Selasa, 24 Oktober 2017
Indonesia | English

Ceramah Master Cheng Yen: Menyucikan Hati dan Menciptakan Berkah untuk Melenyapkan Bencana

“Hujan yang akan turun beberapa hari ke depan berbeda dengan sebelumnya. Sebelumnya, hujan yang turun sangat deras, tetapi dalam waktu yang agak singkat. Namun, kali ini, hujan yang turun bukan hanya sangat deras, tetapi juga akan berlangsung selama berhari-hari. Area terbentuknya awan konvektif kuat mungkin akan berbeda-beda setiap hari.  Cuaca tak akan cerah kembali dalam waktu singkat. Selama seminggu ke depan, semua orang harus lebih berhati-hati,” kata Wu Wan-hua dari Biro Cuaca Pusat.

“Jangkauan hujan frontal kali ini lebih menyeluruh. Seluruh Taiwan, terlebih wilayah barat, mungkin akan terkena dampak hujan frontal dan angin monsun barat daya. Di wilayah barat Taiwan akan turun hujan deras. Tentu, di wilayah pegunungan juga mungkin akan turun hujan yang sangat deras,”  kata Hsu Chung-yi, Pemrakira cuaca Biro Cuaca Pusat.

Melihat siaran berita, saya sungguh merasa tidak tenang. Sekitar belasan hari yang lalu, baru dilanda bencana akibat hujan frontal. Saat itu, insan Tzu Chi segera membantu upaya pembersihan dan melakukan survei bencana. Namun, prakiraan cuaca kembali mengeluarkan peringatan hujan frontal sehingga orang-orang kembali meningkatkan kewaspadaan.

Insan Tzu Chi juga segera bergerak menuju wilayah pedesaan dan pegunungan untuk mencurahkan perhatian dan mengingatkan warga akan hal ini. Relawan kita juga melakukan upaya antisipasi agar keselamatan warga terjaga. Relawan kita sangat bersungguh hati. Saat ada yang membutuhkan, relawan kita segera bersumbangsih.

Relawan kita juga mengatasi berbagai kesulitan untuk melakukan antisipasi bencana guna menjaga keselamatan warga. Setiap kali melihat para Bodhisatwa dunia bersumbangsih di segala penjuru yang membutuhkan, saya merasa sangat tersentuh, tetapi juga sangat khawatir. Saya terus mengingatkan relawan kita untuk tetap menjaga keselamatan diri saat menolong orang yang membutuhkan.

doc tzu chi

Kita harus meningkatkan kewaspadaan. Saya sangat khawatir akan hujan frontal kali ini karena bisa mendatangkan curah hujan tinggi. Seluruh warga Taiwan, termasuk Penghu dan Kinmen, harus waspada dan melakukan antisipasi. Dengan bersikap waspada dan melakukan antisipasi, keselamatan akan terjaga. Sungguh, kita harus meningkatkan kewaspadaan dan melakukan antisipasi, baru bisa meminimalkan dampak bencana.

Saya sangat khawatir melihatnya. Karena itu, insan Tzu Chi kembali berkunjung ke wilayah pegunungan yang lebih rawan bencana untuk mengingatkan warga melakukan antisipasi dan menasihati mereka agar tidak memaksakan diri dan tidak keras kepala. Berhubung perubahan iklim sangat ekstrem, mereka harus bisa menerima.

Yang dimaksud dengan menerima di sini adalah menerima nasihat orang lain untuk berevakuasi ke tempat yang lebih aman. Dengan bersungguh hati, insan Tzu Chi bertindak secara nyata untuk mengingatkan warga.

doc tzu chi

Kita juga melihat TK Tzu Chi di Malaysia mendidik anak-anak dengan sangat baik. Saya sering memuji mereka. Pendidikan kehidupan di sana membuat anak-anak bisa memahami penderitaan di dunia ini. Agar anak-anak bisa menghargai berkah, mereka harus merasakan kesulitan dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, para guru berbagi kisah dengan mereka terlebih dahulu, lalu membuat mereka merasakan bagaimana rasanya bekerja untuk menjaga kelangsungan hidup.

Para guru berbagi dengan mereka bahwa hidup saya dan para bhiksuni di Griya Jing Si sangat sederhana. Dari dahulu hingga sekarang, kita harus bekerja untuk menjaga kelangsungan hidup. Agar anak-anak bisa menghargai air, mereka harus memikul air.

“Tidak boleh memboroskan air, harus hemat. Kakek Guru berkata bahwa jangan memboroskan air karena air sangat berharga.”

“Lelah sekali,” kata Ming Sheng-jie, seorang murid.

“Lalu, apa yang akan kamu lakukan?”

Saya tidak akan menyerah. kata Ming Sheng-jie.

“Air itu untuk kamu pakai sendiri?”

“Bukan, untuk kakak-kakak kelas saya,” tambah Ming Sheng-jie,.

“Saya tahu, karena untuk kakak-kakak kelas, maka kamu tidak menyerah.”

Anak-anak juga diajari untuk menghargai makanan. Para guru berbagi dengan mereka bahwa dahulu, para bhiksuni di Griya Jing Si hanya makan nasi dengan tahu yang diasinkan sebagai lauknya. Dengan begitu, mereka bisa memahami penderitaan di kala tidak punya makanan dan tidak akan memilih-milih makanan. Inilah pendidikan kehidupan di sana.

doc tzu chi

“Kita berharap murid dari berbagai tahapan usia bisa meneladani Master dan para guru di Griya Jing Si yang hidup tekun dan hemat agar mereka bisa hidup sederhana serta tidak berpola hidup konsumtif dan hanya memenuhi nafsu keinginan mereka,” ujar Shi Hui-li, seorang guru.

Kata Renungan Jing Si yang diajarkan pada mereka juga bisa diserap ke dalam hati karena pikiran mereka sangat murni dan mudah menyerap apa yang diajarkan. Asalkan orang yang mendidik bersungguh hati, maka anak-anak yang polos bisa menyerap semua didikan itu. Anak-anak di taman kanak-kanak bagaikan benih yang baru bertunas. Agar benih-benih ini bertumbuh subur, dibutuhkan tukang kebun untuk menanam benih di tanah yang sesuai dan menyiramkan air dalam jumlah yang pas.

Sistem pendidikan kita memberikan pendidikan di berbagai jenjang dari mereka kecil hingga dewasa. Selain menerima pendidikan di sekolah, anak-anak juga dibimbing untuk terjun ke tengah masyarakat. Setelah memahami Kata Renungan Jing Si, mereka juga berbagi dengan orang lain.

Apa yang akan kita lakukan hari ini?

“Menyebarkan…/ Kata Renungan Jing Si. Selamat pagi, Nyonya Bos. Kami adalah murid TK Cinta Kasih Tzu Chi. Bolehkah Anda memberi kami sedikit waktu? Kami ingin berbagi satu Kata Renungan Jing Si dengan Anda. Jangan meremehkan diri sendiri karena setiap orang memiliki potensi yang tak terhingga. Anda tahu arti dari kalimat ini?,” kata Dai Hong-le, seorang murid.

Mereka berbagi Kata Renungan Jing Si yang paling mereka sukai dan bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Mendengar perkataan anak-anak, warga sangat tersentuh. Anak-anak juga mengajak warga untuk berbuat baik dan mengembangkan cinta kasih.

“Kata Renungan Jing Si adalah kata-kata yang baik. Kita harus memperlihatkannya pada semua orang agar mereka menjadi orang baik dan Bumi tidak jatuh sakit,” kata Lin Kai-yu seorang  murid.

“Kamu ingin semua orang menjadi orang baik?/ Ya. Apa yang kamu pelajari darinya?

“Menghormati,” jawab Lin Kai-yu.

Bagaimana cara menghormati?

“Menghormati harus bersungguh hati. Kita tidak boleh mengganggu orang lain saat mereka sedang sibuk,” kata Lin Kai-yu, murid lainnya.

Lihatlah, sistem pendidikan kita membina seseorang dari kecil hingga dewasa. Kini, pendidikan seperti ini sangat dibutuhkan. Kini, ketidakselarasan unsur alam dan perubahan iklim sangat mengkhawatirkan. Ketidakselarasan unsur alam ditimbulkan oleh ketidakselarasan pikiran manusia. Karena itu, kita harus bersungguh-sungguh menyucikan hati dan menciptakan berkah.

Setelah hati manusia tersucikan, barulah kondisi iklim bisa kembali bersahabat dan unsur tanah, air, api, dan angin bisa kembali selaras. Segala sesuatu bergantung pada sebersit pikiran. Karena itu, kita harus menjaga pikiran dengan baik.

Mengingatkan warga untuk mengantisipasi bencana
Melakukan antisipasi bencana untuk meminimalkan dampak bencana
Mendidik anak-anak agar bisa memahami penderitaan
Menasihati orang-orang untuk berbuat baik dan menciptakan berkah

Ceramah Master Cheng Yen tanggal 14 Juni 2017

Sumber: Lentera Kehidupan - DAAI TV Indonesia,

Penerjemah: Hendry, Karlena, Marlina

Ditayangkan tanggal 16 Juni 2017

Artikel dibaca sebanyak : 275 kali


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Security Code
Penyakit dalam diri manusia, 30 persen adalah rasa sakit pada fisiknya, 70 persen lainnya adalah penderitaan batin.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat