Selasa, 24 Oktober 2017
Indonesia | English

Ceramah Master Cheng Yen: Mempertahankan Sumpah dan Ikrar untuk Selamanya

“Kami bersumpah! Saya menyatakan dengan tulus bahwa saya akan mendedikasikan hidup saya untuk melayani umat manusia. Di dunia yang penuh Lima Kekeruhan ini, kami berikrar untuk mengikuti teladan, tidak melupakan sumpah kami, dan menciptakan Tanah Suci di dunia.”

Saya sangat gembira melihat para Bodhisatwa dari seluruh dunia berkumpul di Hualien. Saya juga sangat bersyukur kepada Kepala RS Chien dari RS Tzu Chi Taichung dan timnya yang bertanggung jawab sebagai panitia kali ini.

Tema konferensi tahun ini adalah “Sumpah 2.500 Tahun”. Ajaran Buddha sekitar 2.500 tahun yang lalu tentang tubuh manusia dan alam semesta telah menginspirasi orang-orang untuk menapaki Jalan Bodhisatwa. Mereka bergabung dengan Tzu Chi karena memiliki jalinan jodoh dengan Buddha. Mereka juga berikrar melenyapkan penderitaan hingga 2.500 tahun yang akan datang. Karena itulah, mereka menggunakan tema “Sumpah 2.500 Tahun”.

Para kepala RS di enam RS kita sungguh-sungguh menerapkan nilai budaya humanis dalam misi kesehatan. Ini bagai perpaduan suara lonceng dan genderang yang menghasilkan melodi yang indah. Selain itu, gerakan tubuh mereka juga menunjukkan keindahan dan kekuatan pelatihan. Saya sangat tersentuh. Ini semua merupakan kekuatan cinta kasih.

doc tzu chi

Berlatih sikap jongkok merupakan latihan yang cukup berat bagi kaki, tetapi semua orang berlatih dengan gembira. Mereka berbagi dengan saya bahwa ada yang kakinya terluka karena melakukan gerakan itu, tetapi saat yang lain memberitahunya untuk tidak mengikuti pementasan tahun depan, dia berkata, “Tidak, tidak, saya masih bisa melakukannya.” Dia bersumbangsih dengan sukarela.

Selama empat hingga lima hari ini, Konferensi Tahunan TIMA penuh dengan nilai budaya humanis. Dua hari yang lalu, saya sangat terkesan mendengar kata-kata Rektor Wang yang sangat dalam. Beliau bisa memadukan ajaran Buddha dengan ilmu pengetahuan, filsafat, fisiologi, dan ilmu kehidupan. Saya sangat terkesan.

Para peserta Konferensi Tahunan TIMA bisa mempelajari banyak hal. Baik memahami kata-kata beliau secara langsung maupun melalui penerjemahan, semuanya merasa sangat gembira karena bisa menambah wawasan.

Kemarin, saya melihat putra dr. Meza naik ke atas panggung untuk berbagi pengalaman. Meski dr. Meza telah meninggal dunia, tetapi istri dan anaknya tetap meneruskan semangatnya. Keluarganya akan tetap kembali ke Taiwan untuk mengikuti konferensi setiap tahun. Kemarin sore, ada seorang dokter muda yang berkata bahwa kali ini, dia bukan hanya mempelajari keterampilan medis, tetapi yang terpenting, dia juga mempelajari harus bersikap bagaimana saat berinteraksi dengan pasien. Mereka bisa memperluas pandangan mereka.

doc tzu chi

Dengan tekad melenyapkan penderitaan, insan Tzu Chi menjangkau semua makhluk yang menderita. Mereka mendedikasikan hidup mereka untuk memahami penderitaan di dunia dan bersumbangsih bagi orang yang membutuhkan. Ini sungguh membuat orang sangat tersentuh dan bersyukur.

Kita juga melihat para Bodhisatwa dari RS Fuding. Selama belasan tahun ini, insan Tzu Chi menjangkau mereka dan berbagi semangat budaya humanis dengan mereka. Setelah belasan tahun, kini kita bisa melihat nilai budaya humanis diterapkan di sana. Dalam acara Pemberkahan Akhir Tahun, Kepala RS Li memimpin para staf RS berpartisipasi dalam pementasan adaptasi Sutra. Kekompakan mereka membuat saya sangat terkesan. Lihatlah, RS Fuding telah menerapkan nilai budaya humanis dan mengikuti langkah kita dengan erat. Selain itu, mereka juga mengadakan kamp budaya humanis untuk staf baru. Lihatlah, Kepala RS Li berjalan di depan dengan membawa makanan dan berlutut di depan para staf baru. Kepala RS Li menginspirasi para staf dengan memberikan teladan. Saat staf baru datang, beliau selalu melatih dan menginspirasi mereka dengan cara seperti ini.

“Lewat pelatihan, mereka menjadi lebih rendah hati dan penuh cinta kasih. Ini merupakan perubahan terbesar mereka. Dokter bukan hanya suatu profesi, tetapi juga merupakan salah satu jalan untuk bersumbangsih bagi pasien,” ucap Li Guixin, Kepala RS Fuding.

“Pasien adalah guru bagi kita dan kita harus memperlakukannya bagai keluarga. Kelak, saat menghadapi pasien, saya akan berpikir di posisi mereka dan akan lebih sabar dalam menangani hal-hal yang berkaitan dengan pasien,” imbuh Huang Jing, dokter di RS Fuding.

“Sebagai seorang perawat, kelak saya akan lebih sabar saat menghadapi pasien dan keluarga pasien serta melayani mereka dengan senyuman,” kata Ding Zixing, perawat di RS Fuding.

“Kelak saya akan lebih memperhatikan kondisi pasien. Selain mengobati pasien, kita juga harus memperhatikan kondisi keluarga pasien,” tambah Wang Rudai, yang juga dokter di RS Fuding.

doc tzu chi

Setelah masuk ke rumah sakit ini, pelajaran pertama yang mereka dapatkan adalah semangat budaya humanis Tzu Chi dan bagaimana menjadi seorang relawan. Kemarin, saya mendengar bahwa ada banyak di antara mereka yang telah dilantik menjadi relawan Tzu Chi.

Di sana, yang berikrar menjadi relawan untuk melakukan kunjungan kasih dan survei kasus ke wilayah pegunungan dan pedesaan telah melampaui 300 orang. Kemarin, mereka memberi tahu saya bahwa terlalu banyak staf yang mendaftar sehingga mereka harus mencoret sebagian dari daftar. Saya memberi tahu mereka untuk tidak melakukannya karena perbuatan baik harus dilanjutkan. Namun, mereka berkata bahwa staf baru sangat ingin mendaftar. Saya berkata bahwa semakin banyak relawan, semakin banyak orang dan semakin luas wilayah yang bisa dijangkau.

Lihatlah betapa antusiasnya mereka mengembangkan cinta kasih mereka. Bagaimana bisa kita tidak mengagumi dan mengasihi mereka? Mereka sungguh membuat orang mengagumi dan mengasihi mereka. Selain itu, mereka juga mengikuti ceramah pagi saya. Kemarin, mereka memberi tahu saya bahwa mereka keluar rumah sekitar pukul 4 pagi untuk mendengar Dharma. Saya sungguh sangat kagum pada mereka. Apa pun yang insan Tzu Chi Taiwan capai, mereka juga bisa mencapainya. Inilah kekuatan cinta kasih, bisa bertumbuh dan berkembang.

Setiap orang memiliki hakikat kebuddhaan dan bisa mengembangkan kekuatan cinta kasih di mana pun berada. Kita harus percaya akan hal ini. Belakangan ini, saya mengulas tentang tiga alam. Benar, Buddha adalah guru bagi semua makhluk di tiga alam. Kita harus meyakini, menerima, dan mempraktikkan ajaran Buddha. Sumpah dari 2.500 tahun yang lalu terus diwariskan hingga kini.

Kini kita harus mempraktikkan Dharma untuk membawa kehangatan bagi dunia dan membawa manfaat bagi semua makhluk. Jika kita bisa mewariskan sumpah ini lagi, maka sumpah ini akan menjadi sumpah 5.000 tahun. Jadi, saya sangat bersyukur dan tersentuh.

Bersukacita melihat para Bodhisattva berkumpul di Hualien
Mempertahankan sumpah dan ikrar untuk selamanya
Terkesan melihat seorang rector memadukan Dharma dengan ilmu pengetahuan
Menginspirasi staf baru dengan menjadi teladan

Ceramah Master Cheng Yen tanggal 7 Oktober 2017

Sumber: Lentera Kehidupan - DAAI TV Indonesia, Penerjemah: Hendry, Karlena, Marlina

Ditayangkan tanggal 9 Oktober 2017

Artikel dibaca sebanyak : 109 kali


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Security Code
Seulas senyuman mampu menenteramkan hati yang cemas.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat