Senin, 16 Desember 2019
Indonesia | English

Tetangga yang Baik

22 Juni 2008 Jurnalis : Himawan Susanto, Fotografer : Himawan Susanto

 
foto

Subur dan Husaein dengan penuh perhatian memeriksa setiap kupon dan data calon penerima beras cinta kasih.

Di samping kanan gedung kelurahan Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta Barat, 2 relawan Tzu Chi yang mengenakan rompi Tzu Chi tampak sedang menuliskan data-data yang diperoleh dari kelurahan di atas lembaran kupon beras Tzu Chi. Kedua relawan yang telah berusia lanjut ini terlihat kompak dan bersemangat untuk segera melakukan survei lapangan. Seraya menunggu kedatangan ketua RT 1 dan 2, mereka mengisi lembar-lembar kosong kupon survei.

 

Meski tak lagi muda, kedua relawan ini tetap bersemangat melakukan survei. Mereka adalah Subur (72) dan Husaein Laimena (62). Hal yang menarik dari kedua relawan ini adalah topi yang mereka kenakan sama, meski berbeda warna. “Saya dipinjamkan oleh Subur,” tutur Husaein. Mereka tinggal bertetangga di komplek Perumahan Bojong Indah, Jakarta. Perkenalan keduanya dengan Tzu Chi berkat sosialisasi dari Darwin (42), seorang relawan Tzu Chi yang dahulunya merupakan tetangga mereka. Meski kini Darwin tak lagi tinggal di Bojong Indah, komunikasi dan hubungan persaudaraan di antara mereka tetap terjalin akrab.

“Saya tahu Tzu Chi dari Darwin, sering juga nonton DAAI TV,” tutur Husaein. Menjadi relawan dalam survei pembagian kupon beras adalah pengalaman pertama bagi mereka. “Saya ikut dah seneng sekali. Kita khan mau berpengalaman,“ tutur Subur saat ditanya mengapa ia mau ikut survei ini. Cukup lama mereka menunggu kedatangan ketua RT yang akan mengantar mereka melakukan survei lapangan. Panasnya sinar matahari di siang hari mulai menyapa perjalanan survei itu. Saat ditanya apakah tidak lebih baik naik sepeda motor, kedua relawan ini menjawab, “Lebih baik jalan kaki saja, sudah biasa.”

foto  foto

Ket : - Husaein dengan serius mencatat dan memberikan kupon beras cinta kasih kepada warga yang memang
           layak memperoleh bantuan. (kiri)
         - Di manapun para penerima bantuan tinggal, relawan Tzu Chi tetap datang dan melihat langsung kondisi
           para penerima bantuan meski harus melewati lorong-lorong yang sempit. (kanan)

Untuk menuju ke RT 1 dan 2, mereka bersama Darwin dan seorang relawan Tzu Chi lainnya harus berjalan kaki sejauh 200 meter di bawah terik matahari. Di perbatasan antara RT 1 dan RT 2, Subur dan Husaein pun berpisah. Subur, Darwin dan Misah menuju RT 1, sedangkan Husaein, seorang relawan Tzu Chi dan ketua RT 2 menuju wilayah RT 2. Subur dengan perlahan namun pasti memasuki lorong demi lorong rumah yang ada di RT 1 RW 4 Rawa Buaya. Tinggal berhimpitan dalam sebuah keluarga besar adalah pemandangan umum di daerah ini. Bahkan ada sebuah keluarga yang tinggal hanya di sebuah kamar berukuran tidak lebih dari 3x4 meter.

Bikin terharu, kondisinya begitu ya, apalagi tadi ada yang suaminya meninggal,” kesan Subur saat menyaksikan kondisi masyarakat yang ia survei. ”Ayo pada turun, ini mau disurvei,” pinta Misan, ketua RT 1, kepada para penghuni rumah kontrakan yang tinggal di lantai atas. Itulah panggilan yang sering terdengar saat Ibu RT datang menghampiri rumah setiap penghuni. Survei pembagian kupon beras ini dilakukan oleh relawan Tzu Chi He Qi (komunitas relawan) Barat kepada 4.053 keluarga di 75 RT yang tersebar di 6 RW Kelurahan Rawa Buaya.

foto  foto

Ket : - Relawan dokumentasi Tzu Chi dengan segenap hati dan penuh ketulusan mendokumentasikan setiap
           kegiatan Tzu Chi. (kiri)
         - Satu demi satu kepala keluarga yang menghuni sebuah rumah kontrakan dipanggil dan disurvei oleh
           relawan Tzu Chi. (kanan)

Dari mulut ke mulut, cinta kasih Tzu Chi perlahan menyebar ke setiap orang. Seperti yang dapat kita lihat dan contoh dari Darwin yang berhasil mengajak Husaein dan Subur bersama-sama menebarkan cinta kasih kepada sesama. Dari survei pembagian beras cinta kasih pun, Husaein dan Subur mendapatkan pengalaman dan pelajaran bahwa memiliki tetangga yang baik adalah sebuah berkah terindah dalam hidup.

 

Artikel dibaca sebanyak : 865 kali


Berita Terkait


Mengobati Kerinduan Opa dan Oma

16 Desember 2019

Natal untuk Sahabat

13 Desember 2019

Mengenalkan Tzu Chi Melalui Kegiatan Donor Darah

12 Desember 2019

Sepenggal Kisah Wulandhari yang Merawat Nadia

11 Desember 2019

Sukacita Bersama Menyambut Natal di Makassar

11 Desember 2019


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Jangan takut terlambat, yang seharusnya ditakuti adalah hanya diam di tempat.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat