Selasa, 10 Desember 2019
Indonesia | English

Menjemput Yang Terluka

06 Juni 2006 Jurnalis : Hadi Pranoto, Fotografer : Hadi Pranoto

 
"Senyum dong, Pak," canda salah satu relawan Tzu Chi saat kaki Harawi (67) selesai digift oleh dokter Wu Kan Chi, dari Taiwan. Dokter orthopedy ini berpendapat bahwa Pak Harawi mengalami patah tulang dan perlu segera ditangani. Padahal oleh dokter di rumah sakit beberapa hari lalu, ia hanya dikatakan mengalami sedikit pergeseran tulang dan kakinya hanya disuntik tanpa dibalut gift. "Mana bisa senyum kalau ndak ada istri," jawabnya guyon dan langsung saja membuat relawan dan orang disekeliling posko tertawa. Istrinya sendiri terkena patahan kayu di pundaknya, dan sekarang beristirahat sekaligus dirawat jalan.

Pria beranak 7 ini, saat didatangi tim medis ke daerah tempat tinggalya sedang berjalan tertatih-tatih menggunakan tongkat yang dipinjamkan salah satu tetangganya. Meski oleh dokter lain dikatakan tidak patah, namun kenyataannya sebelah kanan kaki Pak Harawi bengkak dan jika dipakai untuk berdiri terasa sakit. "Sakit sekali, Nak," ujarnya sembari memperlihatkan kaki kanannya. Karena cukup parah, akhirnya dengan menggunakan mobil ambulan Tzu Chi, Pak Harawi pun dibawa ke posko induk kesehatan Tzu Chi.

"Saya ngak bisa lari, wong goyang-goyang tanahnya. Saya akhirnya jatuh dan tertimpa reruntuhan tembok," kenangnya. Pria yang sehari-hari bertani ini sempat tertimbun reruntuhan rumah hampir 5 menit lamanya, sebelum akhirnya bisa ditolong oleh keluarga dan warga setempat. Rumahnya sendiri hancur, rata dengan tanah sehingga ia dan istri tinggal di tenda darurat yang dibangun bersama para tetangganya. "Kalau makan ngak pernah kekurangan," katanya sembari mengacungkan jempolnya, pertanda kesalutannya terhadap kecepatan dan kebaikan hati para dermawan.

"Ya, biar rumahku hancur yang penting kami sekeluarga selamat," ungkapnya. Meski semua anggota keluarganya, yang tinggal bersebelahan dengannya rumahnya hancur, namun Pak Harawi sekeluarga tetap bersyukur karena tidak ada yang meninggal dunia karena gempa ini. Padahal di dusun tempat tinggalnya di , terdapat 12 orang warga yang meninggal akibat gempa.

Jika biasanya dokter, perawat dan paramedis menunggu pasien di rumah sakit, kini kebalikannya. Karena banyak pasien yang belum bisa berobat ataupun berjalan ke rumah sakit ataupun posko medis, Tim medis Tzu Chi berinisiatif berkeliling dari satu dari satu posko ke posko lainnya mencari pasien yang terluka akibat gempa maupun penyakit yang muncul sesudahnya, seperti flu, gatal-gatal, dan sakit mata. Jika terdapat pasien yang kondisinya cukup parah, maka akan dibawa dengan menggunakan mobil ambulan ke posko induk yang berlokasi di Madrasah Al Munajah, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul, Jogyakarta.

Dalam kondisi darurat dan terbatas segala sesuatunya, bukan berarti penanganan terhadap pasien yang terluka akibat gempa menjadi pengobatan sekedarnya. Tak semua luka fisik dapat terlihat secara kasat mata. Ketelitian dan kesabaran dalam mengobati pasien menjadi kunci utama para dokter, terutama yang memang ahli di bidangnya agar si pasien tidak mengalami penderitaan yang lebih panjang karena penanganan yang tidak semestinya. "Di gift sambil menunggu hasil rontgent. Jika memang parah, maka perlu dioperasi," kata dr. Wu Kan Chi.

Artikel dibaca sebanyak : 1082 kali


Berita Terkait


Kisah Haru Sang Guru Ngaji

09 Desember 2019

Kolaborasi Menyambut Natal Bersama Panti Asuhan Asih Lestari

09 Desember 2019

Semangat serta Dukungan untuk Tri dan Nino

09 Desember 2019

Opa dan Oma Adalah Saudara Kita

05 Desember 2019

Menganyam Hati, Menganyam Semangat

04 Desember 2019


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Jangan menganggap remeh diri sendiri, karena setiap orang memiliki potensi yang tidak terhingga.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat