Senin, 21 Oktober 2019
Indonesia | English

Menjadi Tim Medis Berbudaya Humanis

09 April 2019 Jurnalis : Arimami Suryo A
Fotografer : Arimami Suryo A


Sebanyak 68 peserta mengikuti kegiatan sosialisasi TIMA Indonesia di Galeri DAAI, Tzu Chi Center, PIK, Jakarta Utara.

Berangkat dari semangat untuk membantu sesama yang menderita, Tzu Chi International Medical Association (TIMA) Indonesia mengadakan sosialisasi TIMA kepada para calon anggota TIMA Indonesia. Kegiatan yang diadakan pada Minggu, 7 April 2019 di Galeri DAAI, Tzu Chi Center, PIK, Jakarta Utara ini mengajak para peserta untuk mengenal dan memahami bagaimana menjadi tim medis yang budaya humanis.


Drg. Linda Verniati, Sp.Ort, Koordinator Sosialisasi TIMA Indonesia memberikan penjelasan tentang maksud dan tujuan sosialisasi.

Dalam kegiatan ini, 68 peserta yang terdiri dari dokter spesialis, dokter umum, dokter gigi, apoteker dan asisten apoteker, perawat, bidan, serta analis kesehatan diperkenalkan dengan sejarah Tzu Chi dan berdirinya TIMA. “Acara sosialisasi ini untuk calon anggota TIMA, jadi harus ada tata cara untuk menjadi anggota TIMA. Karena dalam beberapa kesempatan beberapa anggota TIMA ada yang keluar masuk karena belum memahami apa itu Tzu Chi dan TIMA sendiri,” ungkap drg. Linda Verniati, Sp.Ort, Koordinator Kegiatan Sosialisasi TIMA Indonesia.


Para peserta juga diperkenalkan cara berpakaian anggota TIMA oleh salah satu anggota TIMA Indonesia, drg. Vica.

Kegiatan yang diadakan dua kali dalam satu tahun ini juga bertujuan untuk membekali para tim medis tentang budaya humanis Tzu Chi. Sosialisasi pertama sifatnya hanya kulit, kemudian sosialisasi yang kedua adalah tentang cakupan-cakupan TIMA secara keseluruhan. “Untuk masuk menjadi anggota TIMA ya harus tahu dulu Tzu Chi itu apa kemudian baru TIMA. Kita menyampaikan apa yang do dan apa yang don’t saat menjadi anggota,” kata drg. Linda Verniati, Sp.Ort.


Kebahagiaan Nisa (jilbab putih merah) bersama para peserta sosialisasi lainnya saat belajar isyarat tangan Satu Keluarga.

Para peserta juga diajak untuk tur keliling Aula Jing Si untuk lebih memahami apa itu Tzu Chi dan TIMA. Tak lupa para calon anggota TIMA yang hadir juga diberikan tata cara berpakaian anggota TIMA, diajarkan isyarat tangan lagu Satu Keluarga, serta mengenal tata cara berbudaya humanis Tzu Chi. Satu persatu peserta juga mendapatkan celengan bambu, sehingga bukan hanya membantu dari segi medis saja, tetapi ikut berdonasi pula untuk mendukung kegiatan Tzu Chi lainnya.


Selain mendapatkan materi di ruangan, para peserta sosialisasi TIMA juga diajak tur Aula Jing Si untuk melihat rekam jejak Tzu Chi dan TIMA Indonesia.

Salah satu peserta yang ikut adalah Nisa. Ia merupakan asisten apoteker di RSCK Tzu Chi dan baru pertama kali mengikuti kegiatan sosialisasi TIMA. Menurut Nisa bukan hanya hal medis yang didapat tetapi hal-hal yang sifatnya sederhana ternyata penting dalam kehidupan sehari-hari. “Kita dilatih dari hal kecil seperti cara duduk, cara makan. Semuanya jadi baru sadar, kalau di rumah kan duduk tinggal duduk, makan juga. Jadi hari ini sangat bermanfaat,” jelas wanita yang bersemangat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan sosialisasi tersebut.

Tertarik dengan Tatanan di Tzu Chi

Bukan hanya dari wilayah Jakarta dan sekitarnya saja para tim medis yang mengikuti sosialisasi TIMA, salah satu peserta juga ada yang berasal dari Papua. Bagi Peter Giarso yang bertugas di salah satu RS di Papua, Tzu Chi bukanlah organisasi yang asing. Dalam beberapa kesempatan saat berada di Jakarta, dokter spesialis ortopedi ini juga pernah ikut beberapa kegiatan baksos Tzu Chi.


Celengan bambu juga dibagikan satu per satu kepada para peserta sosialisasi TIMA Indonesia.

“Tzu Chi yang saya kenal itu teratur, dasarnya berbeda dengan organisasi lainnya yaitu cinta kasih,” jelas Peter disela-sela kegiatan sosialisasi. Berkesempatan ikut sosialisasi TIMA ini, Peter pun ingin belajar lebih dalam tentang Tzu Chi dan TIMA. “Yang saya lihat TIMA memberikan pelayanan bukan dalam bidang medis saja, tetapi Tzu Chi juga melihat latar belakang dari orang yang dibantu, seperti keluarga, lingkungan, dan kehidupan sehari-harinya,” jelas laki-laki yang sudah 17 tahun menjadi dokter tersebut.


Peter Giarso (tengah) salah satu peserta sosialisasi TIMA Indonesia dari Papua.

Kejutan lainnya pun didapatkan Peter dalam sosialisasi TIMA ini. Saat mendengarkan sosialisasi misi amal dan mendapatkan celengan bambu, Ia pun menyadari bahwa selama ini anggapan bahwa donatur di Tzu Chi adalah dengan nominal besar saja. “Saya juga terkejut karena donatur di Tzu Chi sendiri awalnya saya pikir dalam jumlah yang besar saja, tetapi lewat celengan bambu sedikit demi sedikit donasi juga akan tekumpul menjadi besar,” ungkap Peter.

Ketertarikannya dengan Tzu Chi dan TIMA juga akan diwujudkannya dengan bergabung dalam pelantikan anggota TIMA di bulan November mendatang. “Saya akan bergabung dengan TIMA, selain menyumbangkan kemampuan saya untuk melayani kemanusiaan, saya juga ingin mempelajari Tzu Chi. Kok bisa gitu, Tzu Chi berjalan dengan baik setelah bertahun-tahun bahkan terus berkembang, karena banyak juga organisasi kemanusiaan yang akhirnya meredup. Jadi saya ingin belajar di sini,” tutup Peter.

Editor: Metta Wulandari

Artikel dibaca sebanyak : 417 kali


Berita Terkait


Mantap Menjadi Relawan TIMA Indonesia

23 September 2019


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Hakikat terpenting dari pendidikan adalah mewariskan cinta kasih dan hati yang penuh rasa syukur dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat