Selasa, 24 Oktober 2017
Indonesia | English

Ceramah Master Cheng Yen: Menjalankan Ikrar dengan Keyakinan yang Teguh

Beberapa hari ini, kita melihat banyak Bodhisatwa dari wilayah barat, utara, timur, selatan, dan tengah Tiongkok yang kembali ke Hualien. Mereka bersungguh-sungguh membangun tekad dan ikrar untuk menjadi Bodhisatwa dunia. Setiap orang membangun tekad untuk mewariskan ajaran Jing Si dan menyebarluaskan mazhab Tzu Chi.

Selama dua hingga tiga tahun ini, demi mengikuti pelatihan relawan, mereka harus mengatasi kesulitan waktu, ekonomi, dan tenaga. Relawan dari berbagai provinsi bersedia pergi ke kantor Tzu Chi untuk mengikuti pelatihan meski harus menempuh perjalanan jauh. Perjalanan untuk mengikuti pelatihan sebulan sekali menghabiskan waktu sehari lebih. Di dalam kereta, mereka menggenggam waktu untuk mendalami Dharma.

Setiap kali mendengar kabar dan melihat video tentang hal ini, saya sangat tersentuh. Singkat kata, di daratan Tiongkok yang luas itu, para relawan memiliki keyakinan yang teguh. Kita bisa melihat setiap relawan kita memiliki hati Bodhisatwa dan melakukan praktik Bodhisatwa.

doc tzu chi

“Saya bergabung dengan Tzu Chi dan akan terjun ke tengah masyarakat untuk membimbing semua makhluk. Inilah misi saya dalam hidup ini. Saya telah menanti untuk menjalin jodoh dengan Master selama 21 tahun. Karena itu, saya sangat menghargai jalinan jodoh ini. Kali ini, saya datang ke Taiwan untuk mengikuti persamuhan Dharma. Saya pasti telah menjalin jodoh yang mendalam dengan Master dari kehidupan ke kehidupan sehingga bisa datang ke sini. Sungguh, saya sangat bersyukur,” kata Zhu Yanqiu, Relawan Tzu Chi Guangzhou.

“Tahun ini, saya sudah berusia 80 tahun. Namun, karena saya telah memilih jalan ini, saya harus berpegang pada ajaran Buddha dan terjun ke tengah masyarakat untuk menjalankan misi Tzu Chi. Inilah misi saya. Sesungguhnya, kesehatan saya tidak baik. Saya telah mengenakan pelindung pinggang selama 40 tahun, tetapi saya tidak memedulikannya. Saat merasa sakit, saya berpikir tentang Master. Saya berpikir, dibandingkan dengan kerja keras dan kesulitan Master, rasa sakit saya bukan apa-apa,” imbuhnya.

“Pada tanggal 15 Maret 2013, saya mulai mendengar ceramah Master tentang Sutra Bunga Teratai. Saat itu, tidak ada satu kata pun yang saya pahami. Agar dapat memahaminya, saya mulai menonton Da Ai TV dan CD. Saya bersungguh hati mendengar ceramah Master. Kini, saya bisa memahami lebih dari 90% dari ceramah Master. Karena itu, saya merasa bahwa asalkan ada tekad, maka akan ada kekuatan,” kata Zhu Yanqiu.

doc tzu chi

“Seperti yang Master katakan, asalkan bersungguh hati, setiap orang bisa menjadi profesional. Kesungguhan hati sangatlah penting. Saya berharap setiap peserta kamp di sini dapat menghargai jalinan jodoh kita dengan Master. Kita harus menghirup keharuman Dharma. Yang saya pelajari di sini kali ini akan saya terapkan di tim Xieli saya karena saya adalah ketua Xieli. Saya ingin menjalankan misi sebaik mungkin,” tambahnya.

“Saya masih memiliki banyak ruang untuk memperbaiki diri. Saya berharap setiap mengikuti kamp di sini, saya bisa menyerap Dharma. Saya akan sangat menghargainya dan mempraktikkannya di komunitas, inilah ikrar saya. Saya berharap kita semua bisa mengemban misi dengan baik dan mengasihi yang Master kasihi. Inilah harapan saya,” pungkas Zhu Yanqiu.

Relawan Zhu Yanqiu berikrar untuk mewariskan ajaran Jing Si dan menyebarluaskan mazhab Tzu Chi. Meski sudah lanjut usia, tetapi tekadnya sangat teguh. Setelah mendengar Dharma, kita harus mempraktikkannya dalam keseharian. Memasuki istana welas asih seperti yang digambarkan dalam Sutra sangatlah sulit. Tanpa mencapai kebuddhaan, bagaimana bisa memasuki istana welas asih?

doc tzu chi

Sesungguhnya, Buddha mengajari kita bahwa hati kita adalah istana welas asih. Yang harus kita lakukan adalah menuju arah yang bajik, menjadikan hati Buddha sebagai hati sendiri, dan menyerap ajaran Buddha ke dalam hati. Setiap orang memiliki hakikat kebuddhaan. Pada dasarnya, setiap orang memiliki sifat hakiki yang sama dengan Buddha. Akan tetapi, kita memiliki banyak tabiat buruk serta dipenuhi noda dan kegelapan batin. Setiap orang memiliki tabiat buruk yang berbeda.

Tujuan dari pelatihan diri adalah melenyapkan tabiat buruk. Jika tidak, setiap orang memiliki hakikat kebuddhaan, apa lagi yang perlu dilatih? Kita melatih diri untuk memperbaiki temperamen. Di Tzu Chi, kita bisa menyadari dan melenyapkan tabiat buruk kita. Setelah memahami kebenaran, kita harus menghilangkan tabiat buruk kita.

Berhubung berkesempatan mendengar Dharma, kita harus menggunakan air Dharma untuk melenyapkan noda batin dan tabiat buruk kita. Jadi, dengan mempelajari Dharma, kita bisa melenyapkan tabiat buruk dan terjun ke tengah masyarakat dengan hati yang lapang. Inilah yang disebut istana welas asih.

Tanpa terjun ke tengah masyarakat, bagaimana kita bisa menemukan akar noda batin? Kita harus memutus noda batin dan mengubahnya menjadi kesadaran. Karena itu, kita semua harus bersungguh hati. Saya juga sangat bersyukur kepada para Bodhisatwa di Taiwan. Begitu relawan dari Tiongkok turun dari pesawat, relawan di Taiwan langsung menjemput mereka ke Hualien.

Demi menyambut para peserta kamp, relawan kita sudah melakukan persiapan beberapa hari sebelumnya. Setiap sudut dibersihkan hingga tidak ada setitik debu pun untuk menyambut saudara se-Dharma yang datang dari tempat yang jauh. Mereka melakukannya dengan penuh sukacita dan sukarela. Insan Tzu Chi di seluruh dunia bagaikan satu keluarga. Saya sangat tersentuh.

Insan Tzu Chi juga mengantarkan kehangatan ke berbagai tempat. Sebanyak 10.000 pasang sepatu dari Dominika telah dikirimkan ke Haiti.

“Saya sangat gembira melihat Tzu Chi berkunjung ke Haiti dan membawa sepatu untuk anak-anak di Haiti,” kata Pastor  Louessrent Frnas.

“Banyak murid yang tidak memiliki sepatu. Mereka masuk sekolah dengan bertelanjang kaki. Ini merupakan hadiah yang bagus untuk mereka,” ujar seorang relawan.

Insan Tzu Chi AS yang pergi ke Haiti tidak banyak, tetapi berkat pastor setempat, ada banyak anak muda yang membantu mengangkut barang bantuan. Kita bisa melihat bahwa barang bantuan telah tiba di Haiti. Pemandangan seperti ini sungguh membuat orang tersentuh dan terhibur. Kisah penuh kehangatan seperti ini sangatlah banyak.

Singkat kata, dengan kekuatan cinta kasih, kita bisa bersumbangsih seperti ini. Namun, kita juga bisa melihat banyak orang yang menderita. Setiap hari, saya mengulas tentang para pengungsi yang kehilangan tempat tinggal, korban bencana, warga kurang mampu, dan lain-lain. Sesungguhnya, asalkan setiap orang membangkitkan niat dan bersedia mengerahkan sedikit kekuatan, maka akan ada banyak orang yang tertolong.

Tekun mengikuti pelatihan meski harus menempuh perjalanan jauh
Mendalami ajaran kebenaran untuk melenyapkan kegelapan batin
Bersumbangsih dengan sukarela dan sukacita tanpa takut bekerja keras
Insan Tzu Chi bergerak untuk menyalurkan bantuan ke Haiti

Ceramah Master Cheng Yen tanggal 13 Juni 2017

Sumber: Lentera Kehidupan - DAAI TV Indonesia,

Penerjemah: Hendry, Karlena, Marlina

Ditayangkan tanggal 15 Juni 2017

Artikel dibaca sebanyak : 473 kali


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Security Code
Bertuturlah dengan kata yang baik, berpikirlah dengan niat yang baik, lakukanlah perbuatan yang baik.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat