Tanggal : 13 - 11 - 2009
Pusat Pengembangan Pertanian Organis Bina Sarana Bakti

Bukan Sekadar Menanam Sayuran Organik
Jurnalis : Sutar Soemithra
Fotografer : Sutar Soemithra
 
foto

Prinsip utama pertanian organik adalah menjaga keseimbangan alam. Pupuk buatan memang bisa meningkatkan produktivitas, namun dampak jangka panjangnya justru merugikan. Pupuk buatan memang memberikan zat-zat makanan yang dibutuhkan tanaman namun justru mematikan bakteri penggembur tanah sehingga setelah pemakaian pupuk, tanah menjadi keras. Tanaman organik dikembangkan menggunakan teknologi alami. Kesuburan tanah dipertahankan dengan pupuk alam, seperti kompos dan pupuk kandang. Hasilnya, tentu lebih sehat.

 

Kandungan gizi, terutama mineral pada sayuran dan buah organik jauh lebih baik. Cita rasanya juga lebih lezat karena lebih renyah, lebih manis, dan lebih tahan lama.

Secara sepintas, penampilan fisik sayuran dan buah organik tidak terlalu berbeda dengan sayuran dan buah konvensional pada umumnya. Begitu juga dengan rasanya. Bagi yang indera perasanya tidak terlalu sensitif mungkin tidak terlalu bisa membedakan rasa keduanya. Tapi jika dilihat dari kandungan gizi dan residu pestisida yang terkandung di dalamnya, sangat jauh berbeda.

Kandungan gizi, terutama mineral pada sayuran dan buah organik jauh lebih baik. Cita rasanya juga lebih lezat karena lebih renyah, lebih manis, dan lebih tahan lama. Sayuran dan buah konvensional memiliki kandungan air yang tinggi sehingga kurang manis dan cepat busuk. Selain unggul dalam nutrisi dan cita rasa, tanaman organik juga ramah terhadap kesehatan karena bebas dari residu pestisida dan bahan kimia berbahaya. “Tanaman organis rendah bakteri ekoli,” ujar Sudaryanto, pengelola harian Pusat Pengembangan Pertanian Organis Bina Sarana Bakti (BSB) Cisarua, Bogor, Jawa Barat menyebut salah satu bakteri penyebab diare. Penggunaan pupuk buatan dan pestisida meninggalkan residu di dalam tanah yang kemudian diserap oleh tanaman dan kita konsumsi. Racun ini bila menumpuk berlebih di tubuh manusia akan mendatangkan bermacam penyakit seperti radang sendi, rematik, kadar kolesterol tinggi, gangguan reproduksi karena menurunkan produksi sperma laki-laki, hingga menyebabkan kanker.

Menjaga Kesuburan Alami Tanah
Tidak salah jika beberapa orang mulai beralih mengonsumsi tanaman organik yang lebih ramah terhadap kesehatan, dan juga lingkungan. Tanaman organik adalah semua tanaman yang berasal dari organisme hidup. Organik sendiri mengacu ke sesuatu yang mengandung karbon. Seharusnya semua bahan pangan yang mengandung unsur karbon disebut organik, termasuk yang ditanam dengan pupuk kimia dan mengandung pestisida. Tetapi masyarakat lebih mengenal istilah organik sebagai bahan pangan yang dibudidayakan secara organik, tanpa pestisida atau pupuk buatan. Sedangkan BSB lebih senang menyebut tanaman organik dengan sebutan tanaman organis.

Tanaman organik dikembangkan menggunakan teknologi alami. Kesuburan tanah dipertahankan dengan pupuk alam, seperti kompos dan pupuk kandang. “Tebasan tanaman bisa jadi pupuk kompos. Semua bisa dimanfaatkan. Kalau panen pisang, pisang diambil, pohonnya untuk pupuk,” ujar Sudaryanto memberi contoh. Pupuk alam ini menyebabkan populasi cacing tanah meningkat sehingga tanah menjadi kaya akan nitrogen sehingga subur secara alami. “Intinya adalah menjaga kesuburan dan kesehatan tanah. Organisme di tanah berkembang sehingga membantu menyediakan makanan bagi tanaman,” jelasnya.

Menurut Sudaryanto, prinsip utama pertanian organik adalah menjaga keseimbangan alam. Pupuk buatan memang bisa meningkatkan produktivitas, namun dampak jangka panjangnya justru merugikan. Pupuk buatan memang memberikan zat-zat makanan yang dibutuhkan tanaman namun justru mematikan bakteri penggembur tanah sehingga setelah pemakaian pupuk, tanah menjadi keras. “Peranan mikroorganisme diambil alih manusia dengan pupuk buatan. Semakin manusia mengambil alih peran alam, alam menjadi tidak sesuai mekanisme. Ketika di alam yang dominan cuma satu, alam pasti akan hancur,” jelas insinyur pertanian lulusan Universitas Gadjah Mada yang telah menekuni tanaman organik di Bina Sarana Bakti sejak berdiri tanggal 7 Mei 1984 ini.

 

   foto

 

Perlakuan serupa juga ditujukan terhadap hama. Hama tidak dimatikan secara serempak, namun juga tidak dibiarkan bebas. Tindakan yang ditempuh adalah mengendalikan perkembangannya dan “memagari” areal tanaman menggunakan musuh alami hama. Sudaryanto menyebut tanaman tomat, kunyit, dan basil sebagai beberapa contoh tanaman yang mengeluarkan bau yang tidak disukai hama sehingga dapat mengusirnya dari areal tanaman. Selain dengan tanaman, pengendalian hama juga dilakukan dengan penyemprotan pengusir hama nabati daun pahitan (titonia) atau daun mindi. Penggunaan pestisida memang efektif untuk membunuh hama, namun sama seperti pupuk buatan, hanya efektif untuk jangka pendek karena justru bisa membunuh mikroorganisme yang bermanfaat untuk menyuburkan tanah. Pestisida alami memang hanya menekan pertumbuhan hama, namun memiliki manfaat jangka panjang karena tidak mengganggu mikroorganisme penyubur tanah.

Gaya Hidup Organis
Bina Sarana Bakti didirikan bukan sekadar untuk menghasilkan tanaman organik, namun yang terpenting adalah mengembangkan gaya hidup organis. Bina Sarana Bakti didirikan oleh seorang pastor kelahiran Swiss, Pastor Agatho Elsener yang telah tinggal di Indonesia sejak tahun 1960-an. “Saya memulai setelah membaca buku The One Straw Revolution karya Masanobu Fukuoka,” kenang Pater, begitu ia biasa dipanggil. Pada awalnya ia mendirikan BSB karena menganggap pertanianlah yang langsung merusak tanah dan lingkungan namun merupakan mata pencaharian utama masyarakat Indonesia.

Seiring berjalannya waktu, BSB melibatkan warga sekitar perkebunan di Sampay, Tugu Selatan, Cisarua dan kini telah mempekerjakan 100 orang. Setiap Senin dan Kamis, Bina Sarana Bakti memanen sekitar 1,5 ton sayur dan buah yang kemudian dipasarkan ke agen sayur organik dan juga supermarket.

Setelah menjalankan pertanian organik, Pater menyadari bahwa bukan teknik pertanian organik yang menjadi dasar perbaikan, melainkan sikap petani. Karenanya cara hidup organis kemudian menjadi lebih ditekankan. Sikap organis adalah suatu pandangan yang berprinsip ‘Setiap organ (alam-red) melayani organisme (manusia-red), dan setiap organisme memelihara seluruh organnya’. Dengan kata lain, alam menyediakan kekayaan bagi manusia, tapi manusia harus memelihara alam agar selalu bisa menyediakannya, bukan malah merusaknya. “Saya datang dari Swiss bukan tanam dan jual sayur organis, tapi saya mau jual sikap organis. Bukan pertanian organis yang penting, tapi sikap organis yang menentukan segala-galanya,” tegas Pater.  

 

 

 
 
    Komentar untuk Artikel ini
Lie Kho Ing @ Jumat, 13 November 2009 | 11:32 WIB
Saya sangat tertarik dengan pengembangan sayuran organik dari Bina Sarana Bakti. Apakah saya bisa mendapatkan alamatnya? karena kebetulan saya bekerja di supermarket di Jakarta, mungkin saja bisa membantu menyebarkan konsumsi sayuran organik tersebut. salam Kho Ing
 
Posting komentar anda
 
Nama
Email
Komentar
 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
 
Misi Tzu Chi
 Misi Amal 
 Misi Kesehatan 
 Misi Pendidikan 
 Misi Budaya 
 Kemanusiaan 
 Pelestarian Lingkungan
 Donor Sumsum 
 Relawan Komunitas 
 Bantuan Internasional 
 Kisah Humanis 
Tzu Chi
   Aceh 
   Bandung 
   Bali 
   Batam 
   Makassar 
   Medan 
   Lampung 
   Padang 
   Pati 
   Pekanbaru 
   Singkawang 
   Surabaya 
   Tangerang 
   Yogyakarta