Ceramah Master Cheng Yen: Tekun Menyelami Prinsip Kebenaran

Master Cheng Yen bangun sekitar pukul tiga pagi untuk membabarkan Dharma. Master menggenggam setiap detik dan menit. Jadi, kami berpikir bahwa kami juga harus menggenggam waktu,” kata Luo Song Jiao, relawan Tzu Chi Malaysia.

“Sesungguhnya, Bibi Song Jiao membuat saya sangat kagum. Dia bersiteguh mendengar Dharma. Tidak peduli cuaca baik atau buruk, dia selalu bisa bangun pagi untuk mendengar Dharma,” kata Liu Mu Lan, relawan lainnya.

“Banyak huruf yang tidak saya kenal. Namun, setelah saya melihatnya, saat Master Cheng Yen mengulasnya lagi, saya bisa mengenalinya. Saya bisa mengingatnya dengan membacanya beberapa kali. Kami membuat catatan tentang ajaran Master. Dengan begitu, kita tidak menyia-nyiakan ajaran yang Master Cheng Yen bagikan,” kata Luo Song Jiao.


Menyelami prinsip kebenaran merupakan tujuan hidup yang sangat penting. Konfusius berkata, “Jika mendengar kebenaran di pagi hari, maka tidak akan ada penyesalan meski meninggal dunia di malam hari.” Sungguh, Konfusius yang kaya akan pengetahuan dan kebijaksanaan sangat memandang penting kebenaran. Selama hidupnya, beliau berkeliling untuk memberikan ceramah. Beliau mengejar kebenaran yang tiada ujung dan tidak pernah berhenti membagikan pengetahuannya. Beliau juga berkata bahwa kebenaran harus didalami. Jika bisa mempelajari kebenaran di pagi hari, maka meski meninggal dunia di malam hari, beliau tidak akan menyesal. Demikianlah orang yang bijaksana. Beliau sangat memandang penting kebenaran. Meski seseorang sangat panjang umur, tetapi jika dia tidak berkesempatan mendengar Dharma dan memahami kebenaran, maka hidupnya akan sia-sia. Ini sungguh disayangkan.

“Saya menyadari bahwa segala hal dalam hidup ini harus tekun dipraktikkan dengan hati yang tenang agar bisa memperoleh suatu pencapaian,” kata James Fung, relawan Tzu Chi.

“Saya tidak pernah merasakan konsentrasi seperti ini. Saya bisa sepenuh hati berkonsentrasi pada makna setiap kalimat dalam Sutra. Saat melafalkan isi Sutra, saya bisa sepenuh hati berkonsentrasi pada maknanya,” kata Chen Lai Shun, relawan Tzu Chi.

“Master pernah berkata bahwa kita harus mendengar, mempraktikkan, dan menyebarkan Dharma. Namun, saya belum menyebarkannya karena daya ingat saya tidak baik. Meski demikian, Dharma harus dipraktikkan di tengah masyarakat,” kata Zhou Lin Xian, relawan Tzu Chi lainnya. 

 

Jadi, kita harus bersungguh hati memahami prinsip kebenaran. Setelah mendengar ajaran Mahayana, kita harus membangun tekad seteguh tekad Bodhisatwa Ksitigarbha. Ladang batin kita bagaikan bumi. Di dalam bumi terkandung banyak sumber daya alam. Sumber daya alam ini adalah pusaka yang terkandung di dalam bumi. Dengan tekad seteguh tekad Bodhisatwa Ksitigarbha, kita bisa menggali pusaka yang terkandung di dalam ladang batin kita. Buddha memberi tahu kita bahwa setiap orang memiliki hakikat Kebuddhaan.

Sesungguhnya, setiap orang memiliki ladang batin yang sangat kaya. Karena itu, kita harus bersungguh hati menggarap ladang batin kita. Bukan hanya permukaannya, kita harus menggali dalam-dalam. Jika mata air spiritual kita mengalir maka secara alami kita akan memahami kebenaran. Buddha menunjukkan arah pada kita. Jadi, kita harus sepenuh hati menerimanya dan tekun melatih diri. Kita harus menggenggam waktu dan memanfaatkan kehidupan dengan baik. Kita tidak tahu berapa panjang usia kita dan berapa waktu yang tersisa bagi kita untuk mencari tujuan hidup. Kita tidak tahu. Contohnya dr. Tsai. Sebelumnya, dia tinggal di Amerika Serikat. Akhirnya, berhubung masih bisa bekerja, dia pun memutuskan untuk kembali ke Taiwan dan mendedikasikan diri di RS Tzu Chi Yuli. Dia melakukannya selama tujuh hingga delapan tahun.


“Berhubung tahu bahwa rumah sakit kita kekurangan dokter gigi, dr. Tsai pun pulang dari Amerika Serikat untuk membantu di sini. Pemeliharaan kesehatan gigi anak-anak di sini perlu ditingkatkan. Banyak anak yang menderita karies gigi. dr. Tsai meluangkan waktu untuk mengunjungi sekolah-sekolah dan desa-desa untuk memberikan penyuluhan kesehatan kepada anak-anak. dr. Tsai telah melakukan apa yang Master katakan. Dia telah mengembangkan nilai hidupnya semaksimal mungkin,” kata Chang Yu Lin, Kepala Rumah Sakit Tzu Chi Yuli.

Kali ini, saudara-saudara dr. Tsai kembali dari Amerika Serikat. Mereka datang menemui saya dan berkata,  “Dia terlihat sangat agung, damai, dan gembira. Kami semua merasa tenang. Kami sangat bersyukur kami sekeluarga adalah insan Tzu Chi,” kata anggota keluarga dr. Tsai.


Benar, mereka semua adalah insan Tzu Chi. Saat masih hidup, dr. Tsai tahu arah tujuannya dan menapaki Jalan Bodhisatwa. Dia memiliki tujuan hidup. Dia juga menjadi Silent Mentor. Saat masih hidup, dia mendedikasikan diri untuk membawa manfaat bagi orang banyak. Setelah meninggal dunia, dia menyumbangkan tubuhnya demi membawa manfaat besar bagi pembedahan dan penelitian medis. bagi pembedahan dan penelitian medis. Inilah kehidupan yang paling bijaksana.Usai upacara untuk mengenang Silent Mentor, para anggota keluarga Silent Mentor kembali ke Griya Jing Si.

Di antara mereka, juga ada orang tua murid saya, De Zhi, dan keluarga besarnya. Senyuman menghiasi wajah orang tuanya. Ibunya berkata, “Saya sangat tenang. Hingga saat terakhir, dia masih tersenyum. Dia terlihat sangat baik dan agung.”

Saya berkata, “Benar. Saat akan meninggalkan saya dan pergi ke rumah sakit, dia berdiri dan mengucapkan selamat tinggal pada saya. Dia sudah tahu dan mempersiapkan segalanya dengan baik. Dia pergi ke rumah sakit dengan tenang dan bersiap-siap untuk berkontribusi sebagai Silent Mentor,” kata ibu relawan De Zhi.


Dia sangat tenang. Dia memiliki tekad yang teguh bagai tekad Bodhisata Ksitigarbha. Dia mengambil keputusan itu karena memiliki tekad yang teguh. Dengan pikiran yang jernih, dia bisa memahami kebenaran. Jadi, dengan memahami Dharma, kita akan memiliki arah tujuan untuk kembali pada sifat hakiki kita. Jika bisa memahami Jalan Agung, kita bisa menumbuhkan jiwa kebijaksanaan. Jika bisa memahami Jalan Agung, kita bisa menumbuhkan jiwa kebijaksanaan. Kini, kita harus sangat bersungguh hati. Bagaimana memahami pengetahuan dan pandangan Buddha serta kembali pada sifat hakiki kita? Ingatlah, kita harus bersungguh hati. Kita harus membangkitkan sifat hakiki kita serta memahami ajaran Buddha dan mempraktikkannya dalam keseharian.

“Kami membantu warga kurang mampu. Ya, lihatlah. Kami membantu orang yang kekurangan. Ya, membantu yang membutuhkan. Kami juga melakukan daur ulang. Kami tidak memandang perbedaan agama dan bangsa,” Kata Chang Yulin, “Jika ada uang kecil, bisa dimasukkan ke dalam celengan bambu. Kemudian, celengan ini bisa dikembalikan pada kami. Kami akan menggunakannya untuk menolong warga kurang mampu.


Dengan terjun ke tengah masyarakat dan memahami kebenaran lewat masalah yang dihadapi berarti kita telah memasuki ladang pelatihan. Kita tidak kehilangan arah. Inilah tujuan kita melatih diri. Kita harus ingat untuk pengetahuan dan pandangan Buddha. Jika tidak, saat ketidakkekalan datang, kita tidak tahu harus pergi ke mana. Hingga saat itu, semuanya sudah terlambat. Jadi, kita harus bersungguh hati.

Tekun menyelami Dharma dengan tulus

Menggali ladang batin hingga mata air spiritual mengalir

Membawa manfaat besar dengan tekad yang teguh dan jernih

Memahami kebenaran lewat masalah yang dihadapi dan kembali pada sifat hakiki

Ceramah Master Cheng Yen tanggal 10 Juni 2018

Sumber: Lentera Kehidupan - DAAI TV Indonesia,

Penerjemah: Hendry, Karlena, Marlina, Li Lie

Ditayangkan tanggal 12 Juni 2018
Dengan keyakinan, keuletan, dan keberanian, tidak ada yang tidak berhasil dilakukan di dunia ini.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -