Jumat, 03 April 2020
Indonesia | English

Bersyukur dan Menjaga Kepercayaan Donatur

19 Februari 2020 Jurnalis : Augustina (Tzu Chi Medan), Fotografer : Soit, Vincent, Gunawan (Tzu Chi Medan)


Para relawan menampilkan drama tentang pemberian bantuan bagi korban kebakaran.

Untuk pertama kalinya Yayasan Buddha Tzu Chi Medan mengadakan acara Pemberkahan Awal Tahun 2020 dalam 2 sesi. Ramah Tamah Imlek  (sebutan untuk Pemberkahan Awal Tahun yang diadakan setelah Tahun Baru masyarakat etnis Tionghoa) diadakan di Tiara Convention Center Medan pada tanggal 9 Februari 2020. Tema yang diusung untuk Tahun 2020 adalah Ketulusan, kebenaran, keyakinan, dan kesungguhan laksana tanah yang subur, cinta kasih, welas asih, suka cita, dan keseimbangan batin laksana angin yang sejuk  (誠正信實為大地,慈悲喜捨為和風).

Sesi pertama untuk relawan Tzu Chi dimulai jam 10.00 hingga jam 11.30. Relawan mementaskan Persamuhan Sutra Makna Tanpa Batas  (Wu Liang Yi Jing) yang terdiri dari tiga bab.  Bab Sifat Luhur dan Pembabaran Dharma dipentaskan dalam bentuk isyarat tangan, sedangkan Bab Sepuluh Pahala dipentaskan dengan drama. Sejak bulan Juni 2019, relawan mendalami Dharma yang terkandung dalam Sutra Wu Liang Yi Jing. Relawan mengikuti bedah buku, menyalin Sutra, dan isyarat tangan. “Saya sudah bervegetarian penuh mulai dari awal belajar Sutra dan akan terus bervegetarian walaupun pementasan telah berakhir,” kata Yulfitrie, relawan Tzu Chi Medan.


Para peserta yang hadir juga dapat menuangkan celengan bambu miliknya untuk digunakan sebagai dana kemanusiaan Tzu Chi.

Wu Liang Yi Jing adalah inti semangat dari Tzu Chi serta merupakan metode pembinaan diri yang membimbing kita bagaimana menempatkan diri di dalam masyarakat. Drama yang diperankan dengan berlatar Bab Sepuluh Pahala mengadopsi aktivitas yang dilakukan oleh relawan.  Relawan Tzu Chi dari Komunitas Hu Ai Medan Barat memerankan bantuan pengobatan dan pendampingan terhadap penerima bantuan, dari yang semula tidak bisa berjalan, menggunakan kursi roda, hingga kemudian sembuh dan bisa berjalan dengan normal kembali. Relawan komunitas Hu Ai Medan Selatan dengan renovasi rumah warga yang rusak dan atap yang bocor sehingga selalu cemas bila turun hujan. Sedangkan relawan Hu Ai Medan Utara dengan pembagian masker kepada masyarat yang terkena bencana vulkanis di sekitar Gunung Sinabung dan relawan komunitas Hu Ai Medan Timur dengan bakti sosial pembagian beras di Tanjung Morawa dan pembagian paket bagi warga korban kebakaran..

“Drama dan acaranya sangat menarik. Saya jadi tertarik untuk bergabung menjadi relawan karena Tzu Chi menolong orang tanpa membedakan suku dan agamanya apa,” kata Vincent, mahasiswa STBA PIA yang baru kali pertama mengikut acara ini.


Dengan diiringi lagu berjudul Ketekunan, team Zhong Gu membuka acara Ramah Tamah Imlek dengan Genta dan Genderang.

Sesi kedua dimulai jam 2 siang dan berakhir pada jam 4 sore. Sesi ini diperuntukan bagi donatur dan masyarakat umum. “Acara ini diadakan setiap tahun dengan tujuan untuk mengucapkan Gan en (terima kasih) kepada donatur dan masyarakat yang telah membantu Tzu Chi (Medan) sepanjang tahun 2019,” terang Dinarwaty, relawan yang menjadi koordinator kegiatan ini.

Laporan jumlah bantuan yang telah diberikan selama tahun 2019 ditampilkan dalam slide sebagai pertanggungjawaban Tzu Chi kepada para donatur dan masyarakat. Perincian untuk bantuan terdiri dari bantuan biaya pengobatan kepada 356 orang pasien, pendidikan untuk 403 orang anak asuh yang tersebar di sekolah swasta maupun negeri di Kota Medan dan sekitarnya, santunan biaya hidup ke 1.089 keluarga, bantuan 9.010 kg beras untuk 729 keluarga, bedah/renovasi 7 rumah, serta bantuan tanggap darurat kebakaran untuk 363 keluarga. Selain itu Tzu Chi juga melakukan 17 kali kegiatan donor darah dengan perolehan 1.362 kantong darah, bakti sosial kesehatan umum, kulit, THT, gigi dan mulut oleh TIMA ke 2.287 pasien. Selama tahun 2019 tercatat 13.550 donatur tetap dan barang daur ulang yang berhasil dipilah sebanyak 905.462 buah.


Steven, salah satu anak asuh yang keluarganya juga mendapat bantuan bedah rumah bercerita tentang bagaimana Tzu Chi telah mengubah kehidupannya dan keluarga menjadi lebih baik.

Apa yang dilakukan Tzu Chi Medan dirasakan langsung manfaatnya oleh mereka yang mendapatkan bantuan. Salah satunya Steven, anak asuh yang keluarganya juga menerima bantuan renovasi rumah dari Tzu Chi. “Sekarang saya sudah tamat sekolah dan bekerja berkat Tzu Chi,” kata Steven. Jalinan jodoh dengan Tzu Chi terjadi dikarenakan ayahnya meninggal yang menyebabkan kesulitan dalam membayar uang sekolah. Steven yang bercita-cita menjadi pengacara kemudian minta pendapat gurunya Yenny yang kebetulan adalah relawan Tzu Chi. Sekarang Mamanya sudah menjadi relawan pelestarian lingkungan dan juga donatur Tzu Chi.

Angpau yang dibagikan kepada seluruh peserta Pemberkahan Awal Tahun ini berasal dari royalti buku-buku karangan Master Cheng Yen, serta pemasukan dari para Biksuni yang bekerja dengan prinsip satu hari tidak bekerja, satu hari tidak makan.

Desain angpau tahun ini, bagian depan adalah gambar bambu wamin yang melambangkan kebajikan. Ruas bambu melambangkan patuh pada sila, inti bambu yang kosong melambangkan kerendahan hati. Batang bambu yang terus tumbuh ke atas upaya bersemangat dan dapat dibengkokkan tanpa patah mengandung arti mempergunakan kekuatan lembut untuk membimbing semua makhluk. Koin bergambar Aula dari Griya Jing Si dikarenakan bertepatan dengan 50 tahun berdirinya aula tersebut.


Doa Bersama untuk negara yang terjangkit virus Corona dan untuk tim medis dan relawan agar wabah ini cepat teratasi dengan baik.

Acara ditutup dengan doa bersama, menghimpun kekuatan dan karma baik yang telah dilakukan untuk mendoakan saudara-saudara kita di Tiongkok, terutama kota Wuhan dan negara lain yang sedang terserang virus Corona. Juga berdoa untuk tim medis dan tim relawan yang sedang bekerja keras untuk membantu mengatasinya.

Mengutip kata perenungan Master Cheng Yen, “Tetesan air yang terkumpul akan menjadi aliran sungai, butiran besar yang terkumpul akan memenuhi bakul. Jangan meremehkan hati nurani diri sendiri, jangan karena kebajikan kecil lalu tidak bersedia untuk melakukannya.”

Editor: Hadi Pranoto

Artikel dibaca sebanyak : 405 kali


Berita Terkait


Bersukacita Dalam Pemberkahan Awal Tahun

02 Maret 2020

PAT 2019: Terus Menyebarkan Cinta Kasih Universal di Seluruh Pelosok Negeri Tercinta

20 Februari 2020

PAT 2019: Tzu Chi Pekanbaru Menyelami Sutra Makna Tanpa Batas

29 Januari 2020

Jangan Lupakan Tahun itu, Orang yang Ada Saat Itu, Dan Tekad Saat Itu

15 Januari 2020

Keluarga-Keluarga Bahagia di Tzu Chi

15 Januari 2020


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Bila sewaktu menyumbangkan tenaga kita memperoleh kegembiraan, inilah yang disebut "rela memberi dengan sukacita".

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat