Minggu, 27 Mei 2018
Indonesia | English

Perjuangan Panjang Memperoleh Kesehatan

12 Februari 2018 Jurnalis : Metta Wulandari
Fotografer : Metta Wulandari, Dok. Pribadi

doc tzu chi indonesia

Hari kedua baksos kesehatan umum di RSUD Kab. Kepulauan Mentawai, Kamis, 8 Februari 2018, ada 628 pasien hadir dan kembali dilayani oleh relawan Tzu Chi serta dokter yang tergabung dalam TIMA Indonesia juga dokter dari RSUD.

Belum genap jam delapan pagi, Ediwan (64) mengajak istrinya Ernizal (62), dan anaknya Armaisasni (35) untuk memeriksakan kondisi kesehatan mereka dalam baksos kesehatan yang diadakan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Kepulauan Mentawai. Rumahnya ada di kilometer nol dan berjarak 9 kilometer dari RSUD. “Rumah saya di dekat Pelabuhan Tuapejat,” begitu kata kakek delapan cucu ini.

Kedatangan Ediwan ke halaman RSUD itu begitu mencuri perhatian karena suara becak motornya terdengar kencang memekakkan telinga. Di dek bagian samping becak motornya itu ada istrinya yang terduduk lemas, sedangkan anaknya membonceng di belakang. “Tolong dibantu, Pak ini, tolong, Pak,” ucapnya memanggil relawan Tzu Chi yang ada di pinggir meja pendaftaran.

Dua setengah tahun lalu, Ernizal terserang darah tinggi dan penyakit jantung. Ia dilarikan ke RSUD Kab. Kepulauan Mentawai dan kemudian mendapatkan perawatan intensif. Usai dirawat, keadaannya hanya sedikit membaik. “Sekarang seperti orang lumpuh. Kakinya lemas, tangan juga. Sudah tidak bisa digerak-gerakkan,” tutur Armaisasni.

Relawan yang sigap kemudian menyiapkan kursi roda untuk membantu pemeriksaan Ernizal. Beberapa orang juga membantu menurunkannya dari becak ke kursi roda.

doc tzu chi indonesia

Kedatangan Ediwan ke halaman RSUD itu begitu mencuri perhatian karena suara becak motornya terdengar kencang memekakkan telinga.

doc tzu chi indonesia

Relawan yang sigap kemudian menyiapkan kursi roda untuk membantu pemeriksaan Ernizal. Beberapa orang juga membantu menurunkannya dari becak ke kursi roda.

Sudah lama sejak pulang dari perawatan terakhirnya di Padang tahun lalu, Ernizal absen dari pemeriksaan medis. Ia seakan sudah lelah karena penyakitnya tak kunjung sembuh. “Pertama yang harus dilakukan ini mengurangi berat badannya dulu, Bu,” kata Dokter Linda Gunawan, anggota TIMA yang memeriksanya. Dokter menjelaskan bahwa bobot tubuh Erni yang melampaui batas normal membuat kondisi kesehatannya seakan tidak bisa membaik. “Memang tidak bisa sembuh secara instan, makanya harus dikendalikan pelan-pelan,” imbuhnya.

Ediwan sendiri bercerita bahwa usahanya untuk menyembuhkan istrinya sudah maksimal. Semua cara, semua informasi, ia lakukan. Tukang becak motor di Pelabuhan Tuapejat itu bahkan pernah membawa istrinya mengelilingi Padang untuk berobat. Ia membawa serta becak motornya ke Padang dengan kapal feri yang per bulan hanya empat kali beroperasi dari Pulau Sipora, Mentawai ke Padang. “Kalau sekadar kapal cepat, ada jadwal lainnya. Tapi kalau pakai (kapal) feri, saya bisa bawa becak dan sampai di Padang nggak perlu sewa transpor lagi,” kata Ediwan.

Dengan kapal feri, Ediwan juga mendapatkan keringanan biaya tiket perorangan karena dirinya kerap membantu bongkar muat barang di kapal dan di pelabuhan. Hanya saja, ia masih harus membayar tiket untuk becaknya seharga 380 ribu rupiah sekali jalan. Perjuangan untuk menyembuhkan istrinya juga sudah sampai ke Pariaman, Batusangkar, Lintau, yang semuanya harus mereka tempuh dengan perjalanan laut, baru kemudian dilanjutkan dengan perjalanan darat. “Memang biaya berobat ada bantuan dari BPJS, tapi biaya transportasi tidak kalah mahal. Apalagi kalau saya tidak bisa membawa becak, kami harus sewa mobil yang harganya 250 ribu per harinya. Sementara penghasilan sehari-hari tidak pernah menentu,” lanjutnya.

doc tzu chi indonesia

Dokter Linda Gunawan, anggota TIMA yang memeriksa kondisi Ernizal yang datang ditemani oleh anggota keluarganya.

doc tzu chi indonesia

Dokter Yulinda (depan – tengah) berfoto bersama anggota TIMA dan relawan Tzu Chi saat tiba di Bengkulu tahun 2007 lalu. Ia membuka foto lama untuk mengingat masa-masa awalnya bergabung dengan TIMA Indonesia.

Ediwan tahu istrinya tidak akan sembuh secara instan melalui obat dokter, namun melalui baksos kesehatan umum ini rasa khawatir dan sedihnya sedikit berkurang. “Terima kasih karena sudah membantu kami, warga Mentawai,” katanya. “Kami senang karena setidaknya nyeri yang kami rasakan bisa berkurang,” imbuh Ediwan sambil kembali mendorong kursi roda istrinya. Ia pun lega karena bisa mendapatkan obat untuk mengurangi nyeri karena asam urat yang dideritanya.

Hari kedua baksos kesehatan umum di RSUD Kab. Kepulauan Mentawai, Kamis, 8 Februari 2018, itu diikuti oleh 628 pasien. Mereka kembali dilayani oleh relawan Tzu Chi serta dokter yang tergabung dalam TIMA Indonesia juga dokter dari RSUD Kab. Kepulauan Mentawai.

Bertemu Sahabat Lama

Perasaan lega yang dirasakan Ediwan juga dirasakan oleh Dokter Yulinda, bukan karena bisa turut berobat namun dokter umum di RSUD Kab. Kepulauan Mentawai itu lega karena teman-temannya di Tzu Chi International Medical Association (TIMA) Indonesia masih mengenalinya. “Sebelumnya deg deg-an dan kepikiran kira-kira masih ada yang kenal atau nggak?” kata dokter Linda, panggilan akrabnya. “Ternyata pas ketemu, dr. Ryan dan Zr. Weni mereka masih ingat. Saya senang sekali,” imbuhnya.

doc tzu chi indonesia

Selama baksos berlangsung, dokter Yulinda kerap ikut melayani pasien walaupun tidak bertugas secara penuh dalam baksos kesehatan.

Sejak bergabung di Rumah Sakit Khusus Bedah Tzu Chi Cengkareng (sekarang berubah nama menjadi Rumah Sakit Cinta Kasih Tzu Chi), sekitar tahun 2007 lalu dokter Linda langsung turut menjadi bagian dari TIMA. Ia juga langsung aktif ikut dalam baksos-baksos kesehatan yang kerap diadakan Tzu Chi di luar kota. “Waktu itu bulan Mei sepertinya, tahun 2007, saya baru masuk dan langsung ikut ke Kalimantan Timur untuk baksos. Saat itu belum pakai seragam TIMA, karena masih baru,” cerita ibu dua anak ini.

Sembilan tahun lalu, ia memutuskan untuk merantau ke Mentawai. Sebelumnya ia juga sempat bekerja di sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di sana dan menjadi dokter Pegawai Tidak Tetap (PTT). “Lalu saya akhirnya menjadi PNS di sini dan mengabdi di sini juga,” katanya senang.

Selama baksos kesehatan berlangsung, dokter asal Jakarta ini kerap ikut melayani pasien walaupun tidak bertugas secara penuh dalam baksos. Ia mengaku senang bisa bertemu kembali dengan insan Tzu Chi. Walaupun hanya bergabung di RSKB Cinta Kasih selama 9-10 bulan saja, namun banyak nilai-nilai positif yang ia peroleh dari sana. “Baksos Tzu Chi itu ciri-cirinya bersih, rapi, dan teratur. Makanya saya selalu senang,” ungkap dokter Linda.

Linda pun mengaku rindu bisa pergi menolong berbagai lapisan masyarakat di berbagai wilayah di Indonesia lainnya. Namun, kini ia sebisa mungkin memberikan kemampuannya untuk menolong warga sekitar Mentawai yang telah menjadi rumah kedua baginya.

Editor: Hadi Pranoto

1.       Kedatangan Ediwan ke halaman RSUD itu begitu mencuri perhatian karena suara becak motornya terdengar kencang memekakkan telinga.

Artikel dibaca sebanyak : 361 kali


Berita Terkait


Mengembangkan Layar Cinta Kasih ke Tebing Tinggi Okura

29 Maret 2018

Bantuan Untuk Warga Mekar Jaya, Kabupaten Lampung Timur

21 Maret 2018

Putus Asa Bukanlah Sebuah Pilihan

12 Maret 2018

Antusias Menyukseskan Bakti Sosial Pengobatan Katarak

11 Januari 2018

Baksos Kesehatan untuk Warga Gasing, Banyuasin

18 Desember 2017


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Jika menjalani kehidupan dengan penuh welas asih, maka hasil pelatihan diri akan segera berbuah dengan sendirinya.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat