Jumat, 22 November 2019
Indonesia | English

Senyum Itu Hadir Kembali

03 Maret 2010 Jurnalis : Wie Sioeng (He Qi Timur)
Fotografer : Neysa (He Qi Timur)

 

 

fotoRelawan Tzu Chi mengunjungi keluarga Bapak Ujang, salah satu keluarga penerima bantuan bedah rumah yang dilakukan oleh Tzu Chi di kawasan perkampungan padat di pinggiran Perumahan Kelapa Gading, Jakarta Utara.

“Ekspresi wajah seseorang merupakan cerminan dari kondisi batinnya.“ (Master Cheng Yen)

Sore itu, matahari bersinar dengan teriknya, mengiringi langkah kami— relawan Tzu Chi – menyusuri lorong-lorong perkampungan padat. Tak lama kemudian, kami pun tiba di rumah Pak Ujang, salah satu penerima bantuan program “Bebenah Kampoeng” Tzu Chi. “Selamat sore…," kata kami memberi salam. "Silakan…, silakan masuk!" sambut Pak Ujang kepada kami. "Rin… , Rin…, ke sini cepat, ada Bapak dan Ibu-Ibu Tzu Chi datang,” kata Pak Ujang sembari memanggil putrinya, Rindu (bukan nama sebenarnya).

Kegelisahan dan Kepasrahan Hidup
Keluarga Bapak Ujang adalah salah satu keluarga penerima bantuan bedah rumah dalam program “Bebenah Kampoeng” yang dilakukan oleh Yayasan Buddha Tzu Chi  Indonesia di kawasan perkampungan padat di pinggiran Perumahan Kelapa Gading, Jakarta Utara. Bapak Ujang  dan istrinya hanya mempunyai seorang putri, yaitu Rindu. Mereka tinggal di rumah warisan orangtua Pak Ujang yang dibagi dua dengan keluarga istri almarhum kakaknya. Bagian rumah yang ditempati keluarga Pak Ujang kondisinya sebelum dibedah sudah rapuh sekali, membuat ia selalu merasa gelisah dan khawatir jika sewaktu-waktu rumahnya roboh. Tetapi apa daya, Pak Ujang tak memiliki cukup uang untuk memperbaikinya. Alhasil, ia pun hanya bisa pasrah dengan keadaan tersebut.

Kondisi ekonomi yang tidak baik — pada saat itu Pak Ujang sedang menganggur karena terkena PHK – dan hanya istrinya saja yang bekerja sebagai  pembantu rumah tangga dan menjahit. Jangankan untuk memperbaiki rumah, untuk memenuhi kebutuhan keluarga saja sulit. Sebelumnya Pak Ujang pernah bekerja di salah satu perusahaan cat sebagai seorang binder (menjilid dan mengarsipkan dokumentasi administrasi perusahaan) dan menjadi seorang satpam. Setelah  beberapa kali  mencoba  bekerja dan selalu dibohongi akhirnya ia menjadi takut  untuk mencoba bekerja kembali. Lalu Pak Ujang  memutuskan untuk berdiam diri saja, dan sejak itu keributan-keributan dalam rumah tangga dengan istrinya kerap terjadi.

Masalah pembagian warisan rumah ini juga pemicu kurang harmonisnya hubungan Pak Ujang dengan kakak iparnya. Dimana saat itu rumah yang didapat pak Ujang lebih luas dibanding kakaknya, tapi ketika Yayasan Buddha Tzu Chi membantu membangun rumah mereka dan memberi usul agar dibagi menjadi 2 bagian yang sama, mereka pun setuju.

foto  foto

Ket : - Para anggota Tzu Ching tengah menghibur Rindu (15), putri Pak Ujang. (kiri)
       - Rindu merasa terharu dengan perhatian dari relawan Tzu Chi dan anggota Tzu Ching yang begitu             memperdulikan ia dan keluarganya. (kanan)

Perhatian dari Para Relawan Membangkitkan Semangat Hidup
Setelah seringnya kunjungan mulai dari tahap survei hingga selesainya bedah rumah oleh para relawan kepada keluarga Pak Ujang, mereka menjadi lebih akrab dan terbuka kepada kami. Kurang harmonisnya hubungan Pak Ujang dengan kakak iparnya ternyata berimbas kepada suatu malapetaka yang terjadi kepada putri tunggalnya. Kurangnya perhatian dari keluarga terdekat dan orangtua yang sibuk bekerja menyebabkan putrinya bermain tanpa pengawasan, hingga suatu hari beberapa tahun lalu ketika mereka berdua pergi untuk bekerja, Rindu mengalami pelecehan dari seorang pria.

"Waktu itu saya mau pergi kerja, di tengah jalan saya ingat ada yang ketinggalan lalu saya pulang. Tapi sampai di rumah, saya agak curiga, kenapa pintu terkunci dan jendela juga, sedang di luar ada sepasang sandal jepit, pikiran jadi bingung. Lalu saya panggil-panggil Rindu, saya ngedor-ngedor pintu. Akhirnya pintu terbuka, saya kaget sekali," kata Pak Ujang menghentikan ceritanya. Ada rasa emosi tertahan. "Saya marah sekali. Mau saya pukul laki-laki itu, tapi ada tetangga yang mengingatkan saya akhirnya nggak jadi. Dia mengingatkan agar berhati-hati karena tidak ada bukti. Terpaksa saya pendam dan biarkan orang itu itu pergi," kata Pak Ujang. "Kami tidak berani melapor, karena (menurut) kami tidak akan menang. (Kami) orang kecil dan juga tidak bukti, " sambung Pak Ujang pasrah.

Peristiwa ini ternyata meninggalkan trauma pada Rindu (15) dan ia pun menjadi anak yang pendiam dan pemurung, serta selalu menghindar bila bertemu orang lain, terutama pria.  Begitu pula terhadap kami pada awal-awalnya. Peristiwa ini juga mengakibatkan menurunnya prestasi belajar Rindu di sekolah,  sehingga ia mengalami  tiga kali tinggal kelas dan membuatnya tidak dapat diterima di sekolah negeri. Untuk masuk sekolah swasta membutuhkan biaya yang tidak sedikit, dan ini cukup menyulitkan Pak Ujang dan istrinya. Tapi, pertemuan mereka dengan Tzu Chi membawa harapan baru, tidak saja rumahnya dibedah, kesulitan mereka pun dibantu.

foto  foto

Ket : - Bapak Ujang dan istrinya mempunyai seorang putri, yaitu Rindu. Mereka tinggal di rumah warisan orang             tua Pak Ujang yang dibagi dua dengan keluarga istri almarhum kakaknya. (kiri).
         - Kondisi rumah Bapak Ujang setelah direnovasi Tzu Chi. Kini keluarga Pak Ujang tak perlu khawatir lagi             jika rumah mereka akan ambruk ataupun runtuh. (kanan)

Saat ini Rindu belajar di sebuah SMP swasta dengan beasiswa dari Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia dan beberapa kali bantuan bimbingan belajar dan perhatian oleh relawan sehingga nilai-nilai pelajarannya membaik. Rindu pun kini bisa lebih terbuka terhadap beberapa relawan yang akrab dengannya. 

Awalnya banyak masukan dari beberapa tetangga yang meragukan bantuan bedah rumah yang diterimanya. “Nanti kamu disuruh pindah agama loh,” kata salah satu tetangganya.  Tetapi  sebelumnya Pak Ujang telah mendengar bahwa Yayasan Buddha Tzu Chi itu kalau membantu tidak melihat agama maupun  suku karena bersifat universal.  "Malah sekarang saya selalu diingatkan oleh relawan untuk rajin salat lima waktu, dan lebih bersyukur dalam hidup ini. Saya sangat  berterima kasih kepada Yayasan Buddha Tzu Chi, terlebih kepada para relawan atas semua bantuan dan perhatiannya," ujarnya sambil tersenyum kepada kami.

Senyum Itu Hadir Kembali di Rumah Ini
Setelah beberapa kali kunjungan dan adanya dorongan dan masukan dari relawan, sekarang keadaan keluarga Pak Ujang dengan istri dan Rindu sudah lebih baik dan mereka lebih perhatian terhadap putrinya. Selain itu hubungan dengan kakak iparnya juga lebih harmonis sehingga saat Pak Ujang dan istrinya pergi bekerja, mereka bisa menitipkan Rindu pada kakak iparnya yang bersebelahan rumah dengannya."Sekarang kalau kerja tidak was-was lagi. Kalau dulu was-was hujan, takut banjir juga rumah pada bocor, pergi kerja jadi nggak tenang", kenang Pak Ujang.

Semangat untuk mencari kerja bangkit kembali dan kini Pak Ujang bekerja lepas sebagai tukang yang kadang mendapat panggilan dari tetangga sekitar atau ikut teman bekerja memasang instalasi listrik. Hari semakin senja ketika kami mohon diri kepada Pak Ujang. "Hati-hati, ya," ucap Rindu perlahan sambil tersenyum malu-malu kepada kami.  Ketika kami mulai meninggalkan rumahnya, alangkah bahagia rasanya mendengar kata-kata itu. Ternyata sedikit perhatian mampu membuat hubungan keluarga ini menjadi lebih baik, khususnya kepada Rindu yang perlahan-lahan  dapat membangkitkan semangat dan rasa percaya dirinya.  

  
 
 

Artikel dibaca sebanyak : 1060 kali


Berita Terkait


Menanamkan Nilai-Nilai Humanis

22 November 2019

Membentuk Karakter yang Baik Dengan Pendidikan Budi Pekerti

21 November 2019

Di Balik Penampilan Drama Sutra Bakti Seorang Anak

20 November 2019

Sekolah Sehat dan Berkarakter

19 November 2019

Rumah Baru Nenek Aisyah

19 November 2019


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Keindahan kelompok bergantung pada pembinaan diri setiap individunya.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat