Selasa, 19 Desember 2017
Indonesia | English

Menutup Kelas, Mempererat Hubungan

15 November 2017 Jurnalis : Michelle Novenda (He Qi Barat)
Fotografer : Canny, Markus, Michelle (He Qi Barat)

doc tzu chi

Minggu, 5 November 2017, para orang tua murid Kelas Budi Pekerti datang bersama putra-putrinya. Di Penutupan Kelas Budi Pekerti Tahun 2017 ini mereka merajut interaksi dan mempererat hubungan.

Kelas Budi Pekerti Tzu Chi tahun ajaran 2017 telah sampai pada penghujung tahun. Setelah 1 tahun belajar, bermain, dan berinteraksi bersama-sama, kini saatnya mengucapkan salam perpisahan. Acara Penutupan Kelas Budi Pekerti Tahun 2017 ini dilaksanakan di Tzu Chi Center, Pantai Indah Kapuk, pada 5 November 2017.

Untuk menambah makna di kelas kali ini, relawan mengajak orang tua dan murid-murid kelas budi pekerti bermain bersama di dalam susunan permainan yang telah dibagi menjadi 10 pos, di antaranya adalah make the tower, isyarat tangan, labirin, complete me, transfer the eggs, dan berbagai permainan menarik lainnya. Dengan mengusung tema Family Fun Race, relawan berharap timbul kekompakan dan komunikasi yang baik antara orang tua dan anak.

Bergotong Royong Memberikan yang Terbaik

Untuk menutup kelas tahun ajaran 2017 ini, relawan melakukan survei dan koordinasi dengan sangat seksama. Sejak bulan September, relawan berkeliling Aula Jing Si, Gedung DAAI, dan Gan En, guna melihat-lihat lokasi yang cocok untuk dijadikan sebagai pos untuk permainan. Setelah berhasil menemukan lokasi, ternyata lokasi yang diinginkan sudah diperuntukkan untuk kegiatan lainnya. Meskipun sempat kecewa, para relawan tetap tidak menyerah dan kembali mencari lokasi yang sesuai agar para orang tua dan murid bisa nyaman dalam melakukan permainan. “Yang paling sulit ya booking tempatnya. Karena ada 10 Pos, jadi 3 gedung kita booking (Gedung DAAI, Aula Jing si, Gedung Gan En). Kita lalu diskusi untuk perlengkapanya juga sampai detail cara bermainnya,” tutur Jusui, PIC sesi permainan.

Satu hari menjelang hari H, Sabtu 4 November 2017, sebanyak 30 relawan bergotong royong mengangkat meja, kursi, dan perlengkapan lainnya untuk diletakkan di lokasi acara. Hingga pukul 22.00, 85% lokasi sudah tersusun, relawan melanjutkan sisanya di hari minggu pagi.

“Saya dan relawan pendidikan lainnya berharap keluarga juga bisa ikut terlibat di dalam kegiatan. Sehingga mereka bisa paham, apa sih kegiatan anak-anak selama belajar di sini? Jadi melalui kegiatan ini, kami berharap semua orang tua ikut terlibat, bermain bersama anak,” tutur Jusui.

doc tzu chi

Relawan berkumpul di hari Sabtu, 4 November 2017, untuk mempersiapkan perlengkapan di hari Minggu, 5 November 2017.

doc tzu chi

Jusui, PIC sesi permainan memberikan petunjuk permainan kepada para tamu undangan.

Membangun Komunikasi dalam Keluarga

Acara Penutupan Kelas Budi Pekerti juga diramaikan oleh beberapa pasang orang tua dan anak beserta anggota keluarganya yang hadir dan bermain bersama. Salah satunya adalah keluarga Soetejo Hidayat. Ia beserta istri dan kedua anaknya ikut bermain bersama dalam kegiatan. Mereka merasa kegiatan kali itu sangat seru dan dapat membangkitkan semangat serta kekompakan dalam keluarga mereka.

Soetejo pun memanfaatkan kegiatan itu untuk membangun komunikasi dalam keluarganya. Ia biasanya tidak memiliki banyak waktu untuk bermain bersama kedua anaknya dikarenakan urusan pekerjaannya dalam bidang keuangan. Ketika bermain, mereka sekeluarga merasa sangat antusias dan tidak menemukan kesulitan apapun dikarenakan kekompakan dalam keluarga mereka yang telah ada. Mereka hanya merasa kesulitan saat mencari pos-pos tempat diadakannya permainan. “So far so good,” ungkap Soetejo.

Selama kedua anaknya berkegiatan di Tzu Chi, Soetejo dan istrinya merasakan perbedaan dalam diri kedua buah hatinya, yakni menjadi lebih sabar, berbakti, dan dapat melakukan hal yang benar dengan alasan yang masuk akal. Selain itu mereka juga dapat mempelajari hal-hal yang tidak diajari di luar, seperti saat permainan yang ada di tempat gelap mereka dapat merasakan bagaimana rasanya menjadi orang buta, dan oleh karena itu mereka bersyukur diberi anggota tubuh yang sehat dan lengkap.

Kedua anak Soetejo terkadang tidak banyak berinteraksi dengan sang ayah dikarenakan kesibukan akan pekerjaan. Oleh sebab itu, mereka merasa sangat senang karena kali ini mereka dapat bermain bersama ayahnya.

Buah hatinya pun merasa terkesan akan permainan yang melibatkan gelas-gelas. Dari permainan ini, ia dapat merasakan kekompakan dan dapat belajar untuk bersabar.

doc tzu chi

Soetejo (kanan) memanfaatkan kegiatan kali itu untuk membangun komunikasi dalam keluarganya.

doc tzu chi

Linda Budiman merasa senang mendapat kesempatan untuk bersama Andrew, putranya, memandu acara hari itu.

Mempererat Hubungan Antara Ibu dan Anak

Linda Budiman, MC di kegiatan kali itu merasa sangat bahagia karena bisa memandu acara bersama sang buah hati, Andrew. Bersama Andrew, Linda mempelajari rundown bersama, berbagi tugas, merangkum, hingga memandu jalannya acara di panggung, semua itu dirasa dapat mempererat hubungan antara ibu dan anak ini.

Linda mulai menjadi MC saat kelas Er Tong Ban sedang kekurangan MC. Waktu itu ia bersedia membantu dan akhirnya mulai terbiasa menjadi MC sampai sekarang. Sementara Andew menjadi MC ketika orang-orang melihat bakat yang dimilikinya dalam berbicara, juga pengetahuan serta pemahamannya akan Kelas Budi Pekerti yang telah ia hadiri sejak angkatan pertama. Ia pun dengan senang hati memandu acara.

Kesempatan ini merupakan kali kedua pasangan ibu-anak itu menjadi MC bersama. Kali pertama adalah pada saat Hari Ibu, dan kebetulan memang MC-nya harus mempunyai hubungan keluarga. Jadilah Linda dan Andrew terpilih untuk memandu acara. Saat itu Andrew masih duduk di bangku Sekolah Dasar.

Memandu acara di Penutupan Kelas Budi Pekerti itu juga dirasakan berbeda oleh Linda. Jika memandu anak-anak di kelas, ia bisa lebih santai. Tapi pada acara itu ia harus menjaga keseimbangan antara gaya santai dan formal di hadapan anak-anak dan para orang tua.

Perbedaan ketika MC dengan anak, rekan kerja, maupun sendiri juga sangat terasa bagi Linda. Ia merasa MC sendiri lebih mudah dibanding MC berdua, karena ia dapat menguasai sendiri apa yang akan dikatakan olehnya. Jika berdua, ia harus membangun hubungan dengan pasangannya dan berbagi tugas dalam berbicara.

Baginya, pengalaman yang paling berkesan selama menjadi MC adalah ketika perayaan Waisak di Padang pada tahun 2015. Acara diadakan di luar ruangan pada saat sore hari, dan ketika itu cuaca mendung dengan hujan rintik-rintik. Ia mengatakan bahwa penonton saat itu sangat luar biasa. Mereka tidak meninggalkan tempat saat hujan turun semakin deras. Meskipun demikian, Linda merasa sangat khawatir akan skripnya yang terguyur air hujan. Beruntung, hujan tetap turun secara rintik-rintik sampai acara selesai. Ketika acara selesai, barulah seketika hujan turun dengan deras. “Mungkin berkat doa yang kuat juga ya,” tutupnya.

Editor: Metta Wulandari

Minggu, 5 November 2017, para orang tua murid Kelas Budi Pekerti datang bersama putra-putrinya. Di Penutupan Kelas Budi Pekerti Tahun 2017 ini mereka merajut interaksi dan mempererat hubungan.

Artikel dibaca sebanyak : 384 kali


Berita Terkait


Belajar Mencintai Lingkungan

05 Oktober 2017

Kesan Tak Terlupakan di Kamp Kelas Budi Pekerti Tzu Shao

17 April 2017

Wujudkan Dunia yang Damai Lewat Kelas Budi Pekerti

11 April 2017

Mendidik Anak-anak Kelas Budi Pekerti dengan Penuh Kasih

05 April 2017

Belajar Budi Pekerti Melalui Seni

07 Maret 2017


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Security Code
Orang yang mau mengaku salah dan memperbaikinya dengan rendah hati, akan mampu meningkatkan kebijaksanaannya.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat