Jumat, 22 November 2019
Indonesia | English

Gathering Misi Amal Tzu Chi Medan

28 Maret 2019 Jurnalis : Nuraina Ponidjan (Tzu Chi Medan), Fotografer : Amir Tan, Hasan Tiopan (Tzu Chi Medan)


Peserta gathering Misi Amal mendengarkan sharing relawan tentang permintaan bantuan yang mereka tangani.

Yayasan Buddha Tzu Chi menjalankan empat misi utama dan delapan Jejak Dharma. Misi Tzu Chi adalah memberi bantuan dan menumbuhkan cinta kasih terhadap sesama dengan demikian akan mengurangi penderitaan dan masalah di dunia. Empat Misi Tzu Chi adalah : Misi Amal, Kesehatan, Pendidikan dan Budaya Kemanusiaan, dan delapan jejak Dharma Tzu Chi adalah empat misi utama ditambah dengan bantuan internasional, donor sumsum tulang, pelestarian lingkungan, dan relawan komunitas.

Sejak Tzu Chi didirikan, misi pertama yang dijalankan adalah Misi Amal yang memiliki prinsip untuk memberi bantuan dengan cepat, tepat dan langsung. Misi amal terdiri dari bantuan pengobatan, bantuan biaya Pendidikan (anak asuh), bantuan beras dan bantuan dalam bentuk santunan hidup. Karena Tzu Chi Medan yang terbagi atas empat komunitas yaitu Medan Timur, Medan Utara, Medan Selatan dan Medan Barat maka setiap permohonan bantuan ke Tzu Chi  akan dibagikan ke masing-masing komunitas yang dekat dengan alamat si pemohon bantuan. Relawan masing-masing komunitas akan menanggapi permintaan bantuan dan mengunjungi si pemohon bantuan serta atas kesepakatan bersama memutuskan permohonan bantuan tersebut layak dibantu atau tidak.

Bagaimana cara masing-masing komunitas membantu para pemohon bantuan dan bagaimana juga relawan mendampingi si pemohon dalam menghadapi permasalahan yang dihadapi, masing-masing komunitas akan membagikan pengalamannya dalam acara gathering amal ini. Tujuan dari gathering amal ini adalah relawan bisa membagikan pengalaman masing-masing sehingga bisa menjadi dorongan semangat untuk relawan lain ataupun untuk relawan baru. Jadi gathering amal ini bukan untuk saling memamerkan kebolehan tetapi saling membagikan pengalaman yang penuh cinta kasih.


Yanny selaku pembawa acara, membuka acara dengan mengajak relawan untuk memberikan penghormatan kepada Master Cheng Yen.

Yanny mengawali gathering amal ini dengan mengajak para relawan untuk memberikan penghormatan kepada Master Cheng Yen dan kemudian menyanyikan Mars Tzu Chi dan pembacaan 10 sila Tzu Chi. Kemudian secara bergantian relawan tiap komunitas membagikan pengalaman dan kisah perjalanan mereka dalam Misi Amal.

Dari keempat komunitas Tzu Chi Medan, terdapat 8 kasus yang di-sharing-kan, di antaranya kasus Fredrico Ali yang lahir tahun 2015 dengan lahir tanpa saluran empedu yang biasanya disebut Atresia bilier. Permohonan bantuan ini masuk pada tanggal 30 November 2017 di mana saat disurvei relawan (Fenny Hansidi dan Lysandra), Fredrico yang akrab dipanggil Coco dalam kondisi semua badan dan mata menguning. Badannya kurus tapi perutnya membengkak besar melebihi ukuran badan. Karena lahir dengan kelainan di organ tubuhnya maka Coco di umur 2,5 tahun, masih belum bisa duduk, hanya terlentang saja.

Atas keputusan bersama maka Coco pun dibawa berobat ke dokter dengan bantuan BPJS dan sebagai awal bantuan adalah dengan memberikan pampers sebanyak 3 pack/bulan. Hasil USG menyatakan Cocoh sudah mengalami sirosis hati dan dokter menvonis kasus ini tidak bisa diobati lagi hanya menunggu waktu saja. Relawan tidak putus asa, Coco pun dibawa ke bagian Gastro dan hepatic, namun keputusan dokter juga sama, sirosis hati sudah mencapai seluruh hati dan setiap saat akan terjadi pendarahan di seluruh organ tubuh yang berujung kematian. Karena dua dokter dengan keputusan yang sama maka relawan hanya bisa melakukan kunjungan kasih setiap bulannya.

 

Fenny Hansidi (kiri) dan Lysandra (kanan) berbagi tentang pasien kasus Fredrico Ali.

Pada Mei 2018 Coco menjalani operasi pembukaan lubang di perut untuk membuang cairan di tubuhnya, saat itu Coco mengalami sesak nafas dan air masuk ke paru-paru. Relawan menunggu selama operasi berlangsung, dan karena ada biaya pengobatan yang tidak ditanggung BPJS dan biayanya lumayan besar karena Coco harus disuntik obat pembeku darah, maka bantuan pampers dialihkan dengan memberikan bantuan tunai sebesar Rp 800.000 per bulan. Di Agustus 2018 Coco mengalami pendarahan di bagian buang air besarnya maka Coco kembali masuk rumah sakit dan relawan juga selalu mendampingi. Syukurlah Coco semakin hari semakin membaik dan sekarang Coco sudah bisa duduk walaupun masih bersandar dan badan sudah tidak begitu kuning dan perut sudah mengempis. Fenny dan Lysandra merasakan sebuah mujizat  karena dua orang dokter sudah menvonis tidak bisa diobati dan hanya menunggu waktu, namun nyatanya Coco semakin hari semakin sehat dan sekarang sudah mau diajak bermain.

“Jadi yang penting adalah pendampingan ke pemohon bantuan selama menjalani pengobatan, sehingga dengan cinta Kasih yang kita berikan akan membantu memberikan semangat hidup bagi mereka yang berjuang menghadapi penyakit yang diderita,” ungkap Lysandra dalam sharing-nya.

Satu lagi kisah Sarah Mutiara Nasution (14). Sarah yang sedang membeli bakso yang lewat di depan rumahnya, biasanya setelah pesan, Sarah akan tunggu di rumah, namun nasib naas menyapa Sarah, hari itu Sarah menunggu di samping gerobak bakso, tiba-tiba gerobak bakso di tabrak pengendara sepeda motor sehingga kuah bakso menyembur keluar mengenai tubuh Sarah. Sarah hanya bisa bengong dan berlari ke rumah dengan tubuh yang panas tersiram kuah bakso. Orang tua Sarah segera melarikan Sarah ke rumah sakit dan sungguh malang, bagian tubuh Sarah dari leher kebawah melepuh dan bagian paling parah adalah di sekitar dada dan ketiak dan harus dioperasi.

 

Phei Yin Yang sedang sharing kisah Sarah Mutiara Nasution.

Karena biaya yang besar maka orang tua Sarah mengurus BPJS dan mengajukan permohonan bantuan ke Tzu Chi. Karena kasus yang darurat maka relawan (Phei Yin, Nata, Imelda dan Rusi) langsung berkunjung ke rumah sakit. Karena sudah ada BPJS, maka Sarah menjalani 3 kali operasi dan selama pengobatan, relawan selalu mendampingi. Setelah operasi Sarah harus berobat jalan dan  harus menggantikan verban 2 hari sekali. Jadi untuk memudahkan Sarah karena jarak rumah yang lumayan jauh, maka orang tuanya meminta suster untuk mengganti verban ke rumahnya.

Biaya suster tidak ditanggung BPJS maka atas kesepakatan bersama biaya suster sebesar Rp 500.000 dibantu Tzu Chi. Dengan kejadian yang menimpah dirinya, Sarah terpaksa berhenti sekolah satu tahun. Namun sekarang luka Sarah sudah membaik dan sudah bisa pakai baju dan ini semua juga merupakan kebahagiaan yang dirasakan relawan.

Sharing 8 orang relawan dari 4 komunitas Tzu Chi Medan, semuanya sangat menyentuh hati dan semua relawan menjalankan Misi Amal dengan sepenuh hati. Dengan sharing dari para relawan yang berbeda-beda dalam menangani kasus maka akan memberikan pengetahuan terutama di dalam masalah medis dan pengobatan, dengan demikian akan menginspirasi satu sama lain di antara sesama relawan,” tutur Sumida selaku koordinator gathering Misi Amal.

Semua sumbangsih relawan dalam Misi Amal ini sebenarnya berguna untuk diri sendiri, banyak yang bisa dipelajari, banyak yang bisa mengetuk hati dan membuka mata bahwa di dunia masih banyak orang yang menderita. Karena itu hendaknya semua orang bersyukur diberikan tubuh yang sehat. Sesuai dengan Kata Perenungan Master Cheng Yen “Memberi perhatian pada orang lain sama dengan memberi perhatian pada diri sendiri. Membantu orang lain juga berarti membantu diri sendiri”.

 

Editor: Khusnul Khotimah

Artikel dibaca sebanyak : 627 kali


Berita Terkait


Belajar Bersama dalam Gathering Misi Amal

20 Februari 2017


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Kehidupan masa lampau seseorang tidak perlu dipermasalahkan, yang terpenting adalah bagaimana ia menjalankan kehidupannya saat ini.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat