Tanggal : 28 - 07 - 2007

Peresmian Sekolah Terpadu Cinta Kasih Tzu Chi
Jurnalis : Ivana
Fotografer : Anand Yahya
 
foto

* Monumen Cinta Kasih Di Jetis

Sekitar 500 undangan duduk di bawah tenda dan menanti dengan sabar. Sementara di atas panggung, 20 siswi SMAN I Jetis menyanyikan lagu Bagimu Negeri dan Melati di Tapal Batas dengan suara lantang. Ratusan siswa-siswi SDN I Jetis dan SMPN I Jetis dengan serius belajar dalam ruang kelas mereka yang baru, dalam gedung sekolah yang dibangun pascagempa lebih dari setahun lalu, yang peresmiannya akan dilakukan hari ini. Seluruh hadirin tengah menanti kedatangan Gubernur DIY Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X, untuk melakukan peresmian.

Rangkaian acara peresmian dimulai tepat pukul 12.00 setelah Sultan HB X tiba di halaman bangunan baru SDN I Jetis dan SMPN I Jetis. Gedung sekolah yang bertempat di Desa Sumberagung, Kec. Jetis, Kab. Bantul ini mulai dibangun sejak 14 November 2006, sekitar 6 bulan setelah gempa yang meruntuhkan berbagai bangunan di daerah Bantul termasuk sarana-prasarana pendidikan pada tanggal 27 Mei 2006 lalu. Selain itu dilakukan pula renovasi untuk gedung SMAN I Jetis yang juga mengalami kerusakan. Sudah seminggu tepatnya sejak dimulai tahun ajaran 2007/2008, para siswa dapat pindah dari tenda ataupun gubuk sementara yang mereka gunakan sebagai pengganti gedung sekolah yang rusak pascagempa. Sekolah yang baru dibangun ini memiliki konsep sekolah terpadu dari tingkat SD sampai SMA, dengan nama Sekolah Terpadu Cinta Kasih Tzu Chi. Ada 5 sekolah yang tergabung dalam sekolah berpadu ini yaitu SDN Jonggalan, SDN Trimulyo, SDN I Jetis, SMPN I Jetis, dan SMAN I Jetis.

Acara peresmian hampir seluruhnya diisi dengan penampilan dari para siswa. Penampilan itu meliputi tari tradisional, paduan suara, pembacaan puisi, dan peragaan isyarat tangan 'yang baru 2 hari ini mereka pelajari' lagu-lagu Tzu Chi. "Kami merasa bersyukur atas dukungan Pemerintah Daerah DIY serta instansi pendidikan setempat, demikian juga jerih payah relawan Tzu Chi Indonesia sehingga proyek pembangunan kembali gedung sekolah bisa lancar. Sekolah baru ini dibangun dengan memadukan cinta kasih dari berbagai tempat, dirancang dengan sangat cermat, dengan pondasi yang kokoh, bentuk tampilan yang indah nan megah," demikian disampaikan Sugianto Kusuma, mewakili Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia.

Sultan HB X yang dalam sambutannya mengaku lebih berbahagia menghadiri peresmian gedung sekolah dibanding peresmian gedung bank, sebab membangun gedung sekolah merupakan investasi Sumber Daya Manusia, menyatakan, "Dengan pembangunan Sekolah Terpadu Cinta Kasih Tzu Chi yang menggabungkan 3 sekolah dasar negeri, 1 SMP negeri, dan 1 SMA negeri di Jetis, Bantul ini sesungguhnya suatu rintisan rayonisasi pendidikan wajib belajar 12 tahun dalam satu kesatuan pendidikan yang terus secara terpadu." Beliau bahkan menyatakan bahwa konsep ini perlu menjadi percontohan bagi pendidikan di daerah lainnya, sebab dapat memotong pengeluaran uang pangkal yang sesungguhnya tidak perlu ketika seorang siswa akan melanjutkan dari jenjang SD ke SMP, dan dari jenjang SMP ke SMA.

foto  

Gempa yang terjadi setahun lalu telah mengakibatkan sekitar 1.300 fasilitas pendidikan di DI Yogyakarta rusak berat, namun saat ini sekitar 80% telah berhasil dipulihkan. Pemerintah Propinsi menargetkan bahwa hingga akhir tahun 2007 ini, seluruh kerusakan secara fisik dapat dipulihkan secara total sebelum selanjutnya berkonsentrasi pada pemulihan nonfisik seperti bidang ekonomi. Terhadap Tzu Chi, Sultan HB X mengibaratkannya sebagai sebuah samudera yang luas yang mampu menampung semua aliran anak sungai sehingga dapat menggabungkan banyak orang dari latar belakang yang berbeda. Beliau menambahkan bahwa setiap perbuatan yang berlandaskan semangat kemanusiaan memang sudah seharusnya dilakukan dengan manajemen yang baik.

Ketika benang merah ditarik dan selubung merah penutup papan nama sekolah terlepas, maka Sekolah Terpadu Cinta Kasih Tzu Chi secara resmi beroperasi. Peresmian ini dilengkapi pula dengan penandatanganan prasasti oleh Sultan HB X dan Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Liu Su Mei. Sekolah yang dibangun di atas lahan seluas 45.731 meter persegi itu memiliki 48 ruang kelas dan mampu menampung 2.000 siswa. Selain itu dilengkapi pula dengan masjid, fasilitas lapangan olahraga, kantin, perpustakaan, dan ruang-ruang kegiatan untuk siswa.

Di balik terselesainya Proyek Harapan Cinta Kasih Tzu Chi di Yogyakarta tidak lepas dari kerja keras Frananto Hidayat, Koordinator relawan Tzu Chi di Yogyakarta. "Saya bersyukur semuanya bisa berjalan lancar sesuai rencana. Karena bagi saya kerja kemanusiaan ini membawa beban moril tersendiri," ujarnya. Untuk selanjutnya ia menyatakan masih perlu proses untuk menanamkan budaya yang baik dalam diri para siswa agar mereka mempunyai rasa ikut memiliki sekolah serta memiliki kebiasaan hidup yang lebih baik.

 




    Artikel Terkait
    Training Guru Sekolah Tzu Chi Indonesia  (14/07/2011)
 
    Komentar untuk Artikel ini
Mettiko Dahyono @ Kamis, 16 September 2010 | 08:01 WIB
sekedar share aja.. saya merasa senang melihat Yayasan Buddha Tzuchi dalam melaksankan kebajikkan terutama di bidang pendidikan. Tempat kelahiran saya di kaloran Temanggung merupakan Desa yang kurang berkembang baik sarana umum maupun pendidikannya tapi itu dulu setelah saya lulus SMA saya merantau ke luar kota untuk merubah kehidupan siapa tahu nasib lagi mujur bisa dapat kerjaan dan penghasilan yang cukup daripada di kampung.. alhasil setelah bertahun - tahun merantau tidak pulang kampung saya pikir pendidikan di daerah saya sudah maju atau setdaknya ada perubahan yang signifikan tetapi masih sama dengan 10 tahun yang lalu ketika saya meningalkanya.. banyak anak yang pendidikannya hanya sampe smp saja sudah maturnuwun. karena untuk mencari sekolah lanjutan tingkat atas harus ke Temanggung yang menempuh jarak 15km dari kampung saya dan minus angkot.. makanya banyak anak yang gak sekolah lanjutan tingkat atas.. di Kalran sendiri sebagai kecamatan sebenarnya sudah ada 1 SMA swasta tapi ya gak memadai disamping biaya nahal sarana maupun prasarananya kurang dari memadai.. oleh karena itu saya ada harapan kepada Yayasan Buddha Tzu Chi untuk bisa mendirikan Sebuah SLTA ( SMU / SMK ) yang berkualitas dan terjangkau oleh masyarakat desa. apalagi daerah kaloran mayoritas umat Buddha terdapat lebih dari 75 vihara dan cetiya dalam 1 kecamatan dengan jumlah umat lebih dar 10.000 umat tersebar di desa Kalimanggis, Tlogowungu, Getas, Kaloran, Kemiri, Geblog, Gandon, Larangan jayan, Tleter, Ngadisari dsb..jika melihat potensi tersebut sangat disayangkan bila tidak ada kepedulian dari Yayasan Buddha Tzuchi karena yang di harapkan dari Pemerintah tak kunjung datang.. akankah hal ini masih berlanjut sampai 5 atau 10 tahun yang akan datang bahkan lebih dari itu ? kepada siapakah masyarakat desa harus mengadu ? thanks..
Juliber Panggabean,S.Pd @ Kamis, 3 Juni 2010 | 03:54 WIB
Saya berterima kasih atas kehadiran yaysan Budha Tzu Chi karena berbuat kebaikan untuk semua,saya berharap diterima jadi pengurus yayasan yang baik ini terima kasih.
 
Posting komentar anda
 
Nama
Email
Komentar
 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
 
Misi Tzu Chi
 Misi Amal 
 Misi Kesehatan 
 Misi Pendidikan 
 Misi Budaya 
 Kemanusiaan 
 Pelestarian Lingkungan
 Donor Sumsum 
 Relawan Komunitas 
 Bantuan Internasional 
 Kisah Humanis 
Tzu Chi
   Aceh 
   Bandung 
   Bali 
   Batam 
   Biak  
   Jakarta - He Qi Barat 
   Jakarta - He Qi Pusat  
   Jakarta - He Qi Selatan 
   Jakarta - He Qi Timur 
   Jakarta - He Qi Utara 
   Makassar 
   Medan 
   Lampung 
   Padang 
   Palembang 
   Pati 
   Pekanbaru 
   Singkawang 
   Surabaya 
   Tangerang 
   Tanjung Balai Karimun 
   Yogyakarta