Rabu, 20 November 2019
Indonesia | English

Hari Bahagia di Hari Santri

22 Oktober 2019 Jurnalis : Hadi Pranoto, Fotografer : Anand Yahya, Henry Tando, Metta Wulandari


Setelah satu tahun pembangunan, Kampus Unusia akhirnya diresmikan penggunannya pada tanggal 22 Oktober 2019, bertepatan dengan Hari Santri Nasional 2019.

Tanggal 22 Oktober menjadi hari yang bersejarah bagi para santri, dimana hari itu merupakan Hari Santri yang ditetapkan pemerintah sejak tahun 2015. Di Hari Santri Nasional 2019 ini pula, para santri dari keluarga besar Nahdlatul Ulama mendapatkan berkah dengan diresmikannya Kampus Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) di Parung, Bogor, Jawa Barat.

Peresmian dilakukan oleh Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Said Aqil Siroj dan Wakil Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia Sugianto Kusuma. Kegiatan ini juga dihadiri para tokoh NU, Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia Liu Su Mei dan relawan Tzu Chi lainnya. Penarikan selubung kain papan nama Kampus Unusia dan penandatanganan prasasti menjadi penanda siap digunakannya kampus di lahan seluas 2,4 hektar ini.


Penandatanganan prasasti peresmian Kampus Unusia oleh Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Said Aqil Siroj dan Wakil Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia Sugianto Kusuma.


Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siroj dan Rektor Unusia Prof. Mochamad Maksum memberikan sambutan dalam perayaan Hari Santri sekaligus peresmian Kampus Unusia di Parung, Bogor, Jawa Barat.

Pembangunan Kampus Unusia yang dimulai sejak setahun lalu (9 Oktober 2018) ini juga didukung oleh Sinarmas, Agung Sedayu Grup, Indofood, serta Djarum Foundation. Kampus seluas 6.300 meter persegi ini dibangun dalam 4 (empat) lantai, terdiri dari 46 ruang kelas belajar, perpustakaan, musala, ruang rapat, dan gedung serbaguna. Kampus ini diperkirakan dapat menampung 1.050 mahasiswa, di mana di dalamnya juga akan ada studi yang berbasis riset, mulai dari argo industri, IT, Ekonomi Islam, dan lainnya. Kampus Unusia merupakan sekolah/universitas ke-37 yang dibangun Tzu Chi sejak tahun 2001 di berbagai wilayah di Indonesia.

“(Pembangunan) kampus ini sudah lama kita nanti-nantikan. Tanah ini diwakafkan sudah lama sekali sejak zaman Gus Dur, tetapi baru sekarang kita bisa memanfaatkan tanah ini untuk pendidikan,” kata Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siroj, “ini semua berkat kemurahan hati dari Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia.”


Mewakili Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, Hong Tjhin menyampaikan harapannya agar kampus ini bisa dirawat dan digunakan secara optimal, serta menghasilkan profesional yang tidak hanya unggul dalam akademik, tetapi juga memiliki budi pekerti yang luhur.

KH. Said Aqil Siroj berharap kerja sama ini tidak hanya berhenti sampai di sini, tetapi bisa berlanjut dengan kerja sama-kerja sama lainnya. Menurutnya, masih banyak sekolah-sekolah dan rumah ibadah di beberapa daerah yang kondisinya mengenaskan, dan ini membutuhkan dukungan banyak pihak agar semakin banyak kesempatan yang dimiliki para santri dalam menuntut ilmu sehingga bisa ikut berkontribusi dalam pembangunan dan menjaga kedamaian dan keharmonisan.

Terlebih menghadapi era teknologi saat ini, dimana para santri dituntut harus kreatif, inovatif, dan adaptif terhadap nilai-nilai baru. Meski begitu, santri tidak boleh kehilangan jati dirinya sebagai seorang Muslim yang menjunjung tinggi akhlakul karimah (akhlak yang baik dan terpuji). “Sudah saatnya santri bangkit,” tegas Said Aqil.

 

Para relawan Tzu Chi membawakan lagu isyarat tangan Satu Keluarga sebagai bentuk persaudaraan antar sesama.

Hal senada disampaikan Rektor Unusia yang juga Wakil Ketua PBNU Prof. Mochamad Maksum, “Penghargaan kami setinggi-tingginya kepada para donatur, yang dikoordinir Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia dalam mewujudkan impian kita, kampus Unusia. Tentu kami bahagia sekali karena ini bentuk partisiapasi masyarakat dalam mendukung kemajuan pendidikan dan bangsa ini menjadi semakin nyata.”

Jika sebelumnya Kampus Unusia lokasinya terpisah-pisah (Kedoya, Jakarta Barat dan Matraman, Jakarta Pusat) lambat laun semuanya akan terkonsentrasi di Kampus Unusia Parung, Bogor. Prof. Maksum berharap dengan gedung kampus yang baru ini maka bisa meningkatkan minat belajar dan prestasi mahasiswa. “Harapannya pasti Unusia hebat. Kita punya banyak mahasiswa asing, karena kampanye kita kalo mau belajar keagamaan belajarlah di negeri China dan Arab, tetapi kalo belajar praktik keislaman yang ramah, bijaksana, dan aman, maka belajarlah di Indonesia,” kata Prof. Maksum.


Tzu Chi Indonesia dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menandatangani MoU kerja sama di bidang pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, pelestarian lingkungan, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat (4 Juni 2018).

Mewakili pimpinan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, Hong Tjhin, CEO DAAI TV Indonesia menyampaikan Selamat Hari Santri Nasional kepada para santri yang hadir, dan harapannya dengan adanya gedung Kampus Unusia ini. “Sejalan dengan program pemerintah dalam mengembangkan SDM, program deradikalisasi, kampus ini diharapkan bukan hanya dapat menghasilkan profesional yang terampil dalam Iptek, tetapi juga berkarakter, berbudi pekerti, dan berakhlak mulia, yang memiliki rasa syukur, menghormati perbedaan, dan cinta kasih sehingga dapat mendarmabaktikan ilmunya di jalan yang benar,” kata Hong Tjhin.

Dalam kesempatan ini Hong Tjhin juga berpesan agar kampus ini bisa dirawat dengan baik dan dimanfaatkan secara optimal. “Saat ini, di era kemajuan teknologi, kita memiliki tantangan baru bagaimana menjadikan santri unggul, dalam rangka mewujudkan indonesia makmur. Cita-cita luhur itu bukan hanya milik para santri, tetapi milik kita bersama,” tegas Hong Tjhin.

Bersama-sama Menciptakan Keharmonisan di Masyarakat


Rombongan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) didampingi oleh Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, Liu Su Mei  dan beberapa relawan komite dari Indonesia mengunjungi Kantor Pusat Tzu Chi di Hualien, Taiwan (17-19 April 2018).

Pembangunan Kampus Unusia merupakan wujud kerja sama Tzu Chi dengan PBNU dalam bidang pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, pelestarian lingkungan, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat. Mou ini ditandatangani oleh Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siroj dan Wakil Ketua Tzu Chi Indonesia Sugianto Kusuma pada 4 Juni 2019 dalam acara Peringatan Dharmasanti Waisak Nasional 2018 di Tzu Chi Center Jakarta.

Jalinan jodoh Tzu Chi dengan NU telah dimulai sejak lama, tahun 2015. Saat itu Tzu Chi diundang untuk memperkenalkan Visi dan Misi Tzu Chi serta Masa Celengan Bambu di Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur yang didirikan oleh tokoh NU, KH. Hasyim Asy'ari.

Tiga tahun berselang (Maret 2018), Ketua dan Pengurus PBNU berkunjung ke Tzu Chi Center Jakarta untuk mengenal Tzu Chi lebih dalam. Sebulan kemudian (17-19 April 2018), Ketua dan Pengurus PBNU berkunjung ke Hualien, Taiwan dan bertemu dengan pendiri Tzu Chi, Master Cheng Yen. Dari sini hubungan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia dengan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kian rekat dan hangat.


Kebahagiaan dirasakan warga Kampung Tegal, Kelurahan Kemang, Kecamatan Parung, Bogor saat menerima Paket Cinta Kasih Lebaran 2019 dari Tzu Chi Indonesia (19 Mei 2019).  

Saat bertemu dengan Master Cheng Yen, KH. Said Aqil Siroj menyampaikan kesan dan harapannya. “Kami berharap dapat seperti Yayasan Buddha Tzu Chi, menciptakan kedamaian di masyarakat, juga bekerja sama dengan Tzu Chi dalam mewujudkan hal-hal yang bermanfaat bagi masyarakat Indonesia,” kata Said Aqil. Master Cheng Yen menyambut hangat hal ini dan mengatakan jika Tzu Chi sudah berada di Indonesia selama 20 tahun lebih. “Saya berterima kasih kepada masyarakat Indonesia yang menerima Tzu Chi dengan penuh toleransi. Masyarakat Indonesia hidup dengan aman tenteram, serta  memiliki agama yang penuh dengan cinta kasih. Hal ini membuat saya sangat salut dan kagum. Agama Islam adalah agama yang mendunia, dan Tzu Chi juga selalu bekerja sama dengan umat Islam di banyak tempat.”

Selain Misi Pendidikan, di misi amal kerja sama Tzu Chi dan NU diwujudkan dengan program bedah rumah dan pemberian bantuan 500 Paket Lebaran kepada warga Kampung Tegal, Kel. Kemang, Parung, Bogor. Kegiatan ini melibatkan relawan Tzu Chi Indonesia dan mahasiswa Unusia, mulai dari proses survei, pembagian kupon, hingga pemberian bantuan.

Tzu Chi tidak hanya membantu secara fisik (hardware), namun juga sumber daya manusianya (software). Ini ditandai dengan penandatanganan kerja sama Program Doktoral di Kampus Unusia pada 14 Maret 2019. Program beasiswa Doktoral ini nantinya ditujukan bagi para mahasiswa Program Studi S3 Islam Nusantara di Unusia.

 

Penandatanganan kerja sama Program Doktoral di UNUSIA dihadiri oleh Rektor UNUSIA dan Wakil Ketua Umum PBNU Prof Maksum, Perwakilan IRTI Bangun Jaya Ardy Chandra, Wakil Ketua Tzu Chi Indonesia Sugianto Kusuma, dan relawan Tzu Chi lainnya (14 Maret 2019).

Rektor Unusia Prof. Maksum berharap Program Studi S3 Islam Nusantara bisa memberikan dampak positif, terutama dalam urusan perdamaian, toleransi, kebangsaan, keberagaman, dan kemasyarakatan. “Islam Nusantara itu menyatu pada lokalitas dan budaya. Apabila menyatu, pasti akan memberikan kedamaian,” ucap Prof. Maksum.

Rektor Unusia juga menegaskan bahwa Kampus Unusia memegang 100% keyakinan dan 100% toleransi dalam mendidik mahasiswanya. Dengan demikian diharapkan ke depannya dapat membentuk pribadi-pribadi yang cinta sesama dalam ke-Bhinnekaan dalam upaya mewujudkan Indonesia yang harmonis, aman, adil, dan makmur. 

Editor: Metta Wulandari

Artikel dibaca sebanyak : 802 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Berbicaralah secukupnya sesuai dengan apa yang perlu disampaikan. Bila ditambah atau dikurangi, semuanya tidak bermanfaat.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat