Senin, 19 November 2018
Indonesia | English

Mengenal Layanan Paliatif Lebih Dekat

09 Juli 2018 Jurnalis : Metta Wulandari
Fotografer : dr. Ganny (TIMA), Edi (TIMA), Metta Wulandari, Yekti Utami (TIMA)


Perwakilan dari Yayasan Buddha Tzu Chi, TIMA Indonesia, dan para pembicara menyaksikan pemukulan gong yang menandakan dibukanya seminar kesehatan dengan tema Peluang dan Tantangan Perawatan Paliatif di Indonesia.

Memberikan edukasi bagi paramedis dan masyarakat umum akan perkembangan dalam misi kesehatan terus dilakukan oleh Tzu Chi International Medical Association (TIMA) Indonesia. Yang paling baru, Minggu 8 Juli 2018 kemarin, TIMA menggelar Seminar Kesehatan dengan tema Peluang dan Tantangan Perawatan Paliatif di Indonesia. Seminar ini menghadirkan pembicara yang sangat kompeten dibidangnya, layaknya dr. Maria Astheria Witjaksono, MPALLC(FU), PC physician dan dr. Siti Annisa Nuhonni, SpKFR(K).

Dokter Yasavati Kurnia MS, anggota TIMA sekaligus Ketua Panitia seminar kesehatan ini menuturkan bahwa adalah suatu kesempatan yang luar biasa bisa menghadirkan para pembicara dan bisa berbagi serta menyosialisasikan tentang layanan paliatif.


dr. Maria Astheria Witjaksono, MPALLC(FU) memberikan penjelasan mengenai apa itu paliatif kepada para peserta seminar di Guo Yi Ting Aula Jing Si Lantai 3.

“Kita tahu di Indonesia pengetahuan akan layanan paliatif masih sangat rendah. Jarang sekali ada yang tertarik karena di Indonesia masih menganggap bahwa layanan paliatif ya urusan orang mati saja,” kata dr. Yasavati. Ia melanjutkan bahwa anggapannya seperti itu harus segera diakhiri. “Ini anggapan salah ingin kita luruskan dengan edukasi dan sosialisasi. Padahal layanan paliatif itu bisa dimulai sejak seorang pasien didiagnosis dengan penyakit tertentu,” jelasnya.

Sebagai survivor kanker kulit (melanoma) 10 tahun lalu, dr. Yasa merasa sudah mendapatkan bonus waktu 10 tahun untuk melanjutkan hidupnya. Maka dari itu ia ingin menggunakan bonus waktunya dengan sebaik mungkin. “Ya salah satunya memanfaatkan kemampuan saya untuk membantu banyak orang yang berhubungan dengan kanker,” ujarnya ringan. “Itulah mengapa saya sangat senang ketika TIMA akhirnya membuat seminar tentang paliatif,” lanjutnya. Hal ini juga sebagai persiapan nantinya akan ada layanan paliatif di Tzu Chi Hospital yang tengah dalam tahap pembangunan.

Dihadiri oleh 544 peserta, seminar tersebut dibagi menjadi dua lokasi di Aula Jing Si. Ruangan Guo Yi Ting Lantai 3 Aula Jing Si diperuntukkan bagi paramedis, sedangkan ruangan Xi She Ting Lantai 1 Aula Jing Si diperuntukkan bagi masyarakat umum serta relawan Tzu Chi.

Pentingnya Pengetahuan Akan Paliatif


Peserta yang terdiri dari masyarakat umum dan relawan Tzu Chi di Xi She Ting Lantai 1 Aula Jing Si sangat antusias mengetahui paliatif lebih lanjut.

Antusias peserta terlihat sejak seminar dimulai pukul 08.00 hingga diakhiri pukul 17.00 WIB. Satu di antaranya adalah Imas Dewi K yang sehari-hari bekerja sebagai tenaga perawat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta Pusat. Ia yang datang bersama 9 teman perawat dan dokter merasa senang bisa mendapatkan input yang banyak dan amat bermanfaat. Terlebih sehari-harinya ia memang ditugaskan pada bagian layanan kemoterapi bagi para penderita kanker.

“Kalau keseharian memang kadang kita terbawa arus dari keluarga pasien yang marah. Tapi sebisa mungkin mengendalikan diri. Memang kami paling sering diam kalau dimarahi,” cerita Imas sembari tertawa.


Imas Dewi K (baju biru) melihat dan mempelajari bagaimana cara merawat pasien paliatif. Mereka juga diajak praktik langsung.

Imas menganggap pengetahuan tentang layanan paliatif ini adalah sesuatu yang penting untuk diketahui masyarakat, apalagi bagi para perawat dan dokter. “Pengetahuan kesehatan para keluarga pasien memang bervariasi, tapi kebanyakan mereka minim informasi. Nah kami yang sudah mempunyai informasi sedikit lebih banyak dari mereka, seharusnya bisa memberikan informasi itu untuk keluarga dan pasien. Ya mudah-mudahan kami bisa lebih care dalam melayani dan mengasihi mereka layaknya keluarga sendiri,” harap Imas.

Selain Imas, ada Supraptini seorang survivor kanker payudara yang sudah 31 tahun menjalani pengobatan kanker. Kehadirannya di ruang Xi She Ting membuat para masyarakat umum dan relawan Tzu Chi berdecak kagum karena mengetahui bagaimana perjuangan dokter, dirinya sendiri, juga keluarganya dalam melawan kanker. Secara pribadi, wanita berusia 70 tahun tersebut bercerita bagaimana layanan paliatif bisa meningkatkan kualitas hidupnya.

Paliatif Meningkatkan Kualitas Kehidupan


Supraptini (baju merah muda) seorang survivor kanker payudara sudah 31 tahun menjalani pengobatan kanker. Kehadirannya di ruang Xi She Ting membuat para masyarakat umum dan relawan Tzu Chi berdecak kagum.

Supraptini divonis kanker payudara ketika usianya belum genap 40 tahun. Saat itu ia sedang mengandung anak terakhirnya yang kini sudah menjadi dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Ia diberi pilihan untuk menggugurkan sang jabang bayi atau menuggu kelahirannya untuk memulai pengobatan. Sebagai ibu, ia memilih menunggu kelahiran putrinya.

Layanan paliatif dimulai ketika berbagai informasi dan pengobatan kanker yang ia butuhkan kala itu sangat didukung oleh tim medis dan keluarga. Istilahnya semua mendukung sampai lini terkecil. Maka tidak ada kata patah semangat dalam hidup Supraptini walaupun kanker sudah bersarang ke bagian-bagian tubuhnya. Pekerjaannya sebagai peneliti di bidang kesehatan juga memberikannya banyak pengetahuan tentang penyakit yang dideritanya.

Dijelaskan oleh dr. Maria Astheria Witjaksono, layanan paliatif jelas berbeda dengan euthanasia atau praktik pencabutan kehidupan. “Layanan paliatif tidak hanya untuk mereka yang di ambang batas usia. Tapi untuk mereka yang masih dalam stadium awal,” kata dr. Maria. Lebih lanjut dr. Maria menjelaskan basepahwa bertujuan paliatif bukan untuk memperpanjang atau memperpendek usia manusia tapi untuk meningkatkan kualitas hidup para pasien. Supraptini jelas merasakan kualitas hidupnya sama seperti mereka yang sehat, bahkan mungkin lebih karena dukungan keluarga tak pernah habis. “Berkat paliatif, saya masih bisa berobat sekaligus bekerja bahkan baru pensiun 5 tahun lalu. Sungguh ini adalah berkah,” katanya senang.

Editor: Yuliati

Artikel dibaca sebanyak : 749 kali


Berita Terkait


Seminar Kesehatan tentang Perawatan Gigi Lansia

02 November 2018

Hidup Berkualitas di Usia Tua

29 Oktober 2018

Lawan Kanker Serviks

18 Mei 2018

Menyadari Kebutuhan Pasien Geriatri

18 Agustus 2015

Seminar Kesehatan Dagusibu: Memahami dengan Benar

13 Agustus 2015


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Cemberut dan tersenyum, keduanya adalah ekspresi. Mengapa tidak memilih tersenyum saja?

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat