Selasa, 10 Desember 2019
Indonesia | English

Semangat Membangun Rumah Ibadah Pascagempa Lombok

17 Juni 2019 Jurnalis : Khusnul Khotimah
Fotografer : Khusnul Khotimah


Peletakan batu pertama pembangunan Vihara Suta Dhamma menjadi hari bersejarah serta hari yang yang sangat membahagiakan bagi warga Dusun Lenek, juga bagi Bhikku Bhadrapradipa.

Matahari masih malu-malu muncul dari peraduan. Namun warga Dusun Lenek di Lombok Utara sudah bergotong-royong untuk hari istimewa yang telah mereka nanti, peletakan batu pertama pembangunan vihara mereka, Vihara Suta Damma, Jumat 14 Juni 2019.

Vihara Suta Dhamma yang dibangun pada tahun 1986 memiliki peran penting bagi terciptanya keharmonisan masyarakat di Lenek. Di Lenek mayoritas warga beragama Buddha, namun keharmonisan dengan umat Muslim dan Hindu sangatlah kental.

Vihara Suta Damma sebelumnya runtuh akibat gempa yang melanda Lombok pada Juli - Agustus 2018. Pada 20 Maret 2019, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia dan Pemerintah Kabupaten Lombok Utara menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) untuk membangun satu sekolah dan lima tempat ibadah, salah satunya Vihara Suta Dhamma.

Suasana peletakan batu pertama pembangunan Vihara Suta Damma berjalan dengan khidmat dan penuh harapan. Bupati Lombok Utara, Najmul Akhyar mengucapkan terima kasih kepada Tzu Chi Indonesia yang sangat aktif berupaya merealisasikan pembangunan kembali rumah ibadah pascagempa Lombok.

“Saya sangat terharu ketika datang ke suatu tempat, saya ajak masyarakat berkumpul. Waktu itu hujan deras, air sudah masuk ke hunian sementara mereka. Saya bertanya bapak-ibu sekalian, apa yang menurut bapak ibu prioritas yang harus saya lakukan sebagai bupati? Bayangan saya mereka akan menyebut ‘rumah kami’, ternyata hampir seluruhnya mengatakan perbaiki dulu tempat ibadah kami,” katanya.

Bagi Bupati Lombok Utara, inilah karakter positif dari masyarakat Lombok Utara bahwa dalam kondisi membutuhkan rumah sekalipun warga mengutamakan tempat ibadah. Saat ini, untuk beribadah umat Vihara Suta Damma yang berjumlah 165 keluarga atau sekitar 600 jiwa ini menggunakan bangunan gedung serba guna sementara.


Atas nama pimpinan daerah, Bupati Lombok Utara, Najmul Akhyar mengucapkan apresiasi kepada Yayasan Buddha Tzu Chi dan semua pihak yang mendukung berdirinya kembali Vihara Suta Dhamma.

 


Bhikkhu Bhadrapradipa (paling kanan) mempersilahkan Hong Tjhin, relawan Tzu Chi (paling kiri) untuk turut meletakkan batu pertama.

Tidak hanya saat ini saja Vihara Suta Damma diguncang gempa. Vihara mengalami dua kali renovasi akibat gempa pada tahun 2005 dan 2014. Sekarang ini pembangunan vihara dimulai dari nol lagi akibat gempa pada 5 Agustus 2018 yang lalu.

Adapun Vihara yang akan dibangun ini, kata Ketua Vihara Suta Dhamma, Endi Puspandi berukuran 15 x 25 meter untuk bangunan induk, ditambah selasar kiri kanan dua meter, dan joglo 5 meter.

“Kami tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada Yayasan Buddha Tzu Chi, yang membantu kami membangun Vihara Suta Damma Lenek ini. Semoga amal ibadah yang dilakukan ini memperoleh imbalan berkah kesehatan, kesejahteraan, umur panjang, dan kesuksesan,” ujarnya.

Bhikkhu Bhadrapradipa, Sekretaris Wilayah Sangha Agung Indonesia Nusa Tenggara Barat (NTB) berpesan kepada umat vihara untuk bergotong royong membantu pembangunan vihara. Dan jika pembangunannya selesai, agar senantiasa dirawat, dan dijaga kebersihannya.


Para tokoh agama serta stakeholder yang hadir secara bergantian meletakkan batu pertama Vihara Suta Dhamma.

“Jangan sampai selesai dibangun, megah, bagus, tetapi tidak dirawat dengan baik. Jadi dana dari para donatur seakan-akan tidak bermanfaat. Kita jaga, rawat, dan manfaatkan sebaik-baiknya,” pesannya.  

Hong Tjhin, relawan Tzu Chi Indonesia turut merasakan kebahagiaan yang tampak dari wajah para tokoh agama dan masyarakat Lenek atas mulai dibangunnya vihara ini.

“Kami berharap pembangunan sarana ibadah yang dibangun ini dapat memberikan ketenangan raga, ketenangan batin, dan memulihkan kehidupan masyarakat,” tutur Hong Tjhin yang juga CEO DAAI TV Indonesia ini.

Hong Tjhin juga dapat merasakan keindahan nilai-nilai gotong-royong yang kental di Dusun Lenek ini. Menurutnya, kegotongroyongan dan  kebersamaan kiranya harus selalu dipertahankan bahkan diperluas supaya resilience atau ketahanan terhadap bencana dapat lebih ditingkatkan mengingat Lenek telah mengalami beberapa kali gempa.

“Jadi bagaimana mempersiapkan supaya dampak-dampak bencana itu lebih ter-mitigasi dan ke depan bisa membantu komunitas sekitar sini,” tuturnya. (Mitigasi adalah upaya untuk mengurangi korban dan kerugian akibat bencana dengan cara persiapan sebelum bencana – red)


Muda-mudi Vihara Suta Dhamma menyanyikan lagu Satu Keluarga.


Peletakan batu pertama Suta Dhamma berlangsung khidmat dan penuh harapan. 

Masjid Pun dalam Proses Pembangunan

Sementara itu, dua tempat ibadah lainnya yang lebih dulu dilakukan peletakan batu pertama dan kini dalam proses pembangunan adalah Masjid Al-Hakim dan Masjid Tarbiatul Quro. Masjid Al-Hakim berada di Dusun Karang Jurang Kecamatan Gangga. Sementara Masjid Tarbiatul Qura, di Dusun Orong Kopang, Kecamatan Tanjung, Lombok Utara.

Kesedihan sempat melanda para pengurus dan jamaah Masjid Al-Hakim karena rusaknya bangunan masjid. Apalagi masjid adalah pusat kegiatan keagamaan dan juga tempat warga bermusyawarah. Orang Lombok bilang tidak punya masjid seperti tidak punya kampung.

Hingga kabar gembira pun datang bahwa Tzu Chi Indonesia akan membantu pembangunan kembali Masjid Al-Hakim. Masjid Al-Hakim yang sedang dibangun ini luasnya 18 x 16 meter persegi dan ditargetkan rampung lima bulan ke depan.

Alhamdulillah kami bersyukur, kami berterima kasih. Bahagianya luar biasa. Kalau tidak ada ini mungkin kami butuh waktu berpuluh tahun lagi. Mungkin kami masih berangan-angan,” kata Abdul Manan (59), kepala pengurus masjid. 


Masjid Al-Hakim yang sedang dalam proses pembangunan. Saat gempa terjadi pada Agustus 2018 lalu, sebenarnya Masjid Al-Hakim juga dalam proses pembangunan, yang mencapai 75 persen dan telah dibangun sejak lima tahun yang lalu.  

Sementara Masjid Tarbiatul Quro, di Dusun Orong Kopang, Desa Medana, Kecamatan Tanjung, saat artikel ini ditulis, baru dibangun sekitar 15 hari. Pembangunan sempat terkendala terbatasnya tukang bangunan dan juga bertepatan dengan bulan Ramadan (puasa). Para pengurus Masjid Tarbiatul Quro menargetkan, pembangunan masjid akan selesai pada Agustus mendatang.

Awalnya, peletakan batu pertama masjid ini dilakukan pada tahun 2012. Ketika tiang-tiangnya sudah berdiri, diguncang oleh gempa pada tahun 2013 sehingga sempat vakum satu tahun. Pada tahun 2014, mulai dibangun kembali sedikit demi sedikit hingga pada tahun 2016 masjid akhirnya bisa digunakan. Sebagaimana Masjid Al-Hakim, Masjid Tarbiatul Quro juga punya fungsi yang sangat penting dan sangat sentral bagi warga.

“Memang kalau di kami ini, haruslah kami punya masjid karena segala kegiatan itu dari sana. Alhamdulillah setelah ada donatur yang pasti (Tzu Chi), kami merasa lega. Apalagi sekarang ini tiang-tiang pancang sudah ada. Kami sangat lega, masyarakat juga sudah tidak terlalu sedih memikirkan ini,” kata Lukman, Ketua Panitia pembangunan Masjid Tarbiatul Quro.


Masjid Tarbiatul Quro juga mulai dibangun. Lukman, Ketua Panitia pembangunan Masjid Tarbiatul Quro menjelaskan sejak dipastikan masjid bakal dibangun oleh Tzu Chi warga pun merasa lega karena sudah ada kepastian. 

Semangat percepatan pembangunan rumah-rumah ibadah di Lombok Utara diakui sangat tinggi oleh Bupati Najmul Akhyar.

“Saya sangat bersyukur hampir tiap minggu bahkan dua kali dan kadang tiga kali seminggu itu kami mendapatkan undangan untuk peresmian atau peletakan batu pertama rumah ibadah baik itu masjid, pura, juga vihara. Ini artinya bahwa semangat kita untuk membangun rumah ibadah sangat tinggi,” katanya.

Karena itu ia pun sangat bersyukur dengan dukungan dari Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia yang mendukung semangat masyarakat Lombok Utara.

“Saudara-saudara kita di Yayasan Buddha Tzu Chi memberikan contoh-contoh baik kepada kita bahwa ketika bicara soal kemanusiaan, maka tidak ada lagi sekat-sekat keyakinan. Tak ada lagi sekat-sekat agama, karena kemanusiaan ini memiliki nilai-nilai universal,” katanya.


Editor: Hadi Pranoto

Artikel dibaca sebanyak : 530 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Giat menanam kebajikan akan menghapus malapetaka. Menyucikan hati sendiri akan mendatangkan keselamatan dan kesejahteraan.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat