Minggu, 21 April 2019
Indonesia | English

Intisari Dharma: Kesadaran Akan Jalinan Karma


Dalam kehidupan, ada banyak orang yang cocok dengan kita dan ada beberapa lainnya yang entah mengapa tidak kita sukai. Walaupun orang tersebut mungkin baik dan menyenangkan, entah apa alasannya, ketika kita melihatnya, sebuah perasaaan tidak suka yang sangat kuat muncul tanpa diminta. Hanya dengan melihat mereka perasaan hati kita bisa berubah, tetapi kita bahkan tidak tahu mengapa kita bereaksi begitu negatif terhadap mereka. Tanpa bisa kita kendalikan, sikap kita menjadi sangat buruk—nada kita tajam, kata-kata kita kasar. Mengapa ini terjadi?

Alasan dari penolakan ini terletak pada hubungan buruk yang sudah pernah terjalin dengan orang tersebut di kehidupan lampau; dalam ajaran Buddha, kita menyebutnya jalinan jodoh buruk.

Namun, sama seperti kita yang dapat menjalin jodoh buruk dengan orang lain, jodoh baik pun dapat dijalin. Ketika kita menjalin jodoh baik dengan seseorang pada kehidupan lampau, maka pada kehidupan ini, secara alami kita akan menyukai mereka. Karena menyukai mereka, apa pun yang mereka katakan akan terdengar cukup benar dan masuk akal. Bahkan ketika pan­dangan mereka sebenarnya menyimpang atau salah, kita menaruh kepercayaan kita pada mereka dan meyakini bahwa mereka benar. Oleh sebab itu, bahkan ketika mereka menuntun kita untuk melakukan hal-hal yang salah, kita dengan rela mengikuti mereka dan percaya bahwa mereka adalah orang-orang baik yang melakukan hal benar. Ini disebabkan oleh jalinan jodoh baik yang kita miliki dengan mereka.

Ada sebuah kisah tentang Buddha, muridnya yang bernama Ananda, dan seorang wanita miskin; kisah ini dapat menggam­barkan kekuatan dari jalinan karma. Ketika Buddha datang ke desanya, wanita miskin ini merasa kesal pada Buddha. Segera setelah melihat-Nya, ia tidak menyukai Buddha dan tidak dapat menerima apa pun yang Beliau ajarkan. Namun, ketika wanita ini melihat Ananda, ia sangat menyukainya dan tertarik kepadanya. Ketika Ananda membabarkan ajaran Buddha, ia sangat gembira mendengarnya dan merasa bahwa ajaran ini sangat bermanfaat.

Ini terjadi akibat adanya jalinan karma di antara ketiganya pada kehidupan lampau. Pada kehidupan sebelumnya, wanita itu telah kehilangan anaknya dan sangat bersedih. Seorang praktisi spiritual yang melewatinya di sisi jalan melihatnya menangis dan menanyakan alasannya. Namun, ketika tahu bahwa air matanya disebabkan wanita itu menangisi kematian anaknya, ia dengan tenang menjelaskan bahwa tidaklah perlu untuk berduka, karena kematian tidak lain adalah hukum alam.

Perilakunya yang kurang berempati dan kata-katanya yang blak-blakan terasa sangat dingin dan kejam bagi sang wanita, membuatnya merasa marah dan tersakiti. Kemudian, seorang praktisi lainnya kebetulan melewati jalan yang sama dan juga berhenti untuk bertanya mengenai alasan di balik air matanya. Setelah mengetahui kematian anak sang wanita, praktisi ini dengan welas asih menghiburnya sambil berbagi pandangan Buddha mengenai kehidupan dan kematian. Praktisi yang pertama adalah Buddha Sakyamuni pada kehidupan itu; yang kedua adalah Ananda. Karena adanya jalinan karma yang terbentuk pada saat itu, maka pada kehidupan ini, wanita ini tidak menyukai Buddha pada pandangan pertama, walaupun Beliau adalah seorang Buddha. Seperti itulah dampak dari jalinan karma.

Terbentuknya jalinan karma banyak berhubungan dengan sikap dan perilaku kita. Oleh karenanya, kita harus sangat bersungguh hati dan sadar dalam kehidupan sehari-hari.

Kita juga perlu memahami bahwa perasaan baik maupun buruk terhadap orang-orang dalam kehidupan kita, terjadi akibat jalinan karma yang terbentuk pada kehidupan-kehidupan sebelumnya. Jalinan karma ini mewarnai pandangan kita mengenai baik atau buruknya orang tersebut. Jika kita dapat menyadari hal ini, maka meskipun kita merasa sangat tidak suka terhadap seseorang, kita dapat mulai mengubah pandangan kita terhadap mereka dan berhasil mengatasi perasaan negatif kita.

Kemudian kita dapat mulai mengubah jalinan karma yang ada—karena pada setiap saat, kita sesungguhnya memiliki ke-sempatan untuk menciptakan jalinan karma yang baru dengan orang lain.

Akan tetapi, jika kita terus mempertahankan pendapat bahwa orang tersebut tidak baik dan menolak untuk mempertimbangkan bahwa mungkin pandangan kita dipengaruhi oleh jalinan karma, kita akan terus melangsungkan jalinan jodoh buruk yang ada.

Jika kita dapat sungguh-sungguh memahami keberadaan dan dampak dari jalinan karma, kita dapat mengubah hubungan kita dengan orang lain. Ini adalah contoh latihan kesadaran yang harus kita lakukan dalam keseharian.

Hukum Karma

Buddha datang ke dunia ini untuk mengajar dan membimbing orang-orang agar menyadari kebenaran hidup. Salah satu dari ajaran-Nya yang paling penting adalah tentang hukum karma. Walaupun kita tidak dapat merasakannya atau melihatnya, karma mengatur kehidupan keseharian kita.

Beberapa tahun yang lalu seorang desainer datang menemui saya. Ada hal yang membuatnya sangat risau dan bingung. Ia terbiasa bekerja dengan perusahaan besar dan telah membantu perusahaan ini meraih keuntungan besar melalui hasil karyanya. Karena banyak desainnya yang terjual dengan nilai baik, ia mencoba untuk menjalankan bisnis sendiri. Setelah meninggalkan pe­rusahaan ini, ia merancang sebuah produk baru yang menurutnya adalah salah satu hasil karya terbaiknya. Akan tetapi, setelah di­produksi dan dijual di pasaran, produk ini tidak diterima dengan baik. Akhirnya ia kehilangan seluruh tabungannya dan terjerumus dalam utang.

Apa yang ia lakukan? Ia mendatangi mantan atasannya untuk bertanya apakah perusahaan lamanya tertarik untuk mem­beli hak paten darinya. Tahu bahwa memang ia adalah desainer yang bagus, mantan atasannya melihat potensi dari desain baru ini. Mantan atasannya membeli hak patennya dan mulai mem­produksi. Produk ini sukses di pasaran dan sang mantan atasan mendapatkan keuntungan besar.

Produknya sama, tetapi hasilnya sama sekali berbeda. Desainer tersebut tidak habis pikir. Ia begitu terganggu. Mengapa ia harus kehilangan begitu banyak uang sedangkan mantan atasannya mendapatkan hasil berlimpah dengan menjual produk yang sama?

Saya menjelaskan kepadanya pemahaman tentang hukum karma. Kesuksesan dalam setiap usaha kita bergantung pada karma baik yang telah kita ciptakan dan jalinan jodoh baik kita dengan orang lain. Jika kita menciptakan banyak karma buruk dan sedikit karma baik, walaupun kita bekerja keras, keberuntungan tidak akan ada di sisi kita.

Melihat sekitar kita, ada banyak orang dengan keberun­tungan yang beragam. Beberapa lahir di keluarga miskin, tetapi melalui kerja keras, mereka dapat keluar dari kemiskinan. Ada orang-orang yang lahir di keluarga kaya raya dan terpandang, tetapi tiba-tiba jatuh miskin karena suatu musibah.

Ketika karma berbuah, kita tidak mungkin bisa menghindarinya. Cara yang dapat kita lakukan adalah dengan memahami hukum karma dan sejak awal tidak menciptakan karma buruk.

Sifat buah karma juga tidak akan pernah berubah. Buah karma akan matang pada waktunya, entah di kehidupan ini, kehidupan berikutnya, atau di ber­bagai kehidupan yang akan datang. Benih-benih karma tidak akan menghilang meski telah ditanam sekian lama.

Buddha ingin agar orang-orang memahami cara kerja karma. Karma baik menghasilkan keberuntungan; karma buruk menghasilkan kemalangan. Sekali kita memahami prinsip ini, kita akan tahu bagaimana berperilaku agar tindakan-tindakan kita menghasilkan karma baik, bukan karma buruk.

 

Sumber: Buku KEKUATAN HATI

Penulis: Master Cheng Yen

Penerjemah: Amelia Devina

Artikel dibaca sebanyak : 832 kali


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Sikap jujur dan berterus terang tidak bisa dijadikan alasan untuk dapat berbicara dan berperilaku seenaknya.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat