Senin, 26 Agustus 2019
Indonesia | English

Usia Bertambah Kebijaksanaan Bertambah

11 Juni 2019 Jurnalis : Beverly Clara (Tzu Chi Tanjung Balai Karimun)
Fotografer : Beverly Clara, Calvin, Mie Li (Tzu Chi Tanjung Balai Karimun)


Relawan Tzu Chi Tanjung Balai Karimun merayakan Ulang Tahun ke-8 keberadaan rumah insan Tzu Chi Tanjung Balai Karimun ini pada Minggu, 9 Juni 2019. 

Mentari bersembunyi di balik awan abu-abu yang tebal, tatkala hujan deras mengguyur Kota Tanjung Balai Karimun. Di sisi lain, ratusan orang dari berbagai penjuru daerah tampak berkumpul di sebuah bangunan Ruko (Rumah Toko) berwarna putih yang terletak tidak jauh dari pelabuhan. Di atas pintu besi Ruko terdapat sebuah papan yang ditutup dengan kain serta pita merah dengan simpul yang indah. Tak lama kemudian, hujan reda dan matahari pun mengintip keluar. Ratusan orang tersebut pun bersama-sama menarik kain merah yang menutupi papan. Kain merah pun perlahan-lahan turun dan memperlihatkan tulisan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia Kantor Penghubung Tanjung Balai Karimun.

Tidak terasa sudah delapan tahun semenjak peristiwa tersebut dimana para relawan Tzu Chi Tanjung Balai Karimun meresmikan kantor penghubung dan memotong tumpeng pertamanya. Tahun ini, pada tanggal 9 Juni 2019, tepat pukul 09.00 WIB, sebanyak 44 relawan berkumpul bersama untuk merayakan Ulang Tahun Kantor Penghubung Tzu Chi Tanjung Balai Karimun yang ke-8. Acara dimulai dengan kebaktian Sutra Teratai, dilanjutkan dengan meditasi sejenak, serta mendengarkan wejangan dari Master Cheng Yen yang berjudul Terjun ke Tengah Masyarakat untuk Melatih Diri.


Sebanyak 44 relawan melafalkan Sutra Teratai dengan tulus dan sepenuh hati dengan tujuan mendoakan Tzu Chi Tanjung Balai Karimun agar semakin maju dan berkembang.

Master Cheng Yen berharap setiap orang dapat membangkitkan niat baik setiap hari. Setelah membangkitkan niat baik, welas asih pun terbangkitkan. Saat pintu welas asih terbuka, cinta kasih akan tersebar luas. Meski sulit untuk menapaki Jalan Tzu Chi, tetapi Master Cheng Yen berkata bahwa insan Tzu Chi hendaklah bersikap penuh pengertian dan berlapang hati. Jika bisa bersikap penuh pengertian maka saat ada yang menegur kita, kita akan bersyukur, menghormati, dan mengasihi mereka. Kita akan mengerti bahwa mereka mengorbankan citra mereka demi mengajari kita. Itu juga merupakan Dharma bagi kita. Kita harus terjun ke tengah masyarakat untuk melatih diri agar sisi cemerlang kita terungkap. Setelah kebaktian Sutra Teratai dan mendengar wejangan Master Cheng Yen, acara pun dilanjutkan dengan pemotongan nasi tumpeng. Sebelum memotong tumpeng, para relawan pun melakukan foto bersama dan menyanyikan lagu ulang tahun untuk Tzu Chi Tanjung Balai Karimun. Seisi ruangan dihiasi dengan canda dan tawa bahagia para relawan.


Para relawan mendengarkan ceramah dari Master Cheng Yen mengenai terjun ke tengah masyarakat untuk melatih diri serta bagaimana mengendalikan emosi. 

Dari tahun ke tahun, tidak sedikit relawan yang hatinya semakin tergugah di Tzu Chi. Mereka semakin giat serta tidak menyia-nyiakan setiap kesempatan untuk datang dan bersumbangsih. Seiring bertambahnya usia Tzu Chi Tanjung Balai Karimun, usia para relawan juga ikut bertambah. Namun yang bertambah tidak hanya itu (usia), tetapi juga kebijaksanaan dan welas asih mereka.

Setiap orang, tak terkecuali relawan Tzu Chi pasti pernah melalui berbagai macam peristiwa dalam kehidupan mereka seiring berjalannya waktu. Tidak semua peristiwa yang dilalui merupakan peristiwa yang bahagia. Tentu saja di kehidupan setiap orang terdapat peristiwa yang tidak menyenangkan. Ada yang memilih untuk berdiam diri dan meratapi kesedihan, namun ada juga yang hatinya terbuka oleh peristiwa menyedihkan yang dilalui dan memilih untuk bangkit serta semakin rajin untuk mengisi hari-harinya dengan kegiatan yang bermakna untuk diri sendiri dan juga orang lain. Hal tersebut terjadi pada seorang relawan calon komite Tzu Chi bernama Siau Ing (71).


Siau Ing (71), mengemban tanggung jawab sebagai Wakil Koordinator Konsumsi di Tzu Chi Tanjung Balai Karimun. Ia menemukan ketenangan dan kebahagiaan di Tzu Chi .

Siau Ing mengenal Tzu Chi dari anaknya pada tahun 2009, dua tahun sebelum Kantor Tzu Chi Tanjung Balai Karimun diresmikan. Ia dan suaminya pun bergabung dengan keluarga Tzu Chi. Awalnya, walaupun ia bergabung dengan Tzu Chi, ia jarang mengikuti kegiatan Tzu Chi karena kesibukannya sebagai seorang ibu rumah tangga. Suatu hari, sang suami meninggal dunia karena serangan jantung, dirinya sangat terpukul saat itu. Hari-harinya dihabiskan dengan bersedih dan berdiam diri. Setiap kali ia mendengar orang mengungkit kepergian suaminya, ia akan menangis tersedu-sedu. Tetapi Siau Ing kemudian teringat akan Tzu Chi, ia pun mencoba untuk mulai mengikuti kegiatan-kegiatan Tzu Chi lagi. Awalnya, mengikuti kegiatan Tzu Chi hanyalah sebagai pelarian untuk rasa sedihnya, namun lama-kelamaan ia semakin terinspirasi, hatinya semakin terbuka, dan perlahan-lahan berhasil menerima kepergian sang suami dengan ikhlas. “Semakin sering saya datang ke Tzu Chi, saya merasa semakin bahagia,” kata Siau Ing sambil tersenyum.

Siau Ing juga sangat rajin beribadah dan melafalkan Sutra, padahal ia tidak mampu membaca dan menulis (dalam bahasan Mandarin -red). “Awalnya, ketika saya baru mengikuti kegiatan pelafalan Sutra setiap Selasa di Tzu Chi, saya hanya melafalkan nama Buddha, namun lama-kelamaan saya mulai melafalkan Sutra mengikuti suara pelafalan di video,” jelasnya.


Wati (34), berdoa dengan sangat tulus untuk kemajuan Tzu Chi, kebahagiaan semua makhluk, dan untuk kesembuhan adiknya.

Sementara Wati (34), relawan abu putih sudah 4 (empat) tahun ini aktif berkegiatan Tzu Chi di Tanjung Balai Karimun. Ketika kebaktian Sutra Teratai, selain mendoakan Tzu Chi Karimun semakin maju, ia juga mendoakan untuk kesembuhan sang adik tercinta yang mengalami kebocoran jantung. Selain menjaga kedua anak dan ikut merawat sang adik, ia juga sering meluangkan waktu untuk bersumbangsih di Tzu Chi. Salah satu alasan Wati aktif di Tzu Chi adalah ia ingin menjadi teladan yang baik bagi kedua anaknya, “Saya mau ajari anak saya kebaikan, untuk membantu orang-orang lain yang susah,” tutur Wati, “semoga  Tzu Chi Tanjung Balai Karimun semakin maju dan berkembang, semuanya makin semangat menjalani perbuatan baik.”

Di akhir kegiatan, para relawan melakukan perenungan serta membacakan ikrar bakti. Semoga segala harapan, keinginan, dan mimpi para relawan dapat segera tercapai dan Tzu Chi Tanjung Balai Karimun semakin maju seiring berjalannya waktu. Selamat Ulang Tahun.

Editor: Hadi Pranoto

Artikel dibaca sebanyak : 442 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Meski sebutir tetesan air nampak tidak berarti, lambat laun akan memenuhi tempat penampungan besar.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat