Senin, 23 Juli 2018
Indonesia | English

Menjernihkan Batin Melalui Chan Ding

22 Juni 2018 Jurnalis : Minarni (He Qi Utara 1)
Fotografer : Feranika Husodo, Tan Surianto (He Qi Utara 1)

Libur panjang biasanya dimanfaatkan oleh sebagian besar orang untuk berwisata bersama keluarga maupun menghabiskan waktu di rumah karena terbebas dari aktifitas rutin yang biasanya sangat padat. Sabtu, 16 Juni 2018 yaitu hari raya kedua Idul Fitri, relawan komunitas He Qi Utara 1 atas inisiatif Puspawati Shijie melakukan kegiatan Chan Ding dengan menyapu halaman Aula Jing Si sekitar tangga seribu di Tzu Chi Center, PIK Jakarta Utara.

Pagi itu cuaca sangat cerah dibarengi dengan sepinya jalanan tidak mengurangi niat dan semangat dari 17 relawan Tzu Chi untuk melatih diri dalam kegiatan Chan Ding ini. Jam menunjukkan pukul 06:30 WIB tepat saat relawan mulai merapatkan barisan untuk memulai kegiatan. Suara burung terdengar berkicau gembira dan di sisi timur terlihat matahari juga terus merangkak naik. Momen tersebut dimanfaatkan dengan sangat baik oleh Puspawati Shijie dengan mengajak semua peserta untuk melakukan hening sejenak. Para relawan pun terkesan dengan sesi ini.

“Meditasi di tangga seribu diiringi lagu Wu Liang Yi Jing, kemudian lalu lintas di depan aula juga tidak berisik karena hari libur, membuat suasana meditasi menjadi hening dan khidmat. Sambil duduk dengan punggung tegak, saya bisa dengan jelas mendengarkan instrumental Wu Liang Yi Jing dan suara burung berkicau. Mendengarkan desiran daun di pohon yang kena tiupan angin, disinari matahari pagi yang hangat. Wah, momen yang sungguh menyenangkan. Hati terasa sangat tenang dan sukacita,” ungkap Haryo Suparmun, salah satu relawan yang berpartisipasi.


Sabtu, 16 Juni 2018, sejumlah relawan He Qi Utara 1 mengadakan kegiatan Chan Ding dengan menyapu di halaman depan Aula Jing Si, Tzu Chi Center, PIK.


Meditasi duduk sejenak yang dilakukan sebelum menyapu halaman telah membawa sukacita mendalam bagi Haryo Suparmun (depan, paling kiri).

Setelah meditasi selesai, masing-masing relawan berpencar dengan mengambil sapu dan pengki. Mulai dari area tangga seribu sampai ke area taman mendekati pagar pembatas gedung, semua bergerak dengan penuh semangat untuk dapat kembali lagi berkumpul pada pukul 08:00 WIB.

Pada saat yang telah ditentukan tiba, belum juga terlihat ada yang berkumpul, dan saat diperiksa ternyata jawabannya hampir sama yakni masih belum selesai dan akan segera kumpul jika sudah selesai. Akhirnya kegiatan Chan Ding selesai pada jam 09.00 WIB.

“Jika dilakukan dengan yong xin (sepenuh hati) semua terasa ringan, membersihkan rumah batin sama seperti membersihkan batin kita sendiri, mencabut rumput liar di halaman rumah batin juga sama dengan mencabut rumput liar yang ada di batin kita sendiri,” kata Jennifer, salah satu relawan cilik yang berpartisipasi.


Beberapa relawan cilik juga berpartisipasi dalam kegiatan ini. Salah satunya James (baju putih).

Semangat menggebu dari relawan cilik lainnya, James yang sudah terlihat mulai saat bangun pagi. James sangat serius ikut membersihkan daun-daun yang berguguran di halaman aula. “Ya kalau halaman kita bersih, nanti hati kita juga ikut bersih,” ungkap James yang terlihat penuh dengan keringat.

Kesan berbeda dirasakan Tommy yang awalnya tidak mau ikut dan masih merasa capek sewaktu diajak mamanya karena baru saja pulang dari liburan. Namun akhirnya merasa gembira setelah ikut dan badan jadi terasa lebih segar. “Untung masih bisa ikut menggarap berkah, agar berkahnya tidak habis walaupun 50% nya sudah dipakai untuk liburan,” ujar Tommy yang datang bersama adik dan mamanya.

Sementara itu Minarni yang datang bersama suami dan anaknya, merasakan ikut kegiatan ini sama dengan menerapkan Sad Paramita. “Shixiong (suami) saya melihat saya menyapu dengan santai. Dengan heran ia bertanya kepada saya kenapa bisa santai begitu? Saya bilang, kita harus melakukannya dengan penuh konsentrasi dan hati-hati karena banyak semut kecil dan serangga lain yang sedang jalan di antara dedaunan kering. Jadi usahakan tidak melukai atau bahkan sampai membunuh semut-semut tersebut,” ujar Minarni yang merasakan sukacita dalam Dharma usai melakukan Chan Ding ini.


Selain halaman, ternyata dedaunan juga banyak yang tersangkut di saluran pembuangan air. Relawan dengan sabar membersihkannya.

Suami Minarni, Joetifa Joelianto juga merasa mendapatkan banyak pelajaran dari kegiatan ini. “Kita harus terus membersihkan batin kita dari sifat-sifat buruk seperti iri, dengki, dan lainnya agar kita bisa tenang dan benar dalam menjalankan rutinitas kita ke depannya, dan harus terus dilakukan agar kita senantiasa berada di jalan yang benar,” katanya.

Dari kegiatan menyapu ini Joelianto juga menyadari pentingnya menghargai setiap pekerjaan yang ada. Pekerjaan menyapu oleh sebagian orang dianggap sebagai pekerjaan rendah, namun pada saat diminta untuk mengerjakannya belum tentu orang itu dapat melakukannya dengan baik.

Beda lagi dengan Haryo Suparmun yang menggunakan cara terampil dalam menyapu daun. Ia menyapu dengan mengumpulkan daun dalam tumpukan-tumpukan kecil di beberapa bagian. “Dengan cara demikian, saya bisa menyapu untuk bidang yang lebih luas dengan lebih cepat dan lebih hemat tenaga. Tapi sewaktu balik ke tempat semula, untuk memasukkan tumpukan daun kering ke karung, ternyata sudah ada lagi daun kering yang jatuh dari pohon. Ini seperti yang Master Cheng Yen bilang, noda batin akan selalu muncul selama di dalam diri kita masih ada keserakahan, kebencian, kebodohan, kesombongan, dan keraguan,” papar Haryo.


Daun-daun yang disapu relawan ini ibarat sampah batin yang harus disingkirkan.

Haryo pun menyadari ternyata mengikis noda batin juga sama seperti membersihkan daun tersebut, harus dilakukan secara terus menerus tiada henti. “Daun kering yang baru saja jatuh seperti noda batin yang baru timbul yang harus segera dikikis. Ya, berarti disapu lagi dan disapu lagi. Kita harus tidak berhenti mengikis noda batin tersebut,” tukasnya.

Relawan lain, Ng Tjai Phin yang karena begitu semangat menyapu sehingga membuat kulit tangannya terkelupas juga tetap bersyukur. “Karena dapat melatih kesadaran, merasakan ketenangan dan kebahagiaan bersumbangsih untuk semua makhluk. Walau capek, tangan terkelupas, semua itu tidak mengurangi niat saya untuk ikut lagi di tahun mendatang,” ujarnya. Ia teringat para Shifu (Biksuni) di Hualien yang setiap hari membersihkan rumput halaman Griya Jing Si, sumbangsihnya yang hanya satu hari ini tidaklah berarti apa-apa.

Editor: Yuliati

Artikel dibaca sebanyak : 591 kali


Berita Terkait


“Studi - Aksi - Meditasi – Dharma”

08 Mei 2012


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Keteguhan hati dan keuletan bagaikan tetesan air yang menembus batu karang. Kesulitan dan rintangan sebesar apapun bisa ditembus.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat