Senin, 21 Oktober 2019
Indonesia | English

Ceramah Master Cheng Yen: Meredam Nafsu Keinginan dan Meningkatkan Kesadaran

Kondisi Bumi saat ini telah rusak dan tercemar akibat pandangan dan pikiran manusia. Semua ini tidak kita sadari. Setiap orang merusak alam dan mencemari udara secara tidak sadar. Baik polusi udara maupun kerusakan alam, semuanya merupakan tanggung jawab setiap orang yang hidup di Bumi ini karena setiap orang dari kita bergantung pada Bumi ini untuk hidup.

Tiada satu sumber daya pun yang bukan berasal dari alam. Tiada satu kehidupan pun yang tak bergantung pada alam untuk bertumbuh. Tubuh kita yang diberikan oleh orang tua ini juga hidup di alam. Setelah lahir, kita harus bergantung pada tanaman pangan yang alam sediakan. Sandang, pangan, dan papan yang dibutuhkan, tiada yang bukan berasal dari alam.

 

Jadi, kita harus senantiasa bersyukur karena alam dapat menghasilkan berbagai sumber daya untuk menyokong kehidupan kita. Jadi, kita harus bersyukur setiap hari. Sayangnya, langit yang luas, lautan yang biru, gunung-gunung yang hijau, serta aliran sungai yang indah, semuanya kini telah tercemar.

Kaum muda masa kini sulit untuk melihat sungai yang mengalir jernih. Pada zaman kami, air sungai tak pernah berhenti mengalir dari mata air di pegunungan hingga ke muara, indah sekali. Kini, yang kita lihat di pegunungan hanyalah sisa-sisa atau bekas-bekas aliran seperti jejak air mata di pipi manusia. Gunung tengah menangis.


Siapa yang tak merasa sedih? Lapisan udara telah berlubang. Kini, begitu turun hujan deras, akibat hilangnya fungsi konservasi di pegunungan, terjadilah tanah longsor. Dasar-dasar sungai semakin dangkal akibat endapan lumpur dan bebatuan. Jadi, sungai tak lagi seperti sungai karena semakin dangkal. Begitu volume aliran air meningkat, air sungai meluap dan menyebabkan bencana.

Selain itu, pencemaran juga sangat parah. Kini kita tahu bahwa kura-kura dan ikan paus juga telah dicelakai oleh sampah plastik. Apakah manusia dapat benar-benar membangkitkan welas asih? Lautan kini juga telah dipenuhi sampah sehingga airnya juga tercemar. Adakah manusia merenungkan hal ini? Manusia telah menyebabkan perubahan iklim ekstrem di Bumi ini sehingga bencana yang besar kerap terjadi.

 

Semua ini adalah bencana alam. Banyak orang masih belum sadar dan bertobat. Sebaliknya, batin mereka juga semakin sakit. Karena alam sudah tercemar, maka perlahan-lahan, pikiran manusia juga terpengaruh dan turut tercemar. Akibatnya, di dalam batin juga penuh sampah. Sampah batin adalah nafsu keinginan. Manusia hanya mengejar nafsu, kenikmatan, dan segala yang diinginkan. Mereka tidak memikirkan kondisi lingkungan di luar dan apa yang harus dilakukan. Mereka tidak memikirkan bagaimana kehidupan diri sendiri dan anak cucu kelak. Jadi, kaum muda masa kini sungguh harus meningkatkan kewaspadaan.


Perubahan iklim sudah semakin ekstrem. Berbagai bencana semakin kerap terjadi. Kita harus tahu bahwa semua ini adalah akibat dari karma kolektif semua makhluk. Karma kolektif ini terus terpupuk sehingga menghasilkan kekuatan yang besar, bagaikan segumpal awan hitam yang datang dan membuat langit gelap. Awan hitam yang terus menyebar menandakan bahwa volume air hujan

sudah terkumpul dan siap turun ke Bumi. Saat awan hitam menggumpal dan volume air mencapai titik tertentu, maka hujan deras akan turun dan bisa menimbulkan bencana. Karena itu, kita harus selalu waspada.

 

Dengan bantuan teknologi, kita hendaknya melihat kondisi di berbagai belahan dunia. Kita harus mempelajari prinsip kebenaran agar memahami kondisi dunia dan memiliki cara untuk membantu orang-orang yang membutuhkan. Untuk menurunkan kadar polusi di dunia, setiap orang harus memikul tanggung jawab. Diri sendiri harus sadar.

Di dalam ajaran Buddha, ini disebut cinta kasih berkesadaran. Kita menjadi manusia yang sadar dan memiliki cinta kasih. Untuk itu, kita harus menyelami kebenaran. Manusia tak luput dari karma kolektif yang terpupuk sejak masa lalu hingga kini. Jika saat ini kita tak kunjung sadar, maka karma ini akan terus berlanjut hingga masa depan.

 

Apakah kita akan menciptakan berkah ataukah menciptakan malapetaka, semuanya bergantung pada pikiran. Jadi, sebagai manusia, kita tidak boleh tidak sadar. Berhubung kini alam telah rusak dan kita semua hidup di kolong langit yang sama, maka kita semua harus sadar. Kekhawatiran segelintir orang saja tidak akan ada gunanya. Benar, segalanya terakumulasi seiring waktu. Apakah kita akan menciptakan berkah ataukah menciptakan malapetaka, semua bergantung pada pikiran kita.

 

Langit dan bumi telah tercemar

Rusaknya fungsi konservasi menyebabkan tanah longsor

Karma buruk kolektif mendatangkan bencana

Meredam nafsu keinginan dan meningkatkan kesadaran

 

Ceramah Master Cheng Yen tanggal 05 April 2019

Sumber: Lentera Kehidupan - DAAI TV Indonesia, Penerjemah: Hendry, Karlena, Marlina, Lilie

Ditayangkan tanggal 07 April 2019

Artikel dibaca sebanyak : 156 kali


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Bila sewaktu menyumbangkan tenaga kita memperoleh kegembiraan, inilah yang disebut "rela memberi dengan sukacita".

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat