Rabu, 21 Agustus 2019
Indonesia | English

Master Bercerita: Ayah dan Anak Pesulap

Kehidupan bagaikan sebuah panggung. Di atas panggung, kita mungkin berperan sebagai pengemis, tetapi dengan berganti kostum, peranan kita bisa berubah menjadi pangeran, pahlawan, ataupun pelajar.

Singkat kata, sesuai peranan yang dimainkan, tindakan dan penampilan kita akan berbeda-beda. "Aku" yang sesungguhnya ialah "aku" yang berperan sebagai pengemis ataukah yang berperan sebagai pangeran? Sesungguhnya, segala fenomena di dunia ini tidak kekal dan tidak pasti. Jadi, tidak ada "aku" yang sesungguhnya. Ini bagaikan pertunjukan sulap di atas panggung. Tangan pesulap yang tadinya kosong ditutupi dengan saputangan, lalu muncul seekor burung di tangannya. Bagaimana burung yang hidup ini muncul dari saputangan yang lembut? Tidak ada orang yang tahu selain pesulap tersebut.

 

Di sebuah desa, pada Tahun Baru Imlek, semua orang pergi ke kantor pejabat untuk menyampaikan ucapan selamat Tahun Baru Imlek kepada para pejabat. Pada hari itu, banyak orang yang berkumpul di luar kantor pejabat. Setelah pintu dibuka, hakim daerah pun keluar. Dia duduk di tengah dan pejabat lainnya duduk di kedua sisinya. Setelah mereka duduk, warga mulai mendekat, bersujud, dan menyampaikan ucapan selamat Tahun Baru Imlek.

Sepasang ayah dan anak berjalan maju dan berkata kepada hakim daerah, "Saya dan putra saya berpindah-pindah tempat untuk mencari nafkah. Berhubung saat ini adalah Tahun Baru Imlek, kami bisa mempersembahkan sulap di sini."

 

Hakim daerah lalu berkata padanya, "Sulap apa yang bisa kalian persembahkan? Apa keahlian kalian?"

Sang ayah berkata, "Saya bisa mengubah musim."

Setelah berpikir-pikir, hakim daerah berkata, "Begini saja, sekarang adalah musim dingin, saya menginginkan sebuah persik.”

Sang ayah berkata pada putranya, "Saat ini, di mana kita bisa menemukan buah persik?"

Putranya berkata, "Ayah, saat ini, buah persik hanya ada di tempat Wangmu Niangniang di alam surga."

Sang ayah berkata, "Meski harus pergi ke alam surga, kita juga harus mencuri sebutir persik

untuk dipersembahkan kepada Yang Mulia."

Putranya berkata, "Bagaimana cara kita pergi ke alam surga?"

Sang ayah berkata, "Kita harus memikirkan caranya.”


Dia lalu mengeluarkan seutas tali dari kotak peralatannya. Kemudian, dia melempar talinya ke langit. Dari tali tersebut, hanya tersisa sepotong yang bisa dijangkau dari permukaan tanah.

Saat itu, ada sebagian orang yang berkata, "Wah, hebat sekali."

Sang ayah berkata pada putranya, "Tadinya, harusnya ayah yang naik ke atas, tetapi kini ayah sudah lanjut usia sehingga tidak bisa memanjat. Sebaiknya kamu yang naik karena gerakanmu lebih gesit dan lebih kuat."

Putranya berkata, "Langit begitu tinggi dan tali ini begitu halus. Bagaimana jika saya terjatuh?"

Dengan wajah memelas, sang ayah berkata, "Putraku, demi kredibilitas Ayah, kamu tetap harus naik meski itu membahayakan nyawamu."


Putranya lalu memanjat tali itu. Dia terus-menerus memanjat. Saat putranya menghilang dari pandangan, tali tersebut putus dan jatuh. Saat semua orang terkejut, sang ayah menangis sambil berkata, "Putra saya tidak bisa turun lagi. Talinya telah putus."

Tiba-tiba, sebutir persik jatuh dari langit. Sang ayah segera mengambil buah persik dan mempersembahkannya kepada hakim daerah. Saat semua orang memandangi buah persik, tiba-tiba jatuh satu kepala dari langit. Melihat kepala ini, sang ayah berkata, "Ini adalah kepala putra saya."

Tak lama kemudian, jatuh kaki dari langit, lalu jatuh tangan dari langit. Sambil menangis, sang ayah memasukkan kepala, tangan, dan kaki tersebut ke dalam kotak peralatan. Kemudian, dia melepas pakaian luarnya untuk menutupi kotak peralatan. Semua orang memusatkan perhatian padanya.


Sang ayah tersenyum dan mengetuk kotak peralatan dengan pelan, dan berkata, "Putraku, pertunjukan kita sudah selesai. Kamu boleh keluar sekarang." Dia lalu membuka kotaknya dan putranya berdiri dalam keadaan baik-baik saja. Trik apa yang digunakan oleh pesulap ini sehingga semua orang yang menontonnya merasa bahwa itu sangat menakjubkan? Dalam pertunjukan tersebut, apakah putranya benar-benar memanjat tali ke alam surga? Apakah kepala dan kakinya benar-benar jatuh dari langit? Tidak. Itu hanyalah trik yang sering digunakan oleh pesulap. Bukankah kehidupan juga demikian? Tidak ada yang kekal di dunia ini. Manakah "aku" yang sesungguhnya? Sesungguhnya, "aku" hanyalah sebuah kata ganti.


Tubuh ini mengalami fase lahir, tua, sakit, dan mati. Jadi, tidak ada wujud yang kekal. Apakah masa bayi adalah "aku" yang sesungguhnya? Apakah masa balita yang menggemaskan adalah "aku" yang sesungguhnya? Ke mana pula "aku" pada masa remaja dan muda yang penuh harapan? Ke mana "aku" yang sebelumnya? Kelak, apakah mungkin saya hidup hingga berusia 80, 90, 100, atau 120 0tahun? Saya tidak tahu. Jadi, kita tidak bisa kembali ke masa lalu, juga tidak bisa memastikan masa depan.


Jadi, di mana "aku" yang sesungguhnya? Kehidupan bagaikan ilusi, untuk apa kita bersikap perhitungan dan membanding-bandingkan? Berhubung telah naik ke atas panggung kehidupan ini, maka yang terpenting ialah bagaimana memainkan peran kita sebaik mungkin. Jadi, kita harus senantiasa memperhatikan perbuatan diri sendiri. Dengan menjaga perbuatan dan tidak menyimpang dari arah yang benar, berarti kita telah berhasil memainkan peran kita dalam panggung kehidupan ini.

 

Sumber: Program Master Cheng Yen Bercerita (DAAI TV)

Penerjemah : Hendry, Karlena, Merlina (DAAI TV Indonesia)

Penyelaras : Hadi Pranoto

Artikel dibaca sebanyak : 278 kali


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Seulas senyuman mampu menenteramkan hati yang cemas.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat