Jumat, 22 November 2019
Indonesia | English

Pembagian beras dan lomba perahu naga di Kapuk Muara

10 Desember 2006 Jurnalis : Dok. Tzu Chi Indonesia, Fotografer : Dok. Tzu Chi Indonesia

Pembagian beras dimulai pagi-pagi sekali, di sana sekitar 50 santri dari Pesantren Nurul Iman, Parung yang memang secara rutin membantu kegiatan seperti ini sudah mulai membagikan beras. Kegiatan ini dilangsungkan di Kantor Kelurahan Kapuk Muara yang letaknya agak jauh dari Kali Angke, tempat dilaksanakannya Festival Perahu Naga. Hari ini cukup cerah, hampir secerah perasaan para warga daerah Jalan Empang yang menerima beras. Para relawan menarik tiga buah pita kuning Tzu Chi, membuat jalur panjang untuk mengatur antrian pengambilan beras. Jalur kiri untuk wanita dan jalur kanan untuk laki-laki. Pemisahan jalur ini ternyata membuat pembagian 7.122 karung beras ini berlangsung dengan lebih lancar. Di jalur untuk wanita, lebih banyak santri yang berbaris dan bersiap untuk membantu mengangkat beras ke luar halaman kantor kelurahan, sedangkan di jalur untuk laki-laki, hanya orang tua dan anak-anak saja yang dibantu.

Salah seorang penerima beras yang dibantu adalah Jahudin. Laki-laki berusia 24 tahun ini bahkan harus dituntun saat berjalan. Sejak umur 3 tahun, Jahudin kehilangan penglihatannya karena sakit, mata kanannya menyipit sedangkan sebaliknya mata kirinya justru menonjol ke luar. Saat itu ia didampingi oleh adik laki-lakinya, Anda. Meskipun ia tidak leluasa ke mana-mana, tapi hari ini Jahudin yang sejak kecil tak pernah mengecap bangku sekolah itu, memaksa datang ke acara pembagian beras. ”Senang bisa ketemu orang-orang,” katanya memberi alasan. Meskipun sudah berusaha berobat ke berbagai pengobatan alternatif, Jahudin tak kunjung sembuh. Pekerjaan ayahnya sebagai pemulung tak mampu membiayai operasi yang dianjurkan dokter. Sebelum pulang dengan naik ojek, Jahudin sempat berujar, ”Harapannya adalah semoga negara ini aman dan damai.” Sedikit mirip dengan ikrar dari Master Cheng Yen sendiri.


Saat berjalan dari tempat pembagian beras menuju tempat berlangsungnya Festival Perahu Naga, kami mendapati seorang ibu sedang terduduk kelelahan di sebuah bangku semen. Rupanya Sundari, nama ibu itu, sedang mencoba menggendong beras yang baru saja didapatnya dari Tzu Chi. Meskipun harus berjalan agak jauh, Sundari lebih suka bermandi keringat daripada harus membayar ojek seharga Rp 5.000,-. ”Nggak punya ongkos, bu,” katanya. Karena tidak tega, akhirnya kami bantu membawakan berasnya hingga dekat rumah.

Ibu yang berusia 40 tahun ini sudah menjanda beberapa tahun lamanya. Saat ini ia tinggal sendiri di rumah gubuk yang dikontraknya seharga Rp 125.000,- per bulannya. Anak-anaknya tinggal di Pemalang, Jawa Tengah, bersama orangtuanya, dan dibiayai oleh saudara-saudaranya di sana. Sesekali, bila ia mendapat penghasilan lebih dari pekerjaan memulungnya, Sundari mengirim uang untuk ketiga orang anaknya itu. Uang yang ia peroleh dari mengumpulkan botol plastik bekas dan semacamnya, tidak banyak, rata-rata sekitar Rp 10.000,- per harinya. Karena itulah, bantuan dari Tzu Chi ini sangat disyukurinya, ”Terima kasih banyak sudah diberi beras, ini sih bisa untuk 3 minggu.”

Andrian (relawan Tzu Chi) sedang menuntun Jahudin yang datang sendiri untuk mengambil beras meski tidak dapat melihat.

 

 

 

 

 

 

Sundari yang ditemui kelelahan di jalan karena menggendong beras, Sundari tidak punya uang untuk membayar ojek.

 

 

 

 

 

Pembersihan Kali Angke dimulai pada tahun 2002, setelah banjir besar melanda Jakarta. Saat itu niat Tzu Chi untuk membantu para warga bantaran Kali Angke mendapat kehidupan yang layak berpadu dengan harapan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso untuk melakukan Program Kali Bersih (Prokasih). Sejak saat itu, pemindahan sebagian warga bantaran Kali Angke ke Perumahan Cinta Kasih dan pelebaran Kali Angke pun dilakukan, dan sejak itu pula setiap tahun diselenggarakan Festival Perahu Naga di kali ini.

Tahun ini untuk keempat kalinya festival tersebut digelar. Selain lomba perahu naga yang diikuti oleh Yayasan Buddha Tzu Chi dan 4 kecamatan binaan pemerintah DKI Jakarta, juga terdapat lomba perahu hias, pembagian beras cinta kasih, dan panggung hiburan. Seluruh warga yang tinggal di sepanjang kali telah menantikan berlangsungnya kegiatan ini sejak menjelang siang.

Waktu sudah menunjukkan pukul 15.30 saat Sutiyoso yang akrab dipanggil ’Bang Yos’ ini akhirnya tiba. Tepat sebelum beliau tiba, beberapa kapal pengangkut sampah masih sibuk berkeliling, dan ’memancing’ sampah-sampah yang mengalir di sungai dengan jaring. Kapal ini cukup memiliki andil untuk menjaga agar air sungai tetap bersih. Mungkin besok atau hari-hari berikutnya, air sungai tidak akan sebersih hari ini, tapi setidaknya sehari dalam setahun, seluruh mata di Kotamadya Jakarta Utara memperhatikan kali ini.

Enam buah kapal sudah siaga, 22 orang pendayung seolah sudah tak sabar untuk segera berpacu. Keenam peserta ini berasal dari warga Perumahan Cinta Kasih Cengkareng, Perumahan Cinta Kasih Muara Angke, Kecamatan Koja, Kecamatan Tanjung Priok, Kecamatan Kelapa Gading, dan Kecamatan Cilincing. Lomba perahu dibagi 3 kali, masing-masing untuk dua buah perahu. Begitu pistol ditembakkan, para pendayung segera mengayuh sekuat tenaga menelusuri 400 meter lintasan dari tanda start hingga finish. Di kali yang kini lebarnya 45 meter ini, peserta cukup leluasa menggerakkan perahunya ke kiri ataupun kanan.

Para warga yang berkerumun di kanan kiri Kali pun semakin banyak.
Di belakang perahu yang berlomba, bang Yos dan istri menaiki perahu mesin bersama Sugianto Kusuma, Wakil Ketua Tzu Chi Indonesia. Di belakang mereka, perahu hias yang mengikuti festival pun mengiringi. Arak-arakan di atas air ini terus melaju hingga tiba di panggung acara. Di sana dilakukan penyerahan secara simbolis bantuan tempat sampah dan kamar mandi umum dari Tzu Chi Indonesia. Dalam sambutannya, bang Yos menyampaikan terima kasih kepada Tzu Chi yang selama 3 tahun ini secara konsisten memperhatikan kebersihan Kali Angke. ”Agar kali kita bisa bersih dan bisa untuk transportasi air adalah cita-cita saya,” kata bang Yos. Ia juga terus berpesan agar warga tidak membuang sampah di kali. Peringatannya ini cukup bersinergi dengan kenyataan bahwa sejak setahun terakhir pemerintah telah menyediakan berbagai sarana-prasarana kebersihan di daerah tersebut.

Menjelang selesainya acara, dilakukan penanaman 500 pohon trembesi di area pinggir Kali Angke sebagai upaya penghijauan. Relawan Tzu Chi dari berbagai daerah yang langsung datang setelah mengikuti pengukuhan relawan biru-putih di RSKB Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng ikut turun menanam pohon. Ini memberi pemandangan yang indah, latar tanah berwarna coklat dengan pohon kecil berwarna hijau, ditambah warna seragam biru dan putih. Kemeriahan hari ini ditutup dengan pengumuman pemenang lomba, warga Perumahan Cinta Kasih Muara Angke meraih juara 3, sedang warga Perumahan Cinta Kasih Cengkareng meraih juara harapan 2.

Petugas kebersihan kali sibuk menjaring sampah sebelum Gubenur DKI Jakarta Sutiyoso tiba di tempat acara.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Warga Perumahan Cinta Kasih Cengkareng berpacu untuk mendapatkan waktu tempuh terpendek dalam Festival Perahu Naga di Kali Angke.

 

Artikel dibaca sebanyak : 1136 kali


Berita Terkait


Gereja Milik Bersama di Desa Dofyo Wafor Biak

20 November 2019

Rumah Baru Nenek Aisyah

19 November 2019

Doa dan Harapan di Rumah yang Baru

18 November 2019

Membangun Harapan di Rumah yang Lebih Baik

18 November 2019

Membangkitkan Semangat Warga Korban Kebakaran

14 November 2019


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Giat menanam kebajikan akan menghapus malapetaka. Menyucikan hati sendiri akan mendatangkan keselamatan dan kesejahteraan.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat