Rabu, 21 Agustus 2019
Indonesia | English

Master Bercerita: Monyet yang Berhati Baik

Sifat hakiki manusia ialah bajik. Ini merupakan pandangan kita bersama yang sangat kita yakini. Demikianlah yang Buddha ajarkan pada kita. Buddha terus membuktikan bahwa sifat hakiki manusia ialah bajik. Setiap orang memiliki sifat hakiki yang murni. Sifat hakiki ini sepenuhnya tidak ternoda dan sangat murni tanpa pikiran buruk sedikit pun.

Perlu kita ketahui bahwa perbuatan baik atau buruk, semuanya berawal dari pikiran. Setiap orang terlahir dengan pikiran murni. Kita harus senantiasa menjaga pikiran, memupuk cinta kasih, dan berpikir di posisi orang lain agar bisa kembali pada sifat hakiki kita. Sesungguhnya, bukan hanya manusia, semua makhluk hidup memiliki sifat hakiki yang bajik dan murni.


Ada sebuah kisah singkat yang sangat sederhana. Di sebuah hutan, terdapat seekor anak monyet. Anak monyet ini memiliki hati yang murni dan sangat pintar.

Suatu hari, ayahnya berlari sambil berteriak, "Gawat. Terjadi kebakaran di hutan. Kita harus segera meninggalkan hutan ini."

Ayahnya berkata pada ibunya, "Ayo, kemasi makanan kita. Kita harus segera pergi."

Ayahnya juga berkata monyet itu, "Kamu juga kemasi barang-barangmu. Kita harus menyelamatkan diri."

Anak monyet ini sangat patuh. Ia segera mengambil sebuah buku kesayangannya dan memasukkannya ke dalam tas. Namun, setelah memanjat ke atas pohon untuk memetik pisang, ia lupa mengambil tasnya. Ia langsung lari bersama ayah dan ibunya.


Di tengah jalan, ia berkata, "Saya lupa mengambil buku dan tas saya."

Ayahnya berkata, "Lupakan saja, nyawa lebih penting."

Ia berkata, "Tidak bisa, itu adalah buku kesayangan saya." Ia bersikeras untuk pulang mengambilnya.

Ibunya berkata, "Kamu boleh pulang mengambilnya. Asalkan berlari melawan arah angin, kamu akan selamat."

Anak monyet ini benar-benar berlari pulang. Setelah mengambil tasnya, ia segera berlari melawan arah angin.

Di tengah jalan, ia melihat seekor musang tua. Ia pun bertanya, "Nenek, mengapa tidak lekas lari? Apinya akan merambat ke sini."

Musang tua itu berkata, "Saya sudah tua, tidak kuat berlari lagi."

Anak monyet ini berkata, "Nenek, saya bisa menggendongmu."

Demi menyelamatkan diri, musang tua itu lalu melompat ke punggung anak monyet. Anak monyet segera berlari dengan cepat.


Kemudian, ia melihat seekor tikus. Anak monyet lalu bertanya, "Mengapa kamu tidak lari?"

Tikus itu berkata, "Saya tidak bisa melihat dengan baik pada siang hari. Karena tidak tahu arah, saya tidak tahu ke mana saya harus lari."

Anak monyet berkata, "Masuklah ke dalam tas, saya akan membawamu lari."

Tikus itu segera melompat ke dalam tasnya. Di ujung jalan, anak monyet ini melihat jurang yang sangat dalam. Ia berpikir, "Apa yang harus saya lakukan?" Ia menengadah dan melihat sebatang pohon pinus yang cabangnya sangat panjang dan dapat menjangkau seberang.

Ia lalu berkata pada musang tua itu, "Pegang erat-erat."

Ia juga berkata pada tikus itu, "Bersembunyilah dengan baik di dalam tas."


Anak monyet ini lalu menarik sulur yang terdapat pada cabang pinus dan berayun ke seberang. Ia berhasil menyeberang sehingga mereka bertiga terselamatkan. Musang tua itu lalu turun dari punggungnya dan berkata, "Kamu penuh cinta kasih. Kamu bagai dewa pelindung gunung ini."

Meski ini merupakan kisah tentang kehidupan hewan di hutan, tetapi kita bisa mengetahui bahwa semua makhluk hidup memiliki sifat hakiki yang murni dan tidak ternoda. Anak monyet ini juga memiliki kebijaksanaan dan cinta kasih yang setara dengan manusia.

 

Jadi, kita harus tahu bahwa sifat hakiki manusia ialah bajik. Sesungguhnya, sifat hakiki semua makhluk ialah bajik. Jika kita tidak terpengaruh oleh kondisi luar dan pikiran kita tidak tercemar oleh ketamakan, kebencian, kebodohan, kesombongan, dan keraguan, maka pikiran kita pasti sangat murni dan kondisi batin kita pasti sangat indah. Contohnya anak monyet itu.

Di dalam hutan terdapat berbagai jenis hewan. Ada yang lemah, juga ada yang buas. Mendengar suara apa pun, ia selalu merasa bahwa dunia ini sangat menakjubkan. Melihat apa pun, ia merasa bahwa itu adalah keindahan dunia ini. Saat bencana terjadi, ia bisa melindungi diri sendiri sekaligus menolong hewan lain. Inilah sifat hakiki yang murni. Para Buddha, Bodhisattva, dan manusia sama-sama memiliki cinta kasih universal yang murni. Kita harus memahami hal ini dan senantiasa menjaga pikiran kita agar tetap murni dan tidak ternoda. Kita harus lebih bersungguh hati setiap waktu.

 

Sumber: Program Master Cheng Yen Bercerita (DAAI TV)

Penerjemah : Hendry, Karlena, Merlina (DAAI TV Indonesia)

Penyelaras : Hadi Pranoto 

Artikel dibaca sebanyak : 380 kali


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Mampu melayani orang lain lebih beruntung daripada harus dilayani.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat