Minggu, 22 Juli 2018
Indonesia | English

Rumah Nyaman yang Bukan Hanya Sekadar Mimpi

13 April 2018 Jurnalis : Metta Wulandari
Fotografer : Metta Wulandari


Mariati menyambut relawan Tzu Chi di depan rumahnya Kamis, 12 April 2018. Saat relawan Tzu Chi datang kemarin, proses renovasi rumah Mariati sudah dalam tahap finishing.

Wajah Mariati sangat cerah, hatinya pun bungah. Ia membawa saya masuk ke dalam rumah dan menunjukkan setiap sudutnya yang masih wangi cat baru. “Ini dulunya bocor mbak, sampai sudah disangga pakai kayu. Sekarang sudah bagus kan,” kata wanita 60 tahun itu mengawali “tur” di bagian depan rumahnya. “Di dalam sini juga dulu bocor banyak sekali. Hidup nggak tenang lah,” lanjutnya menuntun saya.

Dulu ketika hujan, kenang Mariati, sebagian besar rumah itu sudah seperti tidak beratap karena kebanyakan bocor dan atapnya bobrok. Di bagian dalam rumah bocor, di bagian depan pun sama. Kalau sudah begitu ia hanya bisa duduk diam di satu sudut yang menurutnya aman. “Takut ambruk, mbak,” begitu ucapnya. Karena kebanyakan berpikir dan akhirnya stress, Mariati sempat lima hari dirawat di rumah sakit. “Dokter bilang jangan kebanyakan pikiran. Tapi gimana bisa tidak mikir kalau kondisi rumah sudah sangat memprihatinkan,” imbuhnya tertawa.


Mariati memerlihatkan kondisi rumah pasca-renovasi. Dulu atap rumahnya bocor dimana-mana membuat kondisi rumah sangat memprihatinkan. Kini rumahnya sudah jauh berbeda.

Setelah tiga minggu menunggu, ungkapan syukur kini seakan tidak ada habisnya ia ucapkan. Walaupun kondisi dalam rumah Mariati di Komplek Kopassus Kedayu, Sukatani, Cimanggis, Depok, Jawa Barat belum rapi betul dan barang-barang masih bertumpuk di sana sini, tapi kebahagiaan ibu dua anak itu sungguh tidak bisa disembunyikan. Saat relawan Tzu Chi datang kemarin, Kamis, 12 April 2018, proses renovasi rumah Mariati sudah dalam tahap finishing. Sedikit lagi akan rampung dan siap huni. Beberapa hari ini ia juga sudah bisa tidur dengan tenang di rumahnya. “Haduuhh…, tidur saya sudah enak dan nyaman sekali,” tuturnya yang mengaku sudah tidak takut akan hujan.

Relawan turut senang mendengar cerita dan melihat Mariati bisa tersenyum dengan lega. “Nanti saya ingin cerita ke (Alm) bapak kalau sudah ada yayasan yang baik hati yang membantu merenovasi rumah,” kata Mariati. Memang dalam waktu dekat ini, ia berniat untuk melakukan ziarah ke makam suaminya, almarhum Pelda (Pembantu Letnan Dua) Ento Hartono. “Kalau sekarang, saya cuma bisa memandang foto bapak, sambil ngobrol dalam hati sama beliau,” tambahnya sambil tersenyum haru mengingat sang suami yang meninggal pada 2001 lalu.


Kondisi rumah Mariati sesudah direnovasi. Mariati sangat bersyukur karena ia bisa menikmati masa tuanya dengan lebih nyaman di rumah yang aman.

Baca Juga: http://www.tzuchi.or.id/read-berita/renovasi-rumah-istri-pejuang/7277

Sudah 30 tahun lebih Mariati tinggal di rumah ini bersama almarhum suami dan kedua anaknya: Lukman Hariadi dan Hardianto. Dalam perjalanannya, rumah tersebut mengalami kerusakan di sana sini. Keluarga mereka bukannya hanya pasrah melihat kondisi rumah. Beberapa upaya perbaikan sudah dilakukan, namun kemampuan mereka terbatas. Setelah ditinggal suami, ia memerbaiki kondisi rumah dengan tambal sulam dan hal tersebut malah memperparah kondisi atap.

Kini, Mariati bersyukur negara tidak melupakan jasa-jasa suaminya. Melalui program renovasi rumah yang digagas oleh Kopassus dan didukung Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia rasa gundah dan khawatir Mariati di usia senjanya kini bisa sedikit terobati karena sejak pertengahan Maret 2018 lalu, rumahnya sudah mulai dibongkar dan hampir rampung pengerjaannya. “Semoga nanti Tzu Chi bisa membantu lebih banyak orang lagi,” doa Mariati.


Peltu (Purn) Solikin (kiri) bebincang bersama relawan Tzu Chi serta Mayor Infantri Bayu Aristandi (kedua dari kanan). Sama seperti Mariati, ia pun bersyukur karena tak perlu mengkhawatirkan kondisi rumahnya lagi.


Atap rumah Peltu (Purn) Solikin kini sudah tak perlu ditutup dengan terpal lagi karena sudah dipasangi genting. Sebelumnya kondisi atap ini sudah sangat memprihatinkan.

Selain Mariati, di Komplek Kopassus Kedayu, Cimanggis, Depok, Jawa Barat ada juga Peltu (Purn) Solikin yang sumringah. Dirinya menyambut kedatangan relawan dengan langsung memerlihatkan atap rumah yang juga sudah rapi. Atapnya tak perlu ditutup dengan terpal lagi karena sudah dipasangi genting. Plafon rumah juga sudah diganti dengan yang baru. “Saya sangat bersyukur sekali atas bantuan ini,” ucapnya. Ia bertekad untuk merawat rumah tersebut dengan sebaik mungkin.

Mayor Infantri Bayu Aristandi, Pabandya Komsos Ster Mako Kopassus, yang mewakili pihak Kopassus pun turut bergembira dan bersyukur. Ia berharap kerja sama antara Tzu Chi dan Kopassus dapat terus terjalin. “Saya berdoa semoga rumah yang sudah jadi dapat dipelihara dan dapat dirawat dengan baik. Sehingga membuat keluarga bisa nyaman dan bisa menjadi berkah bagi keluarga masing-masing,” ucap Mayor Bayu.

Baca Juga: http://www.tzuchi.or.id/read-berita/menyejahterakan-kehidupan-purnawirawan/7304

Editor: Arimami Suryo A.

Artikel dibaca sebanyak : 362 kali


Berita Terkait


Pembangunan Rumah Impian

30 Agustus 2016

Pekan Amal Tzu Chi 2015 : Bazar untuk Pembangunan Rumah Sakit

31 Oktober 2015

Bazar Amal Tzu Chi: Menggalang Dana Pembangunan Rumah Sakit Tzu Chi

27 Oktober 2014

Perkembangan Pembangunan rumah Cinta Kasih di Desa Panteriek, Banda aceh

05 November 2005


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Dengan keyakinan, keuletan, dan keberanian, tidak ada yang tidak berhasil dilakukan di dunia ini.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat