga Penumpang Lion Air JT 610

31 Oktober 2018


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Dalam berhubungan dengan sesama hendaknya melepas ego, berjiwa besar, bersikap santun, saling mengalah, dan saling mengasihi.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat