Sabtu, 19 Oktober 2019
Indonesia | English

Tak Ingin Menadahkan Tangan Terus

21 September 2008 Jurnalis : Himawan Susanto, Fotografer : Himawan Susanto, Roann

 
foto

"Bingkisan ini untuk Ibu, dan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1429 Hijriyah," tutur relawan Tzu Chi kepada seorang penerima bantuan khusus Tzu Chi yang menghadiri acara Buka Puasa Bersama Tzu Chi He Qi Barat dan Timur.

Sore itu, tanggal 21 September 2008, Dadi Somamiharja (67) dengan tatapan penuh perhatian mengikuti acara buka puasa bersama Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia He Qi Timur dan Barat. Ditemani sang istri, Masiah, dan kedua anaknya, Ikbal dan Ganjar, mereka serius mengikuti setiap acara yang ditampilkan.

Ia menderita diabetes sejak tahun 1992. Selama 10 tahun pula, ia bergelut mengobati penyakit itu. Pengobatan yang dilakukan pun tidak maksimal karena keterbatasan biaya. Tak hanya itu, ketidakakuratan informasi seputar tata cara pengobatan diabetes pun tak didapatkan dengan baik. Termasuk beberapa pantangan untuk tidak memakan buah kelengkeng, misalnya.

Di tahun 2007, ia pernah pingsan selama 4 hari. Ia pun dibawa ke Rumah Sakit Tarakan Jakarta Pusat dan Tangerang, namun karena ketiadaan tempat, maka ia pun dibawa ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Di sinilah, di awal tahun 2007, ia harus merelakan kaki kirinya diamputasi. Di sana, ia menjalani beberapa kali pengobatan, namun karena keterbatasan biaya, ia memutuskan untuk menghentikan proses pengobatan. Saat itu, ia harus menandatangani surat pengajuan penghentian proses penyembuhan karena ia sudah habis-habisan mencari uang untuk membiayai pengobatan dirinya. Dadi Somamiharja ini memiliki usaha bengkel elektronik. Ia juga mempunyai banyak anak buah, namun tak urung karena diabetes yang ia derita, kehidupan ekonominya juga terguncang. “Apapun yang bisa dijual, saya jual,” tuturnya.

foto  foto

Ket : - Dahulu Dadi menjadi penerima bantuan, kini ia telah membuktikan meski hanya memiliki sebuah kaki,
           ia tetap dapat melakukan kebajikan untuk orang lain. Dari yang tadinya dibantu kini menjadi yang membantu.
           Tak lagi menadahkan tangan meminta. (kiri)
         - Ie Lan Hoa menuangkan air minum kepada 2 undangan Buka Puasa Bersama Tzu Chi He Qi Timur
           dan Barat. (kanan)

Di bulan Juli 2007, salah satu anaknya mengalami kecelakaan di Sumur Bor, Cengkareng, Jakarta. Saat itulah, berkat pertolongan dari Kasminto –relawan Tzu Chi, anaknya berhasil dioperasi hingga kondisinya pulih kembali. Dari cerita anaknya pula, akhirnya relawan Tzu Chi mengetahui kondisi Dadi Somamiharja yang kakinya baru saja diamputasi dan tidak ada dana. Oleh Lulu –relawan Tzu Chi yang lain, ia dibawa ke Rumah Sakit Khusus Bedah Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng. Di sana ia menjalani pengobatan lebih lanjut, dan terbebas dari diabetes yang selama ini merongrongnya. Tak hanya itu, katarak yang dideritanya pun mendapatkan bantuan pengobatan dari Tzu Chi. “Jasa Tzu Chi sangat besar sekali. Tidak hanya mengobati diabetes dan katarak saya, namun juga membangkitkan semangat hidup saya,” ujarnya. “Rasa percaya diri saya pun timbul. Tzu Chi begitu menyentuh dari sisi kemanusiaan,” ungkapnya lebih lanjut. Selanjutnya, Dadi pun akan mengundurkan diri sebagai pasien kasus penerima bantuan.

foto  foto

Ket : - Para undangan Buka Puasa Bersama Tzu Chi He Qi Timur dan Barat sedang menyimak video tentang
           isyarat tangan para santri dan santriwati di Pondok Pesantren Nurul Iman, Parung, Bogor. (kiri)
         - Rita, anggota Tzu Ching Indonesia sedang menawarkan buah kurma kepada seorang ibu yang hadir
           bersama anaknya. Buah Kurma biasa dihidangkan pada saat berbuka di bulan Ramadan. (kanan)

“Saya tersinggung dalam hal positif, sampai kapan saya akan menadahkan tangan terus tanpa rasa untuk bangkit? Saya akan menjadi penyumbang untuk yayasan, walaupun relatif tidak besar,” kata Dadi yang juga menyatakan ia merasa malu karena masih banyak orang lain yang lebih membutuhkan daripada dirinya. Karena itu, sejak 6 bulan lalu ia telah bergabung menjadi relawan daur ulang Tzu Chi. Ia mengumpulkan plastik-plastik daur ulang dari beberapa pasien kasus yang ditangani bersama istrinya. Sampah daur ulang itu kemudian dikumpulkan dan diambil oleh relawan Tzu Chi lainnya untuk dibawa ke Pos Daur Ulang Tzu Chi Cengkareng. Tidak hanya itu, ia juga berperan aktif dalam program celengan bambu. Sejak 2 bulan lalu ia telah bergabung dengan barisan cinta kasih program celengan bambu Tzu Chi.

Sebelum mengenal Tzu Chi, ia telah memberikan pelatihan keterampilan elektronika kepada anak-anak tidak mampu. Telah banyak anak didiknya yang berhasil memiliki bengkel sendiri. Berbekal keterampilan itu, mereka banyak yang kembali ke kampung halaman dan hidup mandiri. “Sebelum mengenal Tzu Chi, saya sudah melakukan itu, apalagi sekarang setelah mengenal Tzu Chi. Hati saya bangga melihat anak didik saya berhasil,” ucap syukur meluncur dari bibir Dadi.

foto  foto

Ket : - Salah satu putra Enjah, salah seorang mantan penerima bantuan khusus Tzu Chi, memberikan sebuah
           celengan bambu kepada Lulu saat berbagi pengalaman hidupnya. (kiri)
         - Relawan Tzu Chi membungkuk dan mengucapkan terima kasih kepada para pasien dan keluarganya yang
           telah menerima bantuan dari Tzu Chi untuk menyambut datangnya hari raya Idul Fitri 1429 Hijriah. (kanan)

“Pak Dadi, kita tidak saja mengajarkan mereka keterampilan, namun juga gairah hidup untuk mandiri,” ujar Dadi menirukan ucapan yang dilontarkan Lulu kepadanya. Tidak saja Dadi, istrinya pun aktif membantu di Tzu Chi. Ia dengan penuh keikhlasan menemani para pasien kasus yang berobat di RSKB Cinta Kasih Tzu Chi, bahkan ia kadang sampai menginap. Namun, ia berpesan kepada istrinya, tidak boleh menerima pemberian uang, ikhlas. “Batin kita jadi tenang, hidup pun jadi sempurna. Kalau mau nyumbang nunggu kaya, kapan kayanya?” serunya menutup wawancara.

 

Artikel dibaca sebanyak : 960 kali


Berita Terkait


Memberikan Pendampingan Kekeluargaan

18 Oktober 2019

Mau Belanja sekaligus Beramal? Pekan Amal Tempatnya

17 Oktober 2019

Berjuang Bangkit Kembali

16 Oktober 2019

Kunjungan Kasih ke Kaliawi Pascakebakaran

16 Oktober 2019

Melestarikan Lingkungan sambil Mempraktikkan Dharma

15 Oktober 2019


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Kendala dalam mengatasi suatu permasalahan biasanya terletak pada "manusianya", bukan pada "masalahnya".

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat