Kamis, 12 Desember 2019
Indonesia | English

Pekan Amal Tzu Chi 2019: Membalas Budi Baik Lima Belas Tahun yang Lalu

20 Oktober 2019 Jurnalis : Khusnul Khotimah , Fotografer : Anand Yahya, Arimami SA


Di hari pertama Pekan Amal Tzu Chi 2019, Hudri menjual 300 porsi es cendol.

“Saya merasa bangga bisa diajak untuk ikut bazar Tzu Chi.”

Kalimat tersebut diungkapkan Hudri (42), yang selama dua hari  Pekan Amal Tzu Chi 2019, berjualan es cendol. 

Lima belas tahun lalu, putra pertama Hudri, Mahdiansyah yang lahir dengan bibir sumbing dapat dioperasi dengan sukses oleh tim medis Tzu Chi pada baksos yang digelar di Rusun Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng. Saat itu Mahdiansyah baru berumur satu tahun.

“Sebelumnya saya mendaftar ke mana-mana juga, namanya kemampuan nggak punya kan ya saya mencari yang gratis. Alhamdulillah saya dapat yang Tzu Chi, Alhamdulillah sehat lah anaknya, sembuh,” kenangnya.

Saat ini Mahdi, panggilan akrab Mahdiansyah, tumbuh menjadi anak yang sopan dan patuh kepada orang tua. Mahdi juga meraih peringkat pertama di sekolah. Mahdi yang tinggal bersama ibu dan adiknya di kampung halaman, yakni di Karang Bolong, Anyer, Banten pada pekan Amal kali ini datang ke Jakarta untuk membantu ayahnya.

“Senang bantu-bantu bapak, masuk-masukkin batu es. Saya memang diajak bapak, tapi ada keinginan sendiri juga,” kata Mahdi yang bercita-cita menjadi guru ini.


Tampak Mahdi yang juga datang dari kampung halaman untuk membantu sang ayah. Saat ini Mahdi bersekolah di Madrasah Aliyah Matlaul Anwar Karang Bolong, Banten. 

Sudah 15 tahun Hudri berjualan es cendol. Sehari-hari ia berjualan keliling di sekitar wilayah Muara Karang, Jakarta Utara. Melewati perkantoran, perumahan, dan proyek-proyek. Sementara Hudri sendiri mengontrak di kawasan Jembatan Tiga. Cendol yang ia jual adalah cendol khas Banjarnegara. Kebetulan dahulu, Hudri pernah belajar bikin cendol langsung ke Banjarnegara, Jawa Tengah.

Laris Manis Tanjung Kimpul

Di hari pertama, es cendol jualan Hudri laris manis. Tiga ratus porsi bersih tak bersisa. Jumlah ini berarti dua kali lipat dagangannya sehari-hari. Karena itu untuk menyiapkan es cendol di pekan amal ini, Hudri bangun pukul 01.00 pagi.

“Kalau dari pukul 01.00 sudah dua jam-dua jam. Jam 06.00 harus diambil oleh teman Pak Polin untuk dibawa ke area bazar. Sampai sini jam 7, jam 8 sudah ada pembeli,” ujarnya.


Hudri dan Mahdi berfoto bersama dengan para relawan Tzu Chi. 

Polin yang disebut namanya oleh Hudri ini adalah relawan Tzu Chi yang mengajak Hudri berpartisipasi di Pekan Amal Tzu Chi 2019 ini. Polin juga adalah langganan es cendolnya.

“Pak Polin menawarkan, bazar amal katanya. Apalagi saya juga pernah ditolong oleh Tzu Chi, anak saya pernah dioperasi bibir sumbing. Dan Alhamdulillah sehat sampai sekarang,” ujarnya.

Jika biasanya es cendol Hudri jual seharga 5 ribu rupiah, kali ini ia jual 10 ribu rupiah.

“Saya cuma ambil untung tiga ribu perporsinya. Tujuh ribunya buat amal. Relawan menawarkan segitu, ya saya langsung sanggupi,” terang Hudri.


Para pengunjung Pekan Amal Tzu Chi 2019 menikmati berbagai hidangan vegetaris yang beragam. 


Tampak seorang pengunjung menyodorkan kupon sebagai alat transaksi kepada relawan yang bertugas menjaga stan. Ada sebanyak 207 stan pada Pekan Amal Tzu Chi kali ini.  

Hudri sendiri tak menyangka dagangannya laris manis. Di hari kedua Hudri membawa lebih banyak stok es cendol yakni 500 porsi.

“Mudah-mudahan habis. Mungkin extra capeknya, hehe.. Tadinya saya minder juga, tapi kok melihat yang sudah beli es cendol saya, pada bilang enak. Saya juga merasa bangga diajak ke sini. Suatu kebanggan lah buat saya,” pungkasnya.

Editor: Metta Wulandari

Artikel dibaca sebanyak : 516 kali


Berita Terkait


Pekan Amal Tzu Chi 2019: Tzu Ching Power - yang Muda yang Punya Semangat

22 Oktober 2019

Pekan Amal Tzu Chi 2019: Semarak Pekan Amal Tzu Chi

21 Oktober 2019

Sayuran Hidroponik di Pekan Amal

21 Oktober 2019

Pekan Amal Tzu Chi 2019

21 Oktober 2019

Pekan Amal Tzu Chi 2019: Berbagai Kuliner Nusantara Diboyong ke Pekan Amal

20 Oktober 2019


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Penyakit dalam diri manusia, 30 persen adalah rasa sakit pada fisiknya, 70 persen lainnya adalah penderitaan batin.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat