Senin, 16 Desember 2019
Indonesia | English

Seribu Cinta Untuk Kepulauan Seribu

11 Juni 2008 Jurnalis : Sutar Soemithra, Fotografer : Sutar Soemithra

 
foto

Seorang kuli angkut mengangkut karung-karung beras warga Pulau Pramuka yang baru saja menerima pembagian beras cinta kasih di Pulau Panggang, Kep. Seribu.

Pukul 7 pagi, sebuah kapal cepat meninggalkan dermaga Ancol, Jakarta menuju Kepulauan Seribu yang berjarak sekitar 45 km di utara Jakarta. Kapal tersebut ditumpangi oleh 13 relawan Tzu Chi. Perjalanan laut ditempuh selama 1,5 jam. Kami disambut oleh tetabuhan rebana yang melantunkan lagu-lagu selamat datang dan warga masyarakat yang berbaris di sepanjang jalan dari dermaga menuju kantor Kelurahan Pulau Panggang.

Namanya memang Kepulauan Seribu, namun gugusan kepulauan tersebut hanya terdiri dari 105 pulau yang terbagi dalam 4 kecamatan dan dihuni sekitar 20 ribu jiwa yang sebagian besar tersebar dalam 6 pulau utama: Pulau Pramuka, Pulau Panggang, Pulau Kelapa, Pulau Tidung, Pulau Pari, dan Pulau Untung Jawa. Total luas keseluruhan wilayahnya kurang lebih hampir 11 kali luas daratan Jakarta, yaitu luas daratan mencapai 897.71 hektar dan luas perairan mencapai 6.997,50 km2. Sejak tahun 2001, Kepulauan Seribu yang semula termasuk dalam kotamadya Jakarta Utara berubah status menjadi Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu dan terbagi menjadi 2 kecamatan, yaitu Kepulauan Seribu Utara dan Kepulauan Seribu Selatan. Nelayan adalah mata pencaharian utama mereka.

Menyeberang Pulau untuk Menerima Bantuan
Orang-orang mulai mendatangi kantor Kelurahan Panggang sejak pukul 8 pagi untuk mendapatkan pembagian beras cinta kasih Tzu Chi. Kegiatan sosial ini telah dilakukan beberapa kali selama masa peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional tahun 2008. Dalam kegiatan kali ini, Tzu Chi membagikan 1.050 paket beras cinta kasih.

foto  foto

Ket : - Dandim 0502/Jakarta Utara, Sulaeman Agusta, menyerahkan bantuan beras kepada salah seorang warga
           Pulau Panggang. (kiri)
         - Beras cinta kasih dibawa dengan gerobak menelusuri gang-gang sempit
           Pulau Panggang yang memiliki penduduk terpadat di dunia jika dilihat dari rasio perbandingan luas wilayah
           dengan kepadatan penduduknya. (kanan)

Usai menerima beras, relawan membantu penerima bantuan memanggul beras –kebanyakan penerima bantuan adalah ibu-ibu– dan menaruhnya di pintu keluar yaitu di sebuah gang yang tidak terlalu lebar. Saya melihat seorang ibu berbaju kuning kemerahan keluar dari tempat pengambilan beras sambil digandeng tangannya oleh relawan yang memanggulkan berasnya. Lalu beras itu diletakkan di salah satu sisi gang. Ibu berumur 63 tahun tersebut akrab dipanggil “Uwa” oleh tetangga-tetangganya. Ia mengeluh dan memperlihatkan ekspresi muka kepayahan sambil mengerjapkan mata. Mungkin ikut antrian di bawah matahari yang mulai terik adalah penyebabnya.

Perempuan bernama asli Masnah tersebut pun segera istirahat dan beras cinta kasih 20 kg yang baru diterimanya, ia duduki. Salah seorang tetangganya kemudian menghampirinya dan menitipkan sekarung beras padanya. “Mau cari gerobak,” kata tetangganya yang sambil menggendong anaknya itu. Tak lama, gerobak pun datang. Suaminya, Baharuddin dan anak perempuannya juga menghampirinya. Penarik gerobak itu pun segera menaruh kantung beras Uwa dan lainnya ke dalam gerobak. Menyusuri gang-gang Pulau Panggang yang berpenghuni padat, gerobak tersebut bergerak menuju dermaga. Ternyata Uwa bukan warga Pulau Panggang, melainkan dari Pulau Pramuka yang letaknya tidak terlalu jauh. Usai membayar gerobak sebesar Rp 1.000,-, Uwa dan tetangga-tetangganya beserta karung beras masing-masing segera dibawa oleh ojek perahu. Saya pun tidak mau ketinggalan.

Saya duduk di ujung depan perahu sambil sesekali membidik wajah Uwa dan penumpang lain dengan kamera Nikon D70 yang saya bawa. Ketika perahu agak miring, saya sejenak menghentikan aksi saya. Saya sih tidak terlalu takut tercebur ke laut, namun saya lebih mengkhawatirkan kamera dan lensa tele di tas saya. Sejauh mata memandang, kesan pertama yang ditangkap mata bukanlah keindahan laut beserta gugusan pulau-pulau, melainkan rasa silau. Keindahan Kepulauan Seribu pada tengah hari seperti itu seolah hilang ditelan cahaya matahari yang bercampur dengan udara laut. Mata terasa pedih jika harus berlama-lama melihat ke arah cakrawala. Tidak mengherankan jika banyak warga Kepulauan Seribu yang mengalami gangguan mata. Matahari yang terik dan uap air laut yang asin adalah kombinasi yang pengaruhnya tidak bagus untuk mata.

foto  foto

Ket : - Relawan Tzu Chi membantu penerima bantuan yang lanjut usia memanggul beras. Dengan bantuan beras
           20 kg ini, semoga kehidupan warga yang rata-rata nelayan ini dapat diringankan. (kiri)
         - Tangan Uwa (kanan) digandeng relawan yang memanggulkan berasnya ketika meninggalkan tempat
           pembagian beras. (kanan)

Tiba di dermaga, seorang kuli angkut yang membawa gerobak telah siap menunggu. Karung-karung beras pun kemudian kembali berpindah ke atas gerobak setelah membayar ongkos ojek perahu yang cukup murah, Rp 3.000,- per orang. Penduduk di Pulau Pramuka tidak sepadat Pulau Panggang sehingga gang-gang pun lebih lebar. Di Pulau Pramuka inilah roda pemerintahan Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu dijalankan.

Menjadi Nelayan Demi Masa Depan Anak
Uwa dan suaminya tinggal bersama salah seorang anak perempuannya dan menantunya, Saiful (37) yang telah memberinya 4 cucu. Ketika saya berkunjung ke rumahnya, Uwa langsung masuk ke kamar untuk istirahat, dan saya ditemani oleh Baharuddin dan Saiful. Dinding rumahnya tidak diplester. Tidak ada meja kursi tamu di ruang tamu sehingga kami pun duduk di lantai. “Beginilah rumah nelayan,” Saiful membuka obrolan. Saya sesekali melayangkan pandangan mengamati isi rumahnya.

Saiful seminggu lalu baru saja pulang setelah melaut hingga Indramayu, Jawa Barat. Saat ini ia sedang istirahat terlebih dahulu, paling melaut hanya di sekitar Kepulauan Seribu. Jika sedang melaut, ia bersama-sama sekitar 18 orang temannya bisa meninggalkan rumah hingga 1 atau 2 bulan. Meskipun dengan perahu motor yang sederhana, daerah yang mereka singgahi bisa hingga ke Sumatera. Menurut Saiful, penghasilan yang ia peroleh dari menjadi nelayan tidak menentu, tergantung jumlah tangkapan. Saat ini jumlah tangkapan yang ia peroleh sedang tidak terlalu banyak karena sedang musim “Timur” (kemarau). Tangkapan banyak terjadi jika musim “Barat” (hujan).

foto  foto

Ket : - Warga Pulau Pramuka harus menaiki ojek kapal untuk mengambil beras di Pulau Panggang. Dengan tarif
           Rp 3.000,- para warga berpindah dari pulau ke pulau. (kiri)
         - Selain pembagian beras, warga Kepulauan Seribu juga mendapatkan pengobatan gratis yang diadakan
           organisasi Umat Buddha di Indonesia. Kegiatan sosial ini diselenggarakan dalam rangka 100 tahun
           Kebangkitan Nasional. (kanan)

“Kita memperjuangkan masa depan anak. Selagi badan sehat bisa bekerja, ayo ke laut!” ucap Saiful mantap. Ia tidak ingin 4 anaknya bernasib sama seperti dirinya yang putus sekolah di bangku kelas 2 SMU dan kemudian terpaksa melaut, “Bapaknya nelayan masa anaknya nelayan juga?” Ia tidak mau seperti kebanyakan masyarakat Kepulauan Seribu sesama nelayan yang mudah menghabiskan uang karena besoknya memperoleh gantinya jika pergi melaut lagi. “Besok kan dapet lagi,” Saiful menirukan ucapan teman-temannya sesama nelayan tentang alasan mereka mudah menghabiskan uang hasil melaut.

Sebagai seorang nelayan, kondisi ekonomi Saiful tidak terlalu kekurangan karenanya ia tidak menerima bantuan beras dari Tzu Chi. Yang mendapat jatah adalah mertuanya yang telah pensiun sebagai nelayan sejak tahun 2001. “Banyak yayasan (yang bantu sembako) tapi (untuk) yatim piatu (dan) jompo. Tapi saya kaget (dengan pembagian beras Tzu Chi), semua didata,” kesan Saiful terhadap pembagian beras Tzu Chi.

 

Artikel dibaca sebanyak : 1132 kali


Berita Terkait


Mengobati Kerinduan Opa dan Oma

16 Desember 2019

Natal untuk Sahabat

13 Desember 2019

Mengenalkan Tzu Chi Melalui Kegiatan Donor Darah

12 Desember 2019

Sepenggal Kisah Wulandhari yang Merawat Nadia

11 Desember 2019

Sukacita Bersama Menyambut Natal di Makassar

11 Desember 2019


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Bila kita selalu berbaik hati, maka setiap hari adalah hari yang baik.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat