Selasa, 10 Desember 2019
Indonesia | English

Kesederhanaan dan Kesungguhan Menghasilkan Kekuatan

30 Mei 2006 Jurnalis : Ivana, Fotografer : Anand Yahya

 


 

Sementara seluruh mata sedang tercurah ke Kabupaten Bantul, Jogjakarta, tim logistic Tzu Chi yang sejak sehari sebelumnya berkonsentrasi untuk mendistribusikan bantuan berupa tenda dan selimut serta makanan ringan, tanggal 30 Mei 2006 mencoba untuk melebarkan perhatian ke arah Klaten, Jawa Tengah.

Begitu pula Suyadi (33 tahun), relawan lokal yang bergabung dengan Tzu Chi sejak terjadinya gempa, dengan penuh semangat mengikuti pendistribusian bantuan. Yadi bersama 29 temannya dari berbagai usia merupakan anggota perkumpulan pemuda Dukuh Blendangan, Desa Tegaltirto, Kecamatan Brebah, Kabupaten Sleman. Perjalanan dengan motor selama 1 jam di bawah terik matahari dari Jogja ke Klaten tidak melunturkan semangatnya. Padahal daerahnya bukannya tidak terkena gempa hari Sabtu lalu.

"Saya sangat bersyukur, melihat tempat kita ternyata tidak begitu parah dibandingkan tempat lain," katanya. Kecamatan Brebah termasuk lokasi yang cukup beruntung, sebab rumah-rumah tidak sampai roboh dihantam gempa, meski tetap retak-retak dan mati listrik. Rasa syukur itulah yang membuat Yadi memiliki keinginan kuat untuk membantu saudaranya yang terkena bencana. Bahkan diantara para relawan ada pembicaraan, "Mungkin daerah kami memang dilindungi supaya kami nantinya bisa memberi bantuan pada orang-orang yang menjadi korban."

Tak heran, sepanjang hari, Yadi demikian sungguh-sungguh melakukan pemberian bantuan itu. Dengan memakai rompi kuning berlambang Tzu Chi di punggungg, ia terjun mulai dari mendirikan tenda hingga membantu mengatur jalur lalu lintas mobil melalui jalan yang retak akibat gempa. Kesungguhan ini membuatnya tampak menonjol di antara relawan lokal yang lain. Sifatnya yang ramah dan rendah hati juga membuatnya cepat akrab dengan korban yang dibantu oleh Tzu Chi.

Yadi sendiri hanyalah seorang tukang batu. Kalau sedang ada pekerjaan ia bisa mendapatkan Rp 600.000 per bulan, namun itu pun tidak menentu. Pendidikannya yang putus sekolah di tingkat SMP mengakibatkan ia sulit mencari pekerjaan yang lebih baik. Justru hal itu menyemangatinya untuk membiayai sekolah adik laki-lakinya yang saat ini duduk di SMA.

Ketika memasuki daerah dataran tinggi Sleman, kebanyakan warga merupakan pemeluk agama Katolik. Meski Yadi sendiri merupakan seorang muslim, ia menolong dengan tekad yang sama. "Saya merasa sebagai sesama makhluk hidup ya kita seharusnya tolong menolong, nggak perlu mikirin agama," ujarnya blak-blakan.

Yadi sangat senang mengikuti pemberian bantuan selama 2 hari ini. Melihat penderitaan yang dialami sesamanya membuat Yadi menangis dalam hati. Maka itu ia sangat senang dapat turut serta membantu. "Kalo membantu dengan materi saya jelas nggak bisa," katanya, "tapi kalo tenaga, saya akan berusaha sebisanya." Dan tanpa banyak kata-kata Yadi telah membuktikan tekadnya, dengan tenda yang ia bantu bangun hari ini, minimal ia boleh lega membayangkan para korban dapat beristirahat dengan lebih nyaman malam ini.

Artikel dibaca sebanyak : 1185 kali


Berita Terkait


Kisah Haru Sang Guru Ngaji

09 Desember 2019

Kolaborasi Menyambut Natal Bersama Panti Asuhan Asih Lestari

09 Desember 2019

Semangat serta Dukungan untuk Tri dan Nino

09 Desember 2019

Opa dan Oma Adalah Saudara Kita

05 Desember 2019

Menganyam Hati, Menganyam Semangat

04 Desember 2019


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Kita hendaknya bisa menyadari, menghargai, dan terus menanam berkah.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat